Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (32) Bertengkar?


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Sebelum pulang ke rumah sesuai yang di minta Eyang pada Ayana waktu itu, dimana mulai dari sekarang Ritz harus belajar menjaga batasannya sebagai seorang pria yang sebentar lagi akan menikah, lamaran di tunda bukan berarti pernikahan tidak akan di laksanakan.


Semua hanya butuh waktu untuk memperbaiki keadaan yang sempat memburuk, rencana yang sudah di buat Eyang beberapa waktu lalu tetap berlangsung.


Mengingat kondisi Ayana belum sepenuhnya membaik, Eyang akan membawanya ke Australia untuk pengobatan lebih lanjut.


Selama Ayana dalam masa pemulihan yang mungkin bisa saja memakan waktu paling lambat satu bulan, Ritz tidak di izinkan bertemu atau memberi kabar lewat telefon pada Ayana.


...🌹...


"Apa menurut mu ini keputusan yang terbaik?" Tanya Ritz saat dalam perjalanan pulang ke rumah


"Iya, selama ini Daddy sudah banyak berkorban demi kenyamanan Ayana. Masa depan Daddy bukankah lebih penting sekarang? Terlebih sekarang Daddy sudah memiliki calon pendamping hidup, tidak baik bila Ayana terus bergantung pada Daddy." Jawab Ayana tanpa menatap wajah Ritz


"Tidak bisakah kita tetap bersama meski kedepannya mungkin akan sedikit berbeda?" Pinta Ritz seakan tidak rela di pisahkan dengan gadis yang sudah mengisi hatinya


Ayana tertawa sumbang, mendengar permintaan konyol pria itu yang menurutnya mustahil di lakukan.


"Jangan naif Dad, di dunia ini mana ada seorang gadis yang hanya merupakan anak angkat bisa hidup satu atap dengan wanita yang nantinya akan menjadi istri Daddy. Bukankah Daddy tahu sendiri bagaimana hubungan ku dengan tante Maira? Bisakah kita hidup dengan rukun?" Tutur Ayana semakin memperjelas statusnya


Ritz nampak diam sejenak.


"Apa begitu sulit mendamaikan dua orang?" Gumam Ritz lirih namun masih bisa di dengar Ayana


Sebagai seorang gadis yang sebentar lagi menginjak usia 19 tahun, bukan berarti pola pikir Ayana masih bersifat kekanakan.


Gadis itu tahu semuanya, apa yang di lakukan Ritz, penyebab kepulangan Eyang, dan apapun itu Ayana tahu tanpa harus bertanya.


Hanya saja dia pura-pura terlihat polos dan tidak mengerti apapun, setidaknya mereka tidak memiliki niat untuk memulangkannya ke negara asal.


"Tanyakan pada hati mu, Dad! Siapa aku bagimu dan alasan kuat apa membuatmu begitu keras kepala ingin aku tetap berada di dekatmu."


Gadis itu terdiam sejenak mencoba menormalkan emosinya.


"Tujuh tahun! Tujuh tahun aku rasa bukan waktu yang singkat untuk kita saling memahami satu sama lain."


"Jangan menyiksa ku dengan sikap posesif mu yang tidak tahu kemana arah tujuannya, untuk apa kita tetap bersama jika pada akhirnya kenyataan lah yang akan memisahkan."


Apa yang selama ini bersemayam dalam hatinya akhirnya terungkap juga, rasa sakit di hati Ayana begitu besar bagai luka sayatan ribuan benda tajam, sakitnya tidak bisa di ungkapkan.


Mobil yang awalnya melaju dengan kecepatan lumayan cepat tiba-tiba saja berhenti di pinggir jalan dimana hanya ada pepohonan yang menjulang tinggi.


"Apa maksud dari semua ucapan mu itu?"

__ADS_1


"Beginikah caramu menyelesaikan masalah?"


"Tidak bisakah kita membahasnya saat sampai di rumah?"


Ritz memborong Ayana dengan pertanyaan.


"JAWAB!" Teriak Ritz mendadak lupa jika Ayana tidak bisa mendengar suara keras


Gadis itu meremas kuat pinggiran baju yang dikenakannya, mungkin ini saatnya semua harus segera di selesaikan.


Melihat putrinya hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaanya, semakin menambah luka di hati Ritz.


Ia benci dirinya, ia benci takdir yang begitu mempermainkan hidupnya, ia benci perasaan yang sangat sulit di artikan, ia sungguh benci dengan semua yang terkadang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya.


"Kenapa diam saja, sayang? Hmm."


"Apa sekarang lupa bagaimana caranya berbicara?"


