
...πΏπΏπΏπΏπΏ...
Baik antara Ritz dan Ayana sama-sama saling menguatkan diri, takdir yang telah mempertemukan mereka dengan cara yang unik, namun takdir juga yang membuat keduanya berada di antara cinta dan status.
...****...
Ayana segera melepaskan pelukannya setelah di rasa cukup, apa yang membuat hatinya sesak tidak lagi terasa setelah semuanya di keluarkan.
Ya, gadis cantik yang memiliki tubuh mungil namun sedikit bar-bar itu nekat mengungkapkan semua isi hatinya di hadapan seorang pria tampan yang sudah lama mengisi hatinya.
Sebuah rasa yang dulunya hanya di pendam dan di tahan diam-diam sampai hampir merenggut nyawanya sendiri.
Siapa sangka pria tampan yang dulunya menjadi penyebab gadis itu hampir kehilangan nyawa, saat ini justru dengan ketulusan hati memintanya bukan sebagai anak angkat lagi melainkan sebagai seorang istri.
Ritz dengan nekat melamar putri angkatnya sendiri tepat di hari ulang tahun gadis itu, terbilang gila dan membuat siapa saja yang tahu akan syok dan pingsan.
Bagaimana reaksi seluruh keluarga pria itu nanti, bila mengetahui kebenaran yang selama ini hanya beberapa orang yang tahu.
Bukan hanya keluarga Ritz yang akan mendapat sorotan publik, tetapi pihak wanita yang selama ini menyandang status sebagai kekasih Ritz pun akan ikut terseret.
Hampir satu jam lamanya Ayana terus memperdebatkan masalah lamaran yang di buat Ritz, berulang kali memberi pengertian namun tetap saja sikap keras kepala pria itu sudah mendarah daging.
"Jangan gila Daddy, mana bisa begini?" kata Ayana masih belum bisa menerima keputusan sepihak Ritz.
Apa yang akan orang pikirkan tentang gadis itu nanti?
Jika Ayana sampai di minta untuk menjadi pasangan pria itu, lalu wanita cantik yang masih menjadi kekasih atau lebih tepatnya calon istrinya bagaimana?
Bukankah hubungan keduanya masih dalam proses menuju ikatan tali pernikahan?
Tidak ada wanita yang akan terima begitu saja ketika mengetahui pria yang menjadi calon suaminya justru melamar orang lain.
Parahnya lagi dia bukan dari orang luar, tetapi seorang gadis cantik yang baru saja menginjak usia 18 tahun tepat di malam ini.
Terlalu muda untuk seorang Ritz yang sekarang sudah berusia 32 tahun lebih, bisa di katakan mereka terpaut usia kurang lebih 15 tahun.
Jangan sampai Ritz di sebut pedofil.
__ADS_1
#Ops
...****...
Perdebatan terus berlangsung, keduanya tidak ada yang mau mengalah.
"Cukup jawab saja Iya atau Tidak!" ujar Ritz penuh penekanan.
"Daddy jangan bercanda," bantah Ayana tak kalah ikut emosi.
Di kira nikah itu gampang.
"Apa aku perlu persetujuan dari mu?" sentak Ritz sedikit membentak.
"Daddy benar-benar sudah gila," heran Ayana tak habis pikir.
Apa keputusan Eyang sengaja memisahkan mereka selama satu bulan telah membuat pola pikir Ritz hancur berantakan? Tapi bagaimana bisa?
Jangan-jangan pria tampan itu diam-diam meminum obat anti depresi atau membodohi diri, tapi mana ada hal seperti itu? Masa iya, cuma karena di pisahkan sebentar saja bisa membuat sisi kewarasan satu-satunya pewaris tunggal harta kekayaan Rendra telah hilang.
"Yaa, dan gila ku karena dirimu." Balas Ritz santai tanpa beban sedikit pun
"Benarkah?" cebik Ayana dengan tatapan mengejek.
"Hmm," jawab pria itu seadanya.
Ayana mati kesal menghadapi kelakuan Ritz yang seolah olah mempermainkannya. Diam sejenak sambil mencari cara yang tepat untuk menghadapi kegilaan pria itu.
Akan tetapi, tidak ada lagi jalan keluar kecuali membereskannya dengan cepat.
"Daddy yakin dengan keputusan yang Daddy ambil sekarang?" tanya Ayana sekali lagi, mungkin dia harus lebih sabar.
"Harus berapa kali aku menjawabnya?" kesal Ritz mulai geram sendiri.
"Ini benar-benar di luar ekspetasi Daddy," pikiran Ayana semakin kacau.
"Daddy sadar ngga sih, apa yang akan mereka katakan nanti bila tahu seorang gadis kecil yang manja dan berstatuskan anak angkat dari pria tampan bernama Alfaritz Rendra kurang lebih selama hampir 8 tahun, sekarang berubah menjadi calon istri dari pria tersebut." Tutur Ayana berbicara panjang lebar
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Lagi pula tidak ada salahnya kita menikah," selak Ritz.
"Okok, terserah Daddy yang jelas Ayana belum ingin menerima cincin itu." Balas Ayana sambil matanya melirik ke arah tangan kanan Ritz.
"No, kamu harus memakainya sekarang juga!" protes Ritz keras kepala.
"Jangan bersikap kekanakan Daddy,"
"Pakai atau malam ini jangan harap kita akan puang ke rumah,"
DEG!
Kalimat ancaman Ritz terdengar mengerikan di indra pendengaran Ayana, dapat di lihatnya sorot mata tajam pria itu tidak lah main-main.
"Daddy egois tahu ngga," lirih Ayana menatap sendu wajah pria tampan yang kini tengah menyematkan sebuah cincin berlapiskan berlian di jari manisnya.
Terlihat pas seolah itu sengaja di ukir khusus untuknya.
...****...
Lama Ayana menenangkan pikirannya yang sempat kacau, semua begitu cepat bagai mimpi.
"Cantik," puji Ritz ketika jari manis gadis itu terpasang cincin.
CUP!
"Jangan pernah di lepas!" pinta Ritz seraya memainkan jemari lentik Ayana.
.
.
Jika malam ini Daddy nekat melamar Ayana, terus dia bagaimana?
Satu kalimat pertanyaan dari mulut gadis itu yang harus di jawab Ritz.
πππππ
__ADS_1