Daddy I Love You

Daddy I Love You
Apartement


__ADS_3

...🌿🌿🌿🌿...


Tepat jam 02 siang, mobil yang dikendarai Ritz memasuki kawasan elit Apartement milik salah satu properti sang Eyang.


Si cantik kesayangan belum menyadari kalau mereka telah sampai.


Selama perjalanan Ritz sengaja memberi obat tidur pada gadis itu agar tidak merasakan mual dan pusing.


Mobil sudah terparkir rapih di lobi Apartement, dengan penuh kehati-hatian Ritz mengangkat tubuh mungil Ayana keluar dari dalam mobil meski sedikit kesusahan.


Di sana sudah ada dua orang pelayan menyambut kedatangan sang Tuan muda setelah di beri tahu beberapa saat yang lalu.


"Selamat datang Tuan muda," sapa keduanya secara bersamaan.


"Tolong kalian bawa masuk beberapa barang dalam bagasi mobil!" titah Ritz sambil berbicara pelan takut mengganggu ketenangan sang pujaan hati.


Kaki panjangnya melangkah pelan menuju lift yang langsung terhubung ke lantai dua tepat dimana kamar milik nya berada.


Kebetulan Apartemen milik sang Eyang bukan bersusun, melainkan seperti kawasan perumahan elit.


Bangunan yang di bangun dengan desain memiliki tiga lantai di setiap Apartement, itu sebabnya Ritz mudah masuk ke dalam tanpa susah payah.


TRINGG!


Pintu lift terbuka, dengan pelan Ritz berjalan keluar menuju salah satu kamar tidak jauh dari posisi kereta besi tersebut berada.


Sedikit kesulitan pria tampan itu membuka pintu kamarnya dikarenakan kedua tangan miliknya di gunakan untuk menggendong Ayana, beruntung dari arah sudut ruangan muncul seorang wanita berusia sekitar 45 tahun tengah berjalan cepat ke arah mereka.


Wanita itu merupakan satu-satunya orang yang di percayakan Ritz bebas keluar masuk di lantai atas.


"Tuan muda sudah datang?" tanya sang Bibi pada Ritz.


"Iya Bi, belum lama sampai." Jawab singkat Ritz

__ADS_1


"Bisa tolong Bibi bukakan pintu!" pintanya sedikit kesusahan sebab Ayana semakin erat memeluk lehernya.


Wanita itu mengangguk paham kemudian membukakan pintu kamar dengan cepat.


CEKLEK!


"Silahkan Tuan muda," ucapnya setelah pintu kamar terbuka lebar.


Tanpa menunggu lama Ritz memasuki kamarnya, perlahan tubuh mungil Ayana di letakkan ke atas ranjang.


Gerakkan yang di lakukan Ritz sekalipun tidak mengganggu tidur nyenyak gadis kesayangannya itu, sudah tiga jam lamanya Ayana tertidur karena pengaruh obat yang ia berikan.


CUP!


"Jangan nangis ya sayang," bisik Ritz pelan setelah mencium sayang kening Ayana.


Pria itu bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi guna membersihkan diri, rasa lelah dan pusing ia rasakan setelah memasuki kamar mandi.


"Apa yang harus aku lakukan nanti," de sah pria itu mengingat sesuatu.


Tidak ingin mendengar jeritan Ayana saat tidak melihatnya di dalam kamar, Ritz memilih cepat membersihkan dirinya.


15 menit kemudian ia keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas pinggang, dugaan Ritz tepat sasaran ketika melihat mata ngantuk Ayana mulai terbuka dan mencarinya.


"Daddy," seru si cantik setelah matanya terbuka sempurna.


Ayana menjerit pelan melihat tubuh kekar bagian atas sang Daddy tanpa busana, entah ini sudah yang ke berapa kali matanya di buat ternoda.


"Sudah bangun sayang," sahut Ritz berjalan pelan ke arah tempat tidur.


CUP!


Ciuman singkat mendarat sempurna di bibir Ayana.

__ADS_1


"Daddy habis mandi?" tanya si cantik dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hmm, tubuh Daddy lengket penuh keringat jadi mandi sebentar." Jawab Ritz yang melangkah pelan menuju lemari pakaian


Pria itu masuk lagi ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian, lima menit kemudian ia keluar lengkap dengan memakai kaos hitam dan celana pendek.


"Mau langsung mandi atau jalan-jalan sebentar?" tanya Ritz ikut duduk di sisi tempat tidur.


Harum aroma tubuh pria itu menyeruak sampai di indra penciuman Ayana, begitu nyaman dan menenangkan.


"Peluk Daddy ajah deh, soalnya Ayana lagi malas mau ngapa-ngapain sekarang." Jawab Ayana dengan gerakan sudah berpindah tempat duduk di atas pangkuan Ritz.


"Nyamannya pelukan pacar," gumamnya di barengi kekehan


Senyum Ritz terukir indah mendengar kata Pacar keluar dari mulut gadis kesayangannya tersebut.


"Bukannya calon suami ya?" goda Ritz seraya mengeratkan pelukannya di tubuh mungil Ayana.


"No, Daddy. Belum waktunya untuk Ayana menganggap Daddy sebagai calon suami," ralat si cantik tanpa melepas pelukannya dari Ritz.


Terlalu cepat menurut Ayana bila mengatakan pria tampan yang kini mulai membuka hati untuknya sebagai calon pendamping atau imam nya kelak, masih ada masalah yang jauh lebih penting harus di selesaikan Ritz jika memang mereka di takdirkan bersama.


"Hanya kamu yang akan menjadi tempat Daddy pulang, tidak ada yang lain." Ungkap Ritz meyakinkan hati gadis kesayangannya yang mungkin masih belum sepenuhnya percaya.


Hati Ayana tersentuh mendengar kata pulang dari mulut pria pujaannya, siapa yang tidak akan merasa bahagia bila mendengarnya.


"Bolehkah Ayana bersikap egois Daddy?" pintanya menatap serius wajah tampan Ritz.


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan sayang, apa yang ada pada Daddy juga menjadi milik mu seutuhnya." Jawab Ritz kembali memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah cantik gadis manjanya.


Tidak akan puas menurut Ritz memberikan yang terbaik untuk gadis cantik yang selama tujuh tahun ini menjadi alasan ia hidup dan bertahan.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


__ADS_2