Daddy I Love You

Daddy I Love You
Kembali?


__ADS_3

...💕💕💕💕...


Ayana beralih ke meja kerja milik sang Daddy setelah di rasa aura dingin yang mencekam beberapa waktu lalu mulai menghilang.


Sebelah alis milik Ritz terangkat ke atas melihat gelagat mencurigakan gadis kecilnya itu, entah apa yang akan di lakukan Ayana.


Langkah kaki gadis cantik itu perlahan mendekat tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah tampan sang Daddy.


.


.


CUP!


Satu kecupan singkat mendarat sempurna di bibir tipis milik Ritz.


"Daddy maaf," ucap Ayana penuh sesal.


Lebih baik melihat Ritz marah dan menegurnya dari pada di diamkan seperti ini.


Merasa tidak ada respon sama sekali dari pria tampan itu membuat hati Ayana sakit bercampur rasa bersalah.


Ayana nekat beralih duduk di atas pangkuan Ritz, kedua tangannya memeluk leher lumayan erat serta wajahnya di sembunyikan di balik dada bidang milik pria kesayangannya tersebut.


Gumaman gumaman kecil mulai terdengar keluar dari bibir mungil Ayana, menggelitik indra pendengaran Ritz.


.


.


"Tadi tuh Ayana keluar Apartement untuk menemui Bibi Cantik," ungkapnya bicara jujur.


"Eyang sudah kasih Ayana ijin, itu sebabnya Ayana pergi tanpa bilang ke Daddy."


"Tapi Ayana ngga pergi sendirian kok, ada papi Devan ikut menemani Ayana bertemu Bibi Cantik."


"Di sana selain Bibi Cantik juga ada paman Alfi, jadi Ayana aman-aman saja tanpa harus takut akan sesuatu."


"Terus,,,"


.

__ADS_1


.


Gadis cantik itu sengaja menjeda ucapannya, ada rasa takut bila sang Daddy mengetahui apa yang wanita itu katakan dan berikan padanya.


Sementara Ritz mulai terbawa suasana dan penasaran apa saja yang di lakukan gadis manjanya itu ketika bertemu dengan Syifana, mengingat keduanya memiliki ikatana ibu dan anak kandung.


"Kenapa berhenti, hmm?" tanya Ritz tertarik akan cerita gadis kesayangannya itu.


Ayana menggelengkan kepalanya tidak, apa dia harus mengatakan semuanya pada pria itu? Tetapi jika berbohong bukannya sama saja melukai perasaan Ritz? Pikirnya


"Tapi janji dulu ngga boleh marah atau hukum Ayana, gimana?" jawabnya sedikit takut.


Ritz sampai mengenyeritkan dahinya bingung, apa mungkin Ayana melakukan kesalahan? Pikirnya


"Ish, Daddy kok malah diam sih." Kesal Ayana menyadari sejak tadi pria tampan itu tidak merespon pertanyaanya.


PLAKK!


"Aww, sakit sayang." Adu Ritz meringis kesakitan


Ia tidak menyangka gadis kecilnya nekat menampar lumayan kuat wajah tampannya.


"Lagian siapa suruh Daddy melamun sih? Ayana nanya malah ngga di respon," sahut Ayana kesal sembari jemari lentiknya mengusap lembut bagian yang barusan dia tampar.


Tak ingin ada perdebatan makin panjang membuat Ayana akhirnya merayu pria tampan itu dengan mencium sayang seluruh bagian wajahnya kecuali di area bibir, Ayana tidak ingin mengambil resiko yang akan membahayakan dirinya sendiri.


...****...


Hari mulai beranjak sore, jarum jam tepat menunjukkan angka lima lewat sepuluh menit.


Satu jam yang lalu sebenarnya sudah waktunya bagi Ritz dan Ayana pulang, tetapi malah di jadikan Radit kesempatan untuk mengerjai sang kakak dengan tumpukan berkas yang harus segera di tanda tangani hari itu juga.


Si cantik kesayangan yang masih duduk di atas pangkuan Ritz sampai mengumpati dalam hati adik sepupu Daddy nya itu.


Dasar paman Radit sialan, ngga tahu apa dari tadi perut Ayana bunyi terus. Bathin Ayana menatap nyalang ke arah sang pelaku


Dalam hatinya bersumpah tidak akan membiarkan Radit hidup tenang setelah apa yang baru saja pria tampan mirip sang Daddy itu lakukan.


"Apa ada lagi yang harus di periksa Radit?" tanya Ritz, setelah semua tumpukan berkas di atas meja kerjanya selesai di tanda tangani.


Radit menyengir kuda tanpa dosa seraya mengangkat kedua bahunya acuh, bukan perkara berkas penting yang ia utamakan.

__ADS_1


Sebenarnya ia hanya ingin membalas perbuatan Ayana, rasa sakit akibat lemparan botol air mineral yang mengenai kepala dan pelipisnya membuat emosinya hampir meluap keluar.


"Tidak ada, jika kalian ingin pulang silahkan! Berkas-berkas itu biar aku minta Amalia simpan," sahut Radit acuh kemudian melangkah keluar dari ruangan milik sang kakak.


Melihat kelakuan Radit rasanya tangan Ayana ingin sekali mencakar wajah sok tampan pria itu.


"Ihhh, nyebelin bangat ngga sih." Geram Ayana menjadikan lengan Ritz sebagai pelampiasan.


"Sakit sayang," pekik Ritz memencet hidung mancung gadis kecilnya agar gigitannya terlepas.


Ayana tertawa lepas memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapih dan bersih.


"Besok kayaknya kita benar-benar harus kembali," tambahnya berbicara serius.


Tawa Ayana langsung berhenti mendengar kata kembali keluar dari mulut sang Daddy.


Jika kita benar akan kembali besok, itu tandanya hari-hari ku kembali lagi seperti dulu. Harus rela menahan api cemburu dan rasa sakit di hati kala menyaksikan kedekatan mereka. Bathin Ayana berucap lirih


Sebagai seorang gadis yang baru belajar untuk bersikap dewasa, tentu Ayana memiliki kecenderungan mudah tersentuh perasaanya.


"Eyang sudah pesan tiket pulang?" tanya Ayana menyembunyikan rasanya di balik senyum yang di paksakan.


"Hmm, barusan papa kirim pesan agar kita cepat pulang." Jawab Ritz tersenyum hangat


"Kita pulang sekarang?"


Ayana menganggukkan kepala sebelum akhirnya Ritz bangkit dari tempat duduk dengan posisi menggendong gadis kesayangannya ala bridal style keluar dari ruangan.


.


.


TRINGG!


Pintu lift terbuka dengan langkah kaki santai Ritz keluar menuju mobil yang sudah menunggu mereka di lobi parkiran khusus para petinggi perusahaan.


Ayana masuk ke dalam mobil lebih dulu setelah Ritz menurunkannya, di ikuti pria tampan itu kemudian duduk di samping gadis kesayangannya tersebut.


Mereka harus tiba di Apartement sebelum waktu Maghrib tiba.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Masih adakah yang suka?😪😪


__ADS_2