
...🍁🍁🍁🍁...
Amalia di buat panik dan juga khawatir setelah mendapat kabar dari seorang wanita yang bertugas membersihkan lantai paling atas mengatakan, jika dia melihat ada gadis cantik kesayangan sang Bos sedang berdiri kaku tepat di depan pintu ruangan milik sang Presdir.
"Ya ampun ini gimana jadinya tuh anak udah sampai di lantai atas sih?" kesal Amalia begitu panik.
Bayangan akan wajah polos tanpa tahu apa pun milik gadis kecil kesayangannya itu terus menari di pelupuk matanya.
"Bisa gawat kalau sampai Ayana mendengarkan semuanya," gumamnya sembari menggigit jari telunjuknya demi menghilangkan rasa gugup.
Beberapa karyawan yang menyapa wanita cantik kepercayaan sang Presdir itu seakan di abaikan tanpa membalas sapaan mereka.
Amalia hanya fokus pada satu sosok yang di yakininya pasti sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
.
.
TRINNN!
Ketika pintu lift sudah terbuka, hal yang pertama kali di lihat Amalia yaitu gadis cantik dengan balutan dress warna putih selutut.
Tedengar suara isakan tangis kecil keluar dari bibir mungil merah muda milik gadis itu yang kebetulan arah lift dengan pintu ruangan milik sang Presdir lumayan dekat.
Aku benci keadaan seperti ini. Jerit Amalia dalam hati
Sebelum dua orang dewasa di dalam ruangan tersebut mengetahui keberadaan Ayana, cepat-cepat Amalia membawa gadis cantik nan malang itu pergi dari depan pintu ruangan dan masuk ke dalam ruangan sekertaris alias ruangannya sendiri.
Klek!
Pintu ruangan segera di kunci Amalia, takut jangan sampai keberadaan Ayana di ketahui sang Bos dan wanita cantik yang bernama Nyonya Syifana Mahestra tersebut.
Tatapan mata Amalia langsung tertuju pada Ayana, tidak pernah dia duga jika akan ada saat di mana kebenaran yang seharusnya belum waktunya di ketahui oleh Ayana pada akhirnya justru dengan telinga gadis cantik itu sendiri mendengar semuanya.
"Ayana sayang, hey. Ini Aunty," bisik Amalia lembut tepat di telinga gadis cantik itu.
Tangis Ayana semakin histeris dan menjadi-jadi, otaknya masih belum bisa mencerna dengan baik setiap kalimat yang tanpa sengaja di dengarnya.
"Sstt, it's okay. Semua akan baik-baik saja," ucap Amalia berusaha menenangkan.
__ADS_1
Sebagai seorang wanita dewasa yang di angkat menjadi sekertaris pribadi sekaligus kepercayaan dalam menjaga dan mengawasi putri angkat dari pewaris tunggal Mahendra, tentu Amalia memiliki tanggung jawab yang besar.
Menjadi sosok tegar dan mandiri ketika mengemban tugas yang di berikan oleh perusahaan sudah biasa baginya sebagai wanita karir.
Tetapi menjadi penengah sekaligus penenang bagi gadis cantik nan manja kesayangan keluarga Mahendra bukan lah sesuatu hal yang mudah untuk Amalia lakukan.
Dalam hal ini posisinya jauh lebih sulit dan menguras emosi, terlebih selama ini setiap kali ada masalah dalam keluarga Mahendra, Amalia turut ikut campur tangan dalam mencari jalan keluar.
...****...
Hampir satu jam lamanya si gadis kesayangan sang Bos menangis bak anak kecil yang tidak di beri susu oleh ibunya, selama itu juga peran Amalia menjadi sosok paling di butuhkan.
.
.
"Ayana cengeng banget ya Aunty?" kekeh gadis cantik itu masih sesegukan.
"Ngga cengeng kok, Aunty senang kalau Adek bisa kuat kayak gini" jawab Amalia sembari menghapus sisa-siaa kebasahan di wajah cantik gadis itu.
"Air matanya ajah yang nakal, udah di bilangin jangan keluar tapi susah Aunty" adunya merengek manja.
