
🌹🌹🌹🌹🌹
Tidak di rencanakan sama sekali, Ritz bekerja lembur sampai waktu menunjukkan pukul 11 malam.
Pria tampan itu terlalu serius dengan adanya Radit yang justru tengah asyik memainkan ponsel, tanpa merasa terganggu sedikit pun.
"Amalia kamu pindahkan kemana, Dit?" tanya Ritz usai merapikan beberapa dokumen penting lalu di masukan ke dalam brankas.
"Kamar ku," jawab Radit santai.
"Ruangannya sudah di kunci, makanya aku bawa ke ruangan ku." Imbuhnya
Ritz menghela nafas pelan, ia hanya khawatir bagaimana jika sekertaris polosnya itu bangun dari tidur dan mendapati dirinya berada di kamar seorang pria.
Bukan tanpa alasan ia khawatir, mengingat Amalia sangat sulit percaya dan rentan emosinya meluap-luap bila ada yang sengaja mengusiknya.
Radit sendiri pun merupakan salah satu orang yang harus di jauhi Amalia, sikap dan tingkah lakunya yang sering membuat wanita itu kesal bukan hanya sekali dua kali berhasil menguji kesabaran Ritz.
"Jangan coba-coba tidur di ruangan mu sendiri," tegas Ritz dengan tatapan mata tajam.
__ADS_1
"Tidurlah di sofa panjang itu," tunjuknya ke arah sofa yang semula menjadi tempat Ayana dan Amalia tidur.
"Hmm, kakak terlihat khawatir sekali aku pergi ke ruangan ku." Sahut Radit malas
"Mau aku tugaskan ke Afrika?" ancam Ritz tidak main-main.
Cucu kedua Eyang tersebut memilih diam tidak membalas, salahkan saja mengapa Amalia harus mengunci ruangannya.
🌹
Tepat jam 12 lewar tengah malam, akhirnya Ritz memilih ikut mengistirahatkan tubuhnya yang lelah di kamar yang Ayana tempati.
Rasa kantuk teramat kuat membuat Ritz hanya melepaskan kemejanya tanpa mencuci wajah tetlebih dahulu.
Pria tampan itu tidur seraya memeluk Ayana, rasa nyaman dan hangat membuatnya cepat terlelap menuju alam mimpi.
Sekitar jam 5 pagi, Ayana terbangun saking merasakan perutnya seperti di lilit.
Pelukan tangan besar Ritz perlahan di lepasnya, ada rasa lucu mengingat untuk pertama kalinya mereka tidur di kantor.
__ADS_1
"Daddy kalau lagi fokus kerja sampai lupa waktu," cebiknya mencium sekilas pipi kiri Ritz sebelum turun dari ranjang.
Dengan langkah kaki cepat, Ayana masuk ke dalam kamar mandi lalu tidak lupa menguncinya. Jangan sampai ada drama teriakan nyaring gadis itu karena ulah jahil sang Daddy.
Dua puluh menit kemudian, Ayana keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian baru yang sengaja dia bawa.
Ternyata Ritz sudah bangun, tampak wajah bangun tidurnya sangat tampan dan begitu mempesona. Rentangan tangan meminta Ayana agar memeluknya langsung di sambut gelak tawa gadis cantik itu.
"Kamu udah wangi, Baby?" tanya pria itu masih betah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ayana.
"Kan, sudah mandi. Pasti wangi dong," jawab si cantik dengan kekehan.
"Curang," protes Ritz membuat Ayana hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Ayana mandi pas ke kantor doang, rasanya kurang nyaman kalau belum mandi pagi."
"Terserah kamu," dengan malas Ritz bangkit dari atas ranjang menuju kamar mandi guna membersihkan diri.
Pagi ini, ada rapat penting. Radit sudah bangun lebih dulu untuk mempersiapkan semuanya di bantu Amalia, jangan tanya semarah apa sekertaris cantik itu ketika menyadari dirinya bukan tidur di kamarnya sendiri.
__ADS_1
Meski tidak sampai memukuli Radit, tetap saja ada rasa kesal timbul di hatinya. Beruntung tidak ada yang terjadi, mengingat pria itu justru ikut tidur di ruangan milik sang Presdir.
🍃🍃🍃🍃🍃