"Bukankah tadi kamu begitu berani mengeluarkan semua yang ada di hatimu?"


Air mata Ritz jatuh mengalir tanpa di minta, betapa sakit hatinya ketika gadis yang teramat sangat di sayanginya ternyata selama ini begitu tersiksa hidup bersamanya.


"A-YA-NA!!" Teriak Ritz lagi


.


.


"CUKUP! apa perlu sampai berteriak seperti itu?"


"Bukankah Daddy butuh jawaban, iya kan? Baik. Akan aku jawab semuanya."


Betapa murkanya Ayana untuk kedua kalinya mengalami hal yang sama, beruntung sedikit demi sedikit dia bisa menyesuaikan diri dengan suara-suara yang yang membuatnya tidak bisa bernapas dengan benar.


Dengan tubuh yang sedikit melemah Ayana berusaha untuk menjawab pertanyaan dari Ritz.


"Daddy sadar ngga sih, dengan apa yang Daddy lakukan selama ini?" Tanya Ayana dengan nada yang lemah


Gadis itu menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan.


.


.


Aku lelah Daddy.

__ADS_1


DEG!


Hati Ritz mencelos ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut putri angkatnya, detak jantungnya semakin tidak karuan di saat ia kembali mendengar kalimat selanjutnya yang di lontarkan gadis itu.


"Aku lelah terus menjadi gadis kecil yang selalu Daddy sembunyikan di balik punggung Daddy, aku lelah selalu menjadi alasan Daddy di saat tante Maira meminta untuk bertemu, aku lelah tiap kali ada masalah antara Daddy dan tante Maira selalu di jadikan faktor pertengkaran, aku lelah di saat kita sedang bersama selalu saja tante Maira merusak semuanya, aku lelah Daddy. Benar-benar sangat lelah terus menjadi bayang-bayang yang hanya akan menjadi penghalang di antara kalian." Jerit histeris Ayana sudah menangis


Niat hati tidak ingin sampai adanya pertengkaran yang terjadi di antara mereka saat pulang dari FILA, siapa sangka justru malah terjadi hal di luar dugaan.


Ayana telah kehilangan kendali emosinya, gangguan yang di rasakannya setelah sadar dari operasi waktu itu ternyata dampaknya sangat besar.


Jika dulu Ayana mampu mengendalikan dirinya, berbeda dengan sekarang yang mungkin jika tidak di hentikan dan malah terus di pancing, akibatnya tidak ada yang tahu seperti apa.


BRAAKKK!!!


Abrisam keluar dari mobil meninggalkan Ayana dalam keadaan menangis, ia berteriak sekeras-kerasnya tidak peduli ada beberapa pengandara yang lewat sempat melihat ke arahnya.


"Aaarrrrgghh"


Tubuh tegapnya jatuh tersungkur di atas rerumputan pinggir jalan, kalimat demi kalimat yang lolos dari mulut putrinya mampu menghancurkan impian yang selama ini sudah di susun dengan rapih.


"Sesakit inikah mendengar gadis yang begitu aku sayangi ternyata selama ini memendam rasa sakit begitu dalam, dia yang begitu aku jaga dan lindungi dengan sepenuh hati, memilih menjauh hanya karena tidak ingin wanita lain ikut terluka."


"Apa yang telah aku lakukan? Sampai membuat gadis yang lebih dulu bersama ku sangat terluka."


Selama ini Ritz berusaha memberikan yang terbaik untuk putri angkatnya, tetap menjadikannya sebagai prioritas utama meski sekarang sudah ada Maira sebagai calon istrinya.


Akan tetapi, apa yang di anggapnya benar ternyata malah menjadi racun bagi putri kesayangannya tersebut.


Tidak berselang lama Ayana keluar dari dalam mobil menghampiri Ritz.


"Daddy, ayo kita pulang!" Ajak Ayana berusaha tegar meski hatinya sakit


"Kita selesaikan semuanya dengan tuntas di rumah, OK. Ayana mohon kali ini saja! Cobalah untuk mengerti kondisi Ayana, untuk meredam emosi yang begitu besar sangat sulit Daddy. Kepala Ayana rasanya sakit, kita pulang ya!" Pintanya lagi seraya memohon


Beberapa menit yang lalu Ayana baru bisa meredam emosinya walau dengan cara bagian tubuhnya harus terluka.


Melihat wajah cantik putrinya sudah memucat, Ritz segera bangkit dari rerumputan menggendong Ayana masuk ke dalam mobil, ia tidak peduli sesulit apa posisinya sekarang ketika menyetir dengan sang putri dalam pelukannya.


.


.


.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


Like dan komen jangan lupaπŸ™


__ADS_2