Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (23) Lamaran di Tunda


__ADS_3

...🌸🌸🌸🌸🌸...


Sepeninggal Radit, semua orang memborong Ritz dengan berbagai macam pertanyaan.


"Apa maksud dari ucapan Radit barusan?" Tanya Eyang


"Iya Ritz, kok mama sama papa ngga tau apa-apa." Sambung mama Ritz


"Pak Bos, bicaralah! Kalau anda diam semua masalah tidak akan selesai." Timpal Amalia


Sementara Devan memilih diam menyaksikan, sesekali matanya melirik ke arah brankar dimana Ayana masih tertidur begitu lelapnya.


Ritz benar-benar akan menyesal jika sampai mengabaikan gadis itu, apa cuma gue aja yang sadar dengan perilaku gadis itu. Gumam Devan berbicara dalam hati


"Hey Ritz, jangan membuat kami marah padamu." Kesal Mama Ritz mulai hilang kesabarannya


Sementara Ritz, masih diam tanpa ingin menjawab berbagai pertanyaan yang di tujukan padanya. Semua hal yang terjadi begitu tiba-tiba membuat otaknya sulit berpikir, apa ia melupakan sesuatu? Pikirnya.


"Kalian jangan banyak bertanya dulu, aku sendiri pun bingung apa yang sebenarnya terjadi." Sahut Ritz mulai memijit kepalanya yang terasa pusing


"Aku ingin istirahat sejenak, perihal apa yang di katakan Radit tadi. Jika kalian masih ingin mencari tau, maka carilah anak itu dan tanyakan langsung padanya! Aku perlu menenangkan pikiranku sekarang." Lanjutnya sudah berpindah tempat berbaring di sisi kiri Ayana


Brankar yang berukuran beberapa kali lipat lebih besar itu, tentu mampu menampung hingga lima orang.


Entah kemana perginya semua orang saat Ritz membuka mata sejenak dan tidak mendapati keluarganya termasuk Amalia dan Devan sang sahabat di dalam kamar, yang jelas ia tidak mau ambil pusing.


...*****...


Keesokan harinya, semua keluarga sudah bersiap untuk kepulangan Ayana dari rumah sakit, bosannya si cantik yang tidak suka tinggal berlama-lama di tempat yang penuh dengan bau obat-obatan itu tentu membuat heboh pihak rumah sakit termasuk Devan.


Berkali-kali Devan memohon serta merayu Ayana, agar mau menginap sampai beberapa hari lagi tetap tidak membuahkan hasil apapun. Hanya ada penolakan dan kekesalan yang ia dapatkan.


"Pipi marah loh kalau adek tetap bersih keras pulang ke rumah." Ucap Devan mulai kehilangan cara menghadapi sikap keras kepala Ayana


"Kan tinggal ke rumah Daddy kalau mau cek kondisi adek, kenapa Pipi malah jadi kayak tante Maira sih suka keras-keras kalau bicara." Jawab Ayana sedikit protes


Devan sampai menganga mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ayana, beberapa tahun tidak bertemu nyatanya ada begitu banyak yang berubah pada gadis itu.


Sikap keras kepalanya, cueknya, mudah marah-marah dan bermulut pedas yang dapat Devan nilai mulai mendarah daging di dalam diri Ayana.


Ritz benar-benar tidak salah membawa anak nakal ini. Bathinnya berbicara


"Okok, tapi adek janji ya. Jangan ulangi lagi kesalahan yang sama! Ngurung diri dalam kamar itu bukan sesuatu hal yang baik, sayang." Sahut Devan akhirnya mengalah


Tidak lupa ia juga memberi beberapa vitamin dan satu buah laptope yang bisa Ayana gunakan untuk menonton berbagai macam film yang tidak mengandung kekerasan atau segalah sesuatu yang memicu masalah Psikologis nya.


Devan sengaja menyiapkannya guna membantu proses kesembuhan Ayana agar berjalan dengan baik, sudah bisa di pastikan isi film dalam laptop yang Devan berikan semuanya berbau kartun dan anime.


"Kenapa semua isinya kayak gini sih, Pih?" Tanya Ayana gemas ingin mencakar wajah tampan Devan


"Itu bagus untuk kesehatan otak dan juga hatimu," Jawab Devan santai

__ADS_1


"Pipi." Teriak Ayana kesal


"Sstt, ingat! Adek punya rahasia loh sama Pipi, mau Pipi bocorin nah?" Ancam Devan tidak takut


Mata Ayana membulat sempurna dengan tangan mengepal kuat menahan geram.


Awas saja kalau sampai Daddy tau. Bathin Ayana menatap tajam ke arah Devan


Tidak ada lagi perdebatan yang berlangsung antara Devan dan Ayana, mengingat hari sudah semakin siang.


Semua anggota keluarga sudah menunggu di dalam mobil, tinggal Ritz dan Ayana yang belum keluar dari rumah sakit.


Lima menit kemudian semua sudah siap, Ayana ikut semobil dengan Eyang dan orang tua Ritz. Sementara Amalia dan Ritz bukan pulang menuju rumah, tujuan mereka adalah pergi ke perusahaan.


