
...💕💕💕💕...
Ayana sibuk memainkan telinga sang Daddy tidak peduli mendengar ringisan kecil yang keluar dari mulut pria tampan tersebut.
Sesampainya di kantor setelah makan siang berakhir satu jam yