
Sejak pagi, ponsel Ritz tidak pernah berhenti berbunyi. Telefon dan juga pesan dari Maira sudah memenuhi ponselnya.
"Ngga di angkat, Dad?" Tanya Ayana tidak sengaja melihat sebuah nama yang tertulis di layar ponsel milik pria itu
Ritz menggeleng cepat.
"Jangan buat Daddy marah sayang." Gemas Ritz mulai menggelitik putrinya
Ayana terus meminta ampun agar Ritz mau berhenti, suara tawa dan teriakan keras dari dalam kamar terdengar sampai keluar. Beberapa pelayan sedang mengerjakan tugas mereka sampai dibuat kaget, mendengar keributan yang berasal dari dalam kamar.
"Itu bukannya suara Tuan muda Ritz?"
"Benar. Tuan muda sedang bersama putrinya."
"Putri? Sejak kapan Tuan muda memiliki anak? Bahkan menikah saja belum pernah."
"Hustt, jangan mencari tahu yang bukan urusan kita. Kalau sampai Nyonya besar mendengarnya, jangan salahkan aku tidak memperingatkan kalian."
Semua langsung bungkam saat kepala pelayan wanita tiba-tiba datang dan menghampiri mereka.
Di dalam kamar, Ritz tidak henti-hentinya merenggut kesal karena ulah Ayana.
"Daddy ngga mau sayang," tolak Ritz tidak menurut.
"Nanti Eyang marah loh, Dad."
"Bodo amat."
Si cantik yang bingung harus melakukan apalagi, hanya bisa pasrah saat Ritz masih keukeh tidak ingin keluar dari dalam kamar.
Sementara di lantai bawah, semua orang sudah menunggu mereka untuk makan siang bersama.
"Ritz dan Ayana kemana?" Tanya Eyang saat tidak mendapati ayah dan anak itu di ruang makan
"Ngga tahu Mih, terakhir aku lihat tadi mereka masih duduk santai di ruang tengah." Jawab Mama Ritz
"Panggil Bi Inah kemari!" Titah Eyang pada salah satu pelayan
Beberapa saat kemudian, Bi Inah datang dari arah dapur.
"Nyonya besar manggil Bibi?" Tanya Bi Inah dengan wajah menunduk hormat
"Iya, maaf ya Bi. Saya mau minta tolong sama Bi Inah bisa?"
"Mau minta tolong apa, Nyonya?"
"Coba Bi Inah periksa di lantai atas kamar ketiga dari kanan, lihat kalau Ritz ada disana!"
Bi Inah terdiam sejenak sebelum menjawab, hal itu membuat Eyang dan orang tua Ritz keheranan.
"Bi Inah kenapa?" Tanya Mama Ritz melihat wanita berusia 40 tahun itu hanya diam saja belum melakukan tugasnya
__ADS_1
"Anu, itu Nyonya." Jawab Bi Inah gugup
"Ada apa?" Eyang ikut bertanya merasa ada yang aneh dengan gelagat Bi Inah
"Itu, Tuan Muda Ritz dan Nona Ayana," balas Bi Inah sedikit ragu mengatakan yang sejujurnnya.
"Ada apa dengan mereka Bi?" Mama Ritz begitu penasaran sampai memaksa Bi Inah bicara meski harus dengan cara di ancam
"Maaf Nyonya, itu Tuan muda dan Nona Ayana lagi di kamar." Jawab Bi Inah cepat tanpa berani mengangkat wajahnya
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Bi Inah, sontak Eyang bangkit dari tempat duduk meninggalkan ruang makan.
Semua yang berada disana terdiam kaku, melihat wanita baya itu sudah naik ke lantai atas menggunakan lift khusus.
"Mami mau ngapain, sayang?" Tanya Papa Ritz pada istrinya
"Mana aku tahu." Jawab sang istri singkat
Pasangan suami istri itu memilih duduk tenang sembari menunggu yang lainnya untuk sarapan.
.
.
_Tring_
Ketika pintu lift terbuka, cepat-cepat Eyang melangkah keluar dengan raut wajah menahan emosi. Langkah kakinya berhenti tepat di depan kamar.
Bunyi suara pintu yang di ketuk Eyang cukup kuat.
Ritz yang kaget hampir saja terjatuh dari ranjang mendengar suara wanita kesayangannya mulai berteriak. Sedangkan Ayana mulai panik sendiri, sangat takut bila sampai dia akan di marahi Eyang.
Dari arah luar Eyang terus memanggil nama Ritz, tanpa menghentikan tangannya mengedor pintu semakin keras.
"Ritz, buka pintunya!" Teriak Eyang mulai kehilangan batas kesabarannya
Melihat yang di panggil hanya terdiam kaku, akhirnya Ayana turun dari ranjang menuju pintu dan segera membukanya.
Klek
Baru saja pintu terbuka setengah, Eyang dengan cepat masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan si cantik masih berdiri kaku tepat depan pintu kamar.
Dapat Ayana dengar begitu jelas bagaimana Eyang memarahi cucu kesayangannya, teriakan kecil dan rintihan yang keluar dari mulut Ritz sangat menggelitik telinga Ayana.
Beberapa saat kemudian.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga, termasuk Ayana yang kini tengah duduk tepat di samping Eyang.
Si cantik yang matanya sudah mengeluarkan cairan bening sejak tadi terus memohon pada Eyang, agar menghentikan hukumannya pada Ritz.
"Kasihan Eyang, masa sampai hukum Daddy ngga boleh makan sampai besok." Ucap lirih Ayana dengan isak tangis keluar dari bibir mungilnya
__ADS_1
"Eyang sengaja memberi hukuman padanya agar tidak lagi melakukan kesalahan yang sama berulang kali." Tutur Eyang tidak peduli
"Jangan hukum Daddy," mohon Ayana, berharap sang Nyonya besar Bachtiar kesayangan Daddy nya itu mengabulkan permintaannya.
Melihat raut wajah sedih Ayana, membuat hati Eyang sakit. Dapat dia lihat bagaimana rasa sayang gadis itu terhadap cucunya sangat besar.
Wanita baya itu mulai tidak tega. "Baiklah, Eyang takan menghukum Daddy mu. Tapi--," sahut Eyang mengalah.
"Tapi apa, Eyang?" Tanya Ayana bingung
Mata Eyang menatap tajam ke arah cucunya yang menyengir tanpa dosa.
"Eyang," panggil Ayana masih menunggu jawaban dari wanita baya itu.
"Hmm," sahut Eyang belum menjawab.
"Tapi apa?" Tanya ulang Ayana
Melihat Ayana begitu penasaran dengan apa yang akan di katakan Eyang.
Wanita baya itu memilih tidak mengatakannya.
"Sudahlah, sebaiknya kamu bawa Daddy mu ke ruang makan! Anak nakal itu pasti sudah kelaparan sejak pagi." Ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Ayana
Gadis itu melongo tidak percaya, sejak tadi dia bertanya tapi hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Eyang.
Dan kembalinya Nyonya Bachtiar ke kamar, kini hanya ada Ayana dan Ritz.
Si cantik yang merasa kasihan melihat Daddy nya di hukum Eyang, dengan cepat menghampiri pria itu.
"Ada yang sakit ngga, Dad?"
"Nanti Ayana obatin, Eyang ngga sampai mukul Daddy kan?"
Rasa takut dan khawatir melihat pria kesayangannya mendapat hukuman, membuat Ayana tidak berhenti menangis.
Seperti sekarang ini, gadis cantik itu masih saja mengeluarkan air mata.
"Daddy tidak apa-apa, sayang." Jawab Ritz sambil menahan sakit di bagian perutnya
"Bohong. Kalau Daddy baik-baik saja mana mungkin kening Daddy sampai mengkerut begitu." Protes Ayana tidak terima sebab Ritz membohonginya
"Daddy pikir, Ayana bakal percaya begitu saja. Iya? Daddy jangan gila, Ayana benci dengan orang yang suka berbohong." Lanjutnya dengan isak tangis yang mulai pecah
Ritz yang merasa bersalah, segera meraih tubuh mungil putrinya untuk di peluk dengan sayang.
"Maaf, Daddy janji ngga akan bohong lagi. Suer," sahut Ritz penuh sesal.
Hampir sepuluh menit Ayana menangis hanya karena ulah Ritz yang mulai belajar berbohong, dirasa mulai tenang baru Ritz mengajak putrinya bangkit dari lantai yang lumayan dingin.
Ayah dan anak angkat itu langsung menuju ruang makan untuk makan siang yang sempat tertunda.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