
Sepulang dari makan malam yang berubah menjadi kencan romantis antara Ayah dan Anak angkat itu.
Kini mobil yang membawa mereka sudah sampai di halaman depan rumah, entah apa yang terjadi di dalam mobil. Sesekali sang sopir harus menahan tawanya agar tidak pecah keluar, melihat kelakuan Ayana.
"Daddy ngga boleh turun kalau Ayana ngga di gendong." Ancam gadis cantik itu masih berada dalam mobil bersama Ritz
"Iya, nanti Daddy gendong, OK? Tapi Daddy harus keluar dulu biar geraknya ngga susah sayang." Sahut Ritz terus merayu
"Ngga mau, Daddy ..." Keukeh Ayana enggan bangkit dari atas pangkuan Daddy nya
"Susah loh sayang kalau mau turun." Keluh Ritz benar-benar di uji kesabarannya
Beginilah kalau Ayana sudah kenyang dan mengantuk, jika tubuhnya sudah melekat pada Ritz untuk mencari rasa nyaman. Jangan harap bila gadis itu mau dilepas walau hanya sebentar saja.
"Ayana ngantuk Daddy," rengeknya dengan mata mulai berkaca-kaca
_Ya ampun Ritz, harus sabar. Ok, jangan sampai gadis ini mengamuk, ini gimana cara turunnya sih_. Umpat Ritz berbicara dalam hati
Sang sopir yang tidak tahan lagi melihat kelakuan putri dari majikannya, sontak memilih keluar mobil lebih dulu.
Ceklek
"Mari Tuan Muda, saya akan menjaga kepala Nona muda agar tidak terbentur saat turun." Pria tua berusia sekitar 45 tahun itu membukakan pintu samping di mana Ritz tengah duduk kesusahan
"Maaf ya Paman, sudah merepotkan." Ritz tidak merasa enak hati
Meski sikapnya jika berada di luar rumah sangat berbeda, tetapi ia akan bersikap ramah dengan orang-orang yang dekat dengannya.
"Makasih Paman, bawa pulang saja mobilnya. Besok pagi baru balik lagi," ucap Ritz pada sopirnya sebelum masuk ke dalam rumah.
"Baik Tuan Muda, kalau begitu saya pamit pulang." Jawab pria tersebut
Ritz hanya mengangguk, ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah dimana sudah ada seorang wanita menyambut di depan pintu utama.
"Selamat malam, Tuan muda." Sapa wanita itu dengan sopan
"Malam Bibi, kamarnya sudah beres?" balas Ritz langsung bertanya
"Sudah, Tuan muda."
Ritz segera naik ke lantai atas menggunakan lift, senyumnya tidak lepas menatap sayang putrinya yang terlelap.
_Tring_
Pintu terbuka, dengan langkah pelan ia keluar dari dalam lift menuju kamar yang terletak di samping ruang baca miliknya.
Ceklek
Sedikit susah tangannya meraih gagang pintu karena menggendong Ayana.
Ia berjalan menuju tempat tidur segera membaringkan putri angkatnya tersebut.
"Eeugh, Daddy jangan pergi." Gumam Ayana dalam keadaan tidak sadar
"Ckck, apa anak ini sedang bermimpi."
Rutz yang merasakan gerah akibat selama perjalanan pulang terus memangku putrinya, memilih masuk ke dalam kamar mandi setelah dirasa Ayana kembali tenang.
__ADS_1
Hanya sepuluh menit yang dibutuhkan Ritz untuk mengguyur tubuhnya di bawah shower, rasa lelah dan kantuk mulai ia rasakan.
Baru saja pria itu membuka pintu, suara teriakan Ayana sangat kuat membuat Ritz cepat-cepat keluar dari kamar mandi.
"Sayang ada apa?" Ritz begitu panik saat melihat putrinya duduk sembari terisak kecil.
"Daddy jahat, Daddy ninggalin Ayana lagi." Tangisnya mulai pecah
Ritz yang khawatir ikut naik ke atas ranjang, meraih tubuh Ayana yang menangis.
"Ssst, jangan menangis sayang. Maaf, tadi Daddy lagi di kamar mandi, Daddy ngga kemana-mana." Rayunya menenangkan
"Ayana kira Daddy pergi keluar. Ayana ngga mau di tinggal, Ayana ngga suka Daddy pergi menemui tante Maira." Adu gadis itu yang tiba-tiba saja beranggapan jika hilangnya Ritz karena menemui tunangannya
"Daddy ngga kemana-mana sayang, udah ya jangan menangis lagi. Daddy janji ngga akan pergi, asal Ayana berhenti menangis dan tidur lagi. Ok"
Gadis cantik yang masih terisak itu mengangguk paham, rasa takutnya bila di tinggal pergi oleh Ritz membuat hatinya sakit.
"Daddy beneran ngga pergi kan?" tanyanya memastikan.
Pelukannya di tubuh Ritz begitu erat seakan takut kehilangan.
"Ngga sayang, Daddy temani Ayana tidur. Matanya di tutup lagi yaa!" Rayu Ritz mencium lama kedua mata putri angkatnya tersebut
Entah apa yang tengah gadis itu rasakan, ini pertama kalinya Ayana bersikap manja dan sensitif.
Sebelumnya gadis itu mungkin hanya akan merajuk, tapi malam ini jauh berbeda. Putrinya bertingkah seakan takut jika ia akan pergi jauh.
Lima menit kemudian terdengar deru nafas yang beraturan membuat Ritz yakin jika putrinya kembali terlelap. Karena lelah dan juga mengantuk ia pun ikut tertidur menyusul Ayana menuju alam mimpi.
Jam sudah menunjukkan angka 06, tetapi si cantik yang semalam sempat menangis tiba-tiba, belum juga bangun.
Ceklek
Ritz yang baru saja selesai mandi melangkah pelan kearah tempat tidur.
Dalam keadaan hanya memakai handuk sebatas pinggang dengan rambut setengah basah. Ia mengganggu putrinya dengan sengaja mencium seluruh wajah gadis itu.
"Mmm, Daddy nakal ih." Rengek Ayana membuka matanya sedikit
"Bangun sayang, nanti Daddy sudah pergi baru kamu mengamuk."
Ritz membangunkan putrinya dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang, masih sangat jelas wajah kantuk Ayana membuat pria itu merasa gemas. Ia bangkit dari duduk melangkah pelan menuju lemari pakaian, disana sudah ada satu setelan jas lengkap dengan barang lain yang di butuhkannya.
Ayana biasa menyiapkan keperluan Daddy nya secara diam-diam meski tidak mengeluarkannya dari dalam lemari, ada satu ruangan khusus menaruh pakaian yang akan pria itu kenakan.
Tentu Ritz tahu siapa yang melakukannya meski Ayana suka mengelak tidak mau berkata jujur.
Hampir lima belas menit Ayana berdiam diri dalam kamar, Ritz yang sudah turun terlebih dahulu duduk santai di ruang tengah sambil memerika beberapa email yang masuk di kirim oleh Radit.
_Tak tak tak_
Bunyi sepatu hak sedikit tinggi begitu menggelitik telinga Ritz yang belum menyadari keberadaan putrinya.
DOORR.
Ayana sukses membuat Daddy nya terlonjak kaget, hampir saja ponsel Ritz terjatuh jika tidak dengan cepat di tahan gadis itu.
__ADS_1
"Gadis nakal," gertak Ritz menyusul si pelaku yang berlari kearah ruang makan.
"Daddy kalau belum kaget ngga seru namanya." Sahut Ayana terkekeh
Tiba di ruang makan, pasangan Ayah dan Anak angkat itu, segera memulai sarapan mereka dengan tenang tanpa adanya obrolan.
Usai sarapan, keduanya berjalan keluar rumah setelah berpamitan. Ritz akan mengantar putrinya lebih dulu ke kampus sebelum ia pergi ke perusahaan.
Wajah ceria Ayana begitu cerah dan terlihat sangat cantik, kulit putih dan mulus tanpa cacat itu selalu di jaga dan di rawatnya dengan baik.
Selama tujuh tahun, Ritz menjaga putrinya dengan baik. Ia tidak ingin Ayana sampai ada goresan sedikit saja, meski hanya gigitan nyamuk yang kecil, Ritz dengan tingkat posesif juga sangat protektif akan murka.
Intinya, jangan sampai Ayana lecet walau hanya sedikit.
"Cepat pulang rumah kalau tidak ada lagi yang akan di kerjakan, OK." Pesan Ritz saat mobil sudah tiba di depan pintu gerbang kampus putrinya
"Siap Sayang, eee salah. Siap Daddy ..."
Ayana benar-benar salah tingkah saat tidak sengaja memanggil Daddy nya dengan sebutan Sayang.
Ritz yang sempat kaget pun hanya tersenyum manis tanpa menghiraukan panggilan putrinya.
"Jangan nakal ya, kalau cepat pulang boleh ke kantor asal jangan berulah lagi." Ucapnya kembali berpesan
Gadis cantik itu hanya mengangguk, sejak tadi matanya terus memandang wajah tampan Daddy nya.
Ritz yang sadar tengah di tatap putrinya, sontak mendekatkan wajahnya sampai hidung keduanya saling bersentuhan.
"Daddy ..."
Ciuman yang tiba-tiba mendarat sempurna di tempat yang tidak seharusnya, kedua mata Ayana membulat tidak percaya dengan apa yang barusan di lakukan Ritz.
"Daddy."
Ritz tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Ayana mulai memerah seperti tomat.
"Turunlah! sebentar lagi jam masuk kuliah, hubungi Daddy jika ada sesuatu."
Lagi-lagi pria tampan itu mengecup lama bibir ranum putrinya yang kemerahan.
"Daddy curang, mau cium ngga bilang-bilang." Dengus Ayana mulai kesal
"Jangan ngambek mulu, entar cantiknya hilang. Daddy hanya melakukan apa yang di inginkan putri Daddy, salahnya di mana coba." Sindir Ritz tepat sasaran membuat Ayana salah tingkah
"Aau aaa, Daddy nakal. Ayana ngga mau semobil lagi bareng Daddy, mulutnya suka benar kalau mau cium." Kekehnya yang detik berikutnya kembali membalas ciuman Daddy nya dengan cepat.
Ayana segera keluar dari mobil meninggalkan Ritz yang tercengang.
"Waah, sudah mulai berani ya sekarang." Teriak pria itu masih bisa di dengar Ayana
Dia hanya melambaikan tangan tanpa melihat kearah belakang.
Lalu apa kabar dengan sang sopir yang diam membeku dibalik kemudi menyaksikan drama antara Ayah dan Anak itu?
Ia yang tidak tahu apa-apa harus ekstra sabar cukup menutup mata dan telinganya.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1