
...💮💮💮💮💮...
Datangnya dokter Devan di rumah sakit tempat dimana Ayana masih dalam proses penanganan, membuat beberapa pihak yang membantu memeriksa kondisi gadis itu, langsung bernafas lega.
Satu jam kemudian Devan keluar dari ruang operasi bersama salah satu perawat, seluruh pihak keluarga langsung menghampiri dokter tampan itu di depan ruang operasi.
"Nak Devan, bagaimana kondisi, Ayana?" Tanya Eyang dengan nada khawatir
"Ayana baik-baik saja kan?" Timpal mama Ritz sudah menangis
"Kak Devan, apa terjadi sesuatu pada gadis kecil?" Sambung Radit ikut penasaran
Semua memborong Devan dengan berbagai macam pertanyaan. Akan tetapi, pria tampan itu hanya diam tanpa buka suara sedikit pun.
Devan memilih meninggalkan keluarga Bachtiar dengan tanda tanya besar di benak mereka, entah apa yang terjadi di dalam sana.
"Bagaimana ini, Eyang? Apa Devan benar-benar sangat marah karena masalah ini?" Khawatir mama Ritz
"Berfikirlah positif, kita tunggu Ritz yang akan berbicara dengan sahabatnya." Jawab Eyang tak ingin berpikiran negatif
Masalah ini jelas-jelas ada hubungannya dengan sang cucu kesayangan, wanita baya itu telah lalai menjaga gadis kecil yang selalu di lindungi dengan sepenuh hati oleh cucunya.
Apakah aku telah melalukan sebuah kesalahan? Bathin Eyang terus bertanya
...*****...
#Ruangan Milik Devan
Sesampainya dalam ruangan, Devan langsung duduk di kursi kerjanya tanpa melepas jas putih yang ia kenakan. Bayangan akan kondisi mental Ayana ketika sadar nanti sangat jelas dapat pria itu prediksi dengan benar, sejak awal inilah yang di khawatirkan Devan mengenai putri angkat dari sahabatnya.
"Brengsek kau, Ritz. Andai saja aku telat menyelamatkan gadis itu, mungkin sekarang tak ada yang tau akan bagaimana kondisinya." Gumam Devan sambil mengepalkan kedua tangannya
Tok tok tok
"Masuk!" Titahnya dari dalam ruangan
Terdengar suara pintu yang dibuka dengan pelan, menampakkan sosok seorang pria tampan yang wajahnya dipenuhi banyak lebam dan Devan tentu tau siapa itu.
"Masih punya muka juga lo, datang ke ruangan gue." Sindir Devan ke arah Ritz yang masih berdiri di depan pintu
Melihat sahabatnya hanya diam saja tanpa ada niat melangkah masuk dalam ruangannya, membuat Devan kembali angkat bicara.
"Apa gue perlu menarik lo kemari?" Sarkas Devan masih dengan nada kesal
"Ayolah Ritz, jika lo ngga bikin gue marah hanya karena lalai menjaga Ayana. Gue ngga mungkin sampai mukul lo begitu, salah siapa yang ngga bisa menepati janjinya dengan benar." Lanjutnya mulai berbicara pelan
"Duduklah!" Titah Devan tanpa melepas tatapannya dari sang sahabat
Ritz melangkah pelan menuju sofa panjang dimana sudah ada Devan yang baru saja berpindah tempat duduk.
Ada rasa kasihan timbul dalam hati Devan, kala melihat wajah penuh memar sang sahabat akibat ulahnya, terlampau emosi membuat Devan lupa jika mereka adalah sahabat dekat bahkan sudah seperti saudara kandung.
__ADS_1
Ia mengambil kotak P3K di atas nakas untuk mengobati wajah sang sahabat.
"Kemarikan wajah jelekmu itu!" Pinta Devan sedikit lucu
Ritz membiarkan wajahnya di obati sahabatnya, ia tidak marah sedikitpun meski rasa sakit masih dapat ia rasakan. Usai mengolesi salep di bagian wajah yang memar, akhirnya Devan mulai berbicara serius dengan Ritz perihal kondisi Ayana saat ini.
"Besar kemungkinan ketika Ayana sadar nanti, ada sedikit perubahan dalam dirinya." Ucap Devan serius
"Apa itu termasuk berbahaya?" Tanya Ritz dengan nada khawatir
"Tidak tau! Ini pertama kalinya Ayana mengalami gangguan sampai harus masuk ruang operasi, beruntung tidak ada yang fatal. Tinggal tunggu saja saat nanti Ayana siuaman baru bisa di ketahui apa yang berubah." Jawab Devan masih belum yakin dengan perkiraannya
Kedua pria tampan itu mulai mengobrol hampir berjam-jam lamanya, hal yang di bahas tidak jauh dari kehidupan yang di lewati Ayana selama lima tahun terakhir.
Pembicaraan mereka terhenti saat ada salah satu perawat mengetuk pintu ruangan dan mengatakan jika Ayana baru saja siuman. Dengan cepat Ritz dan Devan berlari menuju ruang rawat inap si cantik kesayangan.
CEKLEK.!
Pintu kamar di buka Ritz sedikit tergesa, saking tidak sabarnya melihat wajah sang putri.
Baru saja ingin melangkah ke arah brankar, tangan Ritz di cekal Devan.