Rasa sakit di hati Amalia melihat Ayana menangis tidak sebanding dengan rasa sakit yang gadis cantik itu rasakan kala mengetahui fakta mengenai siapa sosok wanita cantik yang selalu di panggilnya Bibi Cantik tersebut.
"Ayana mau Daddy," ucapnya lirih penuh kerinduan terhadap sosok pria tampan pengisi hatinya itu.
"Tapi jangan dulu deh, nanti kalau Ayana kesana bisa-bisa yang ada malah memperkeruh keadaan. Iya kan Aunty?" tambah Ayana sembari melirik ke arah Amalia dengan tersenyum sangat manis.
"Kesayangan Aunty makin tambah dewasa ajah nih," goda Amalia penuh rasa haru dan kagum akan sikap dewasa yang di perlihatkan gadis cantik di hadapannya itu.
Lama mereka berpelukan saling menyalurkan perasaan yang entah bagaimana caranya mencari rasa nyaman dan aman, yang jelas keberadaan Amalia menjadi penenang terbaik Ayana.
"Aunty tahu ngga?" seru Ayana tiba-tiba.
"Ngga tahu," jawab Amalia dengan kekehan menahan geli akibat perutnya di mainkan gadis cantik itu.
"Ish, bukan gitu jawabnya" protes Ayana dengan mata memicing.
"Ok, ok. Kita ulangi lagi," balas Amalia pasrah.
__ADS_1
Meski kelihatan kesal namun gadis cantik berusia 18 tahun itu kembali mengulang perkataannya.
"Gini, Aunty tahu ngga?" ulang Ayana bertanya.
"Apa tuh?" jawab Amalia menahan tawanya.
"Bibi cantik yang berada dalam ruangan Daddy itu siapa?"
"Mau Aunty jawab jujur atau bohong nih?"
"Hadeh, langsung jawab bisa kan" ketus Ayana mulai gemas sendiri.
"Haha, maaf sayang." Ucap Amalia sudah tertawa
"Mmm gini, jadi sebenarnya wanita cantik itu namanya Nyonya Syifana Mahestra. Usia beliau sekarang menginjak 35 tahun tepat bulan depan, beliau juga merupakan satu-satunya pewaris tunggal seluruh harta kekayaan milik keluarga Mahestra Group." Sambungnya menjelaskan siapa sosok wanita cantik di dalam ruangan milik sang Presdir tersebut
Ayana mengangguk paham seraya mengetuk jari telunjuk di dagunya seakan berpikir.
"Jadi benar dong kalau Bibi Cantik itu adalah ibu kandung Ayana?" tebaknya yang hanya di balas anggukan kepala dari Amalia.
"Dan dia juga merupakan seorang pengusaha kaya raya macam Daddy?" lagi hanya anggukan kepala yang Amalia berikan.
Binar bahagia semakin terpancar indah dari sorot mata indah milik Ayana, tidak tahu apa saja yang ada dalam pikiran gadis cantik kesayangan keluarga Mahendra tersebut.
Cukup lama Amalia menahan sabar demi menunggu kalimat apa lagi yang akan keluar dari bibir mungil nan kemerahan gadis cantik itu, matanya langsung melotot sempurna dengan mulut yang menganga ketika mendengar satu kalimat mutlak yang menurut Amalia sangat sulit di bantah keluar begitu saja dari mulut Ayana.
.
.
.
"Asik. Kalau memang benar Bibi Cantik, eh salah maksud Ayana kalau Mami Syifana adalah wanita cantik sukses pengusaha kaya raya. Itu tandanya berarti Ayana juga merupakan seorang Putri Pengusaha yang cantik dan kaya raya dong." Pekik gadis itu kegirangan
Tidak peduli dengan tanggapan Amalia yang begitu shok mendengar apa yang baru saja keluar dari mulutnya, bagi Ayana sekarang bukan lah saatnya untuk bersedih atau marah-marah tidak jelas.
Cukup tahu jika dia ternyata berasal dari keluarga yang terhormat sudah pasti kedepannya Ayana bisa sedikit sombong dan memperlihatkan siapa dirinya pada semua orang yang dulu pernah menyakitinya.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1