
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Siapa yang telefon, Dad?" tanya Ayana sedikit penasaran atau lebih tepatnya ketika Ritz menerima panggilan barusan mampu menimbulkan rasa cemburu dan posesifnya.
Entahlah, yang jelas Ayana hanya ingin pria kesayangannya lebih terbuka tanpa ada yang di sembunyikan.
"Orang suruhan Daddy. Kenapa, hmm?" jawab Ritz jujur apa adanya.
Akan tetapi, gadis itu masih belum percaya.
"Daddy tidak memberikan nomor baru ini padanya, jangan cemberut begitu." Lanjutnya seolah paham dengan raut wajah tidak bersahabat dari gadis manjanya
Salahkan saja dirinya yang begitu nekat membuat janji dan sumpah tidak akan lagi menghubungi sang kekasih selama mereka berpisah, sikap posesif Ayana sudah melebihi batas yang wajar sampai tidak mengizinkannya menerima telefon atau pesan dari kekasihnya.
Alhasil Ritz sampai harus mengganti nomor lamanya dengan yang baru, dan kabarnya hanya Ayana dan orang-orang tertentu yang mengetahui nomor tersebut.
Aku rasa sekarang otak ku mulai hilang sisi kewarasannya, hanya karena ungkapan perasaan gadis ini. SIAL, Bathin Ritz berteriak.
Matanya terus menatap intens ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna itu, tidak terasa waktu yang ia luangkan demi memberikan perlindungan ketat pada gadis itu sudah hampir 7 tahun lebih lamanya.
Apa kamu akan meninggalkan Daddy, sayang. Bila suatu hari nanti mereka justru datang mencari mu dan ingin memisahkan kita. Ucap Ritz dalam hati
Ingatan akan masalah 4 tahun yang lalu kembali terngiang di benak Ritz.
...*****...
#Flasback On
Orang-orang suruhan Devan hampir saja kehilangan nyawa saat menyelamatkan seorang wanita dari kejaran beberapa pengawal terlatih utusan dari seorang pria yang tak lain adalah suami dari wanita tersebut.
Teriakan Devan menggema di seluruh sudut ruangan besar tempat dimana para bawahannya berkumpul.
"Benar-benar bodoh kalian semua," teriaknya dengan napas memburu seraya menahan emosi yang siap meledak.
__ADS_1
Tidak ada yang berani buka suara selama Devan sedang bicara, sementara Ritz yang belum lama sampai hanya diam mendengarkan.
Satu jam kemudian tinggalah Devan dan Ritz berada di ruangan tersebut, keduanya sedang membahas masalah yang serius.
"Apa lo yakin jika wanita itu adalah ibu kandung gadis kecil?" tanya Devan memastikan.
Ritz tersenyum sinis menatap malas ke arah sahabatnya.
"Memangnya lo pikir selama ini gue punya waktu buat main-main?" tanya Ritz balik.
"Yaa, bisa ajah kan lo salah orang mungkin." Jawab Devan santai
Ritz diam sejenak sebelum kembali berbicara.
"Nama wanita itu adalah Syifana Mahestra, satu-satunya pewaris yang terpilih untuk meneruskan perusahaan keluarganya, tetapi sebuah masalah menghampirinya kala dia begitu nekat menentang keputusan keluarganya dan memilih menikah dengan seorang pria kejam yang tak lain adalah salah satu pemegang saham terbesar kedua di perusahaan milik ku." Terang Ritz sedikit menjeda
"Parahnya lagi, semua anggota keluarga pria tersebut menentang keras hubungan mereka. Segalah cara di lakukan demi memisahkan Nyonya Syifana dan suaminya, hasil akhirnya wanita itu memilih kabur dari rumah menyembunyikan diri dari kejaran orang suruhan suaminya dan anggota keluarga pria itu."
Ritz berbicara panjang lebar seolah ia sudah mengetahui semuanya sebelum sang sahabat semakin banyak bertanya.
"Tidak. Belum saatnya mereka saling bertemu di saat kondisi gadis itu masih dalam posisi kurang baik, di tambah lagi kita tidak tahu seburuk apa masa lalu orang tuanya." Jawab Ritz menolak mentah-mentah.
"Bagaimana jika justru pria itu mencari keberadaan anaknya? Lo tahu sendiri kan, koneksi pria itu tidak hanya sedikit. Bisa di katakan ia mampu menemukan jejak istrinya dan mungkin bisa juga menemukan gadis kecil."
"Gue ngga akan membiarkan mereka menemukannya dengan mudah, jangan lupa Devan. Siapa gue di masa lalu dan sekarang adalah orang yang berbeda, keamanan gadis itu menjadi tanggung jawab gue selaku orang yang hampir saja merenggut nyawanya."
Ritz tidak akan membiarkan siapa pun berani menyentuh sehelai rambut gadis kecilnya.
Tanpa izin dari ku, tidak ada yang bisa mengambilnya kecuali taruhannya adalah nyawa ku sendiri. Bathin Ritz
#Flasback Off
...****...
__ADS_1
Ayana yang kesal panggilannya tidak di dengar Ritz, mulai kehilangan titik kesabarannya.
Seketika ide jahil terlintas begitu saja di otaknya, dengan langkah kaki pelan gadis itu mendekat ke arah Ritz yang masih setia melamun.
*Satu,
Dua,
Tiga*.
"DADDY,,,,," teriaknya tepat di samping pria itu.
Ritz yang terkejut bukan main hampir saja tersungkur andai saja Ayana tidak menahan tubuh kekarnya dengan segera.
"Sayaang," gemas Ritz menangkap tubuh mungil gadis itu ketika hendak berlari.
"Haha, ampun Daddy." Jerit Ayana memohon sebab kini pinggangnya jadi sasaran empuk tangan jahil Ritz
"Mulai berani ya sekarang, hmmm."
Ruangan yang hanya ada mereka berdua di dalamnya tampak riuh akibat jeritan dan tawa Ayana.
Ritz benar-benar merindukan gadis manjanya dan untuk sekarang ini, biarlah semua berjalan seperti biasanya.
Perihal masalah pernikahannya, mungkin Ritz akan mencari waktu untuk menyelidiki keseharian sang kekasih.
.
.
.
πππππ
__ADS_1
Like & Komennya yukπ
Ikut ramaikan.π€π