"Jangan langsung menemuinya dulu!" Pinta Devan memohon
"Tapi,"
"Percaya sama gue, setelah gue selesai memeriksa keadaannya baru lo boleh melihatnya." Tegas Devan meyakinkan
Ritz yang pasrah akhirnya mengalah dan memilih duduk di sofa depan TV, ruangan yang bagai bintang lima itu tentu di siapkan dengan fasilitas yang lengkap. Agar lebih memudahkan pihak keluarga menginap bila datang menjenguk Ayana.
"Benar-benar gadis yang kuat." Puji Devan sambil memainkan kedua pipi Ayana
Akan tetapi, tidak ada senyum yang keluar dari bibir gadis itu. Apapun yang Devan lakukan demi menghiburnya semua sia-sia, Ayana hanya menatap kosong wajah Devan yang terus bicara.
Suasana ruangan ssangat menegangkan. Akan tetapi, Devan tidak berhenti sampai disitu saja, langkah terakhirnya adalah memancing Ayana.
"Ayana sayang, coba lihat siapa yang duduk disana!" Pancing Devan sengaja menunjuk ke arah sudut ruangan tempat dimana Ritz berada
Mata gadis itu dengan cepat melirik ke tempat yang di tunjuk Devan, beberapa detik kemudian tangisnya pecah dan mulai memanggil Ritz berulang kali.
"Daddy,"
"Daddy,"
"Daddy, Daddy, Daddy."
Panggil Ayana berulang kali, membuat air mata Ritz tumpah melihat putri angkatnya masih bisa mengenalnya. Kakinya gemetar saking takutnya bila sang putri mungkin tidak lagi mengingatnya.
Ayana memeluk erat tubuh Ritz, tangis pilu gadis itu sungguh menyayat hati bagai siapapun yang mendengarnya.
Sepuluh menit kemudian, Ayana kembali terlelap karena pengaruh obat tidur yang di suntikan Devan, kondisi Ayana masih sangat lemah. Itu sebabnya dia perlu istirahat yang cukup.
__ADS_1
Semua sudah berkumpul di sofa depan TV, untuk membicarakan perihal kesembuhan Ayana. Tetapi, bukan hanya itu yang akan di bahas Devan pada keluarga sahabatnya. Adanya kabar yang ia dengar belum lama ini membuat pikiran Devan sedikit terganggu.
"Maaf jika aku lancang, tapi ini sangat penting untuk aku tanyakan." Ucap Devan memulai pembicaraan
"Tidak apa-apa nak, bila ada yang perlu kamu ketahui tanyakan saja pada kami." Sahut Eyang
"Baiklah, ini menyangkut soal acara lamaran yang akan kalian adakan tepat dua bulan lagi." Terang Devan yang langsung mendapat tatapan aneh dari semua orang
"Jangan bertanya dulu dan tetap dengarkan apa yang akan aku sampaikan!" Lanjutnya dengan nada serius
"Mungkin ini terbilang konyol atau tidak masuk akal, sebab masalah yang baru saja terjadi pada Ayana besar kemungkinan ada sangkut pautnya dengan acara tersebut. Coba kalian pikirkan baik-baik, sejauh ini semua aman-aman saja bukan? Lantas setelah pengumuman mengenai lamaran Ritz tersebar sampai keluar, kondisi gadis itu semakin melemah setiap waktunya. Apa kalian melupakan sesuatu?" Terang Devan merasa ada yang memicu kondisi Ayana memburuk
Baik Eyang, mama Ritz, papa Ritz, Amalia dan Ritz hanya saling pandang tidak mengerti.
Sedangkan Radit seperti tenga memikirkan sesuatu yang mungkin saja ia tau masalah apa itu.
Radit hampir saja berteriak bila Devan tidak cepat menutup mulutnya.
"Astaga kakak, apa kalian benar-benar serius akan mengadakan acara lamaran dua bulan mendatang?" Tanya Radit yang hanya di balas anggukan kepala oleh mereka
Radit menepuk jidatnya kuat. "Aku rasa kalian harus menundanya dulu!" Lanjutnya begitu santai seperti tidak ada beban sama sekali
"Kamu ingin membuat malu keluarga, Radit?" Tanya kesal Eyang
"Apa itu lebih penting dari keselamatan gadis kecil?" Tanya balik Radit tak kalah ikutan kesal
"Kamu," Geram Eyang
"Jangan marah dulu, Eyang. Apa yang telah kalian lakukan salah besar, tepat dimana hari acara lamaran kakak dan tunangannya jutru adalah,"
"Adalah apa? Jangan membuat semua orang bingung dengan ucapan setengah-setengah mu itu, Radit." Tanya Amalia membuat Radit sampai geleng-geleng kepala
"Haiss, aku rasa cuma aku saja yang tau semua tentang gadis kecil." Kata Radit masih belum melanjutkan ucapannya
Ia segera berdiri dari tempat duduk, bersiap keluar ruangan. Namun sebelumnnya, Radit sempat berhenti di depan pintu untuk melanjutkan apa yang di katakannya tadi.
"Kakak begitu memperhatikan calon istri kakak itu, tapi kakak lupa kapan ulang tahun gadis kecil."
Usai mengatakan itu, Radit sudah menghilang dari balik pintu.
Sementara di dalam kamar inap Ayana, semua orang menatap penuh tanya ke arah Ritz. Seolah meminta sebuah penjelasan yang mungkin mereka tidak tau.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak😁😁
Maaf kalau cerita author masih banyak kurangnya.🙏🙏🙏