Sepanjang perjalanan Amalia terus memperhatikan apa saja yang di katakan Ritz, namun ada satu poin yang dengan cepat di bantah wanita itu.


"Apa. Bos minta saya untuk mengatasi kekacauan di kantor sampai besok?" Kaget Amalia bertanya


"Lama-lama mulut kamu kena sobek ya, setiap kali aku bicara selalu saja ada yang akan kamu bantah." Kesal Ritz


"Tapi ngga sampai nyiksa juga kan, Bos." Balas Amalia dengan nada lesuh


"Hanya kamu yang bisa aku andalkan, Amalia." Gemas Ritz


"Ok. Tapi aku mau bonusnya harus naik," Balas Amalia


"Iya."


"Hmm."


"Bos seriusan?" Tanya Amalia memastikan, sebab apa yang di katakannya barusan sama sekali tidak di bantah Ritz


"Semua ada di tanganmu, asal semua selesai tanpa ada yang kurang. Aku tidak keberatan dengan semua permintaan mu itu." Jawab Ritz sudah keluar dari dalam mobil


Mereka sudah tiba di Perusahaan, tanpa menunggu lama Ritz langsung naik ke lantai atas menggunakan lift khusus bersama Amalia.


...*****...


Bila di rumah Ritz penuh kehebohan karena kepulangan Ayana dari rumah sakit, berbeda dengan kediaman atau lebih tepatnya rumah milik orang tua Maira.


Di rungan kerja yang tidak terlalu besar, terdapat seorang pria yang mengamuk seperti orang kesetanan. Kabar yang baru saja di terimanya sungguh membuat Hendra marah besar, masalahnya itu bukan sesuatu yang seenaknya di ubah.


"ALMA," Teriak Hendra dari dalam ruangannya


Wanita cantik yang duduk santai bersama sang putri di dalam kamarnya itu sampai terlonjak kaget, mendengar teriakan keras Hendra.


"Papa kenapa lagi sih, Mah?" Tanya Maira mulai takut bila sang papa sudah berteriak


"Entahlah, lebih baik kita pergi lihat papa mu!" Jawab Alma bangkit dari duduk segera keluar kamar sambil menggandeng putrinya


Dari arah luar kedua wanita itu bisa dengan jelas mendengar suara pecahan yang tidak tau itu apa, tidak ingin menerka-nerka baik Alma maupun Maira putrinya segera masuk ke dalam ruangan Hendra.

__ADS_1


DEG.!


Semua barang berhamburan di atas lantai, barang pecah yang tadi mereka dengar pun ikut berserakan di mana-mana.


"Ya ampun, papa. Kenapa semua bisa berantakan begini?" Kaget Alma tidak percaya akan melihat aksi gila suaminya sendiri


"Mereka sudah gila, Mah." Teriak Hendra


"Mereka benar-benar ingin bermain-main dengan kita," Lanjutnya masih berteriak


Alma yang tidak mengerti pun mencoba untuk menenangkan suaminya.


"Duduklah, Pah! Kita bicarakan baik-baik, OK." Rayu Alma menuntun Hendra ke sofa panjang di luar ruangan


Dirasa mulai tenang baru Alma kembali buka suara, berharap kali ini suaminya tidak mengamuk.


"Papa kenapa? Kalau ada apa-apa kan bisa cerita ke mama," Tanya Alma dengan nada yang lembut


"Keluarga Bachtiar." Jawab Hendra singkat


Maira dan Alma saling pandang tanda tidak mengerti dengan apa yang pria itu katakan.


"Ada apa dengan keluarga Bachtiar?" Tanya Maira ikut penasaran


Hendra diam sesaat sebelum menjawab, matanya menatap nyalang ke depan.


"Keluarga kekasih mu itu benar-benar naif, dengan gampangnya menunda acara lamaran yang sudah ditetapkan akan dilangsungkan dua bulan lagi." Jawab Hendra menggebu-gebu bahkan napasnya terlihat naik turun


Maira tidak percaya dengan apa yang dikatakan papanya.


"Ish, papa ngomong apa coba? Mana mungkin itu bisa terjadi." Selaknya berpikir sang papa hanya membual


"Mana bisa gitu sayang? Mereka sendiri yang mengajukan tanggal lamaran pada putri kita, jadi mustahil kalau sampai di tunda." Sambung Amalia


Melihat ekspresi anak dan istrinya membuat Hendra semakin marah.


"Apa kalian pikir aku berbohong? Lihatlah isi email yang di kirim Nyonya besar Bachtiar! Semua tertulis jelas di situ, mereka bebas melakukan apa saja karena lamaran ini bersifat tidak terbuka, lalu bagaimana dengan kita yang sudah menyebarluaskan kabar ini?" Sarkas Hendra


Alma dan Maira segera meraih laptop yang di sodorkan Hendra, dimana ada sebuah email masuk di kirim dari pihak keluarga Bachtiar.


Kedua wanita itu langsung syok setelah membaca kalimat demi kalimat yang di kutip sang Nyonya besar Bactiar, pemberitahuan yang mampu mengguncang jiwa Maira selaku pihak yang paling dirugikan.


.


.


.


.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


Like dan komennya jangan lupaπŸ˜“


__ADS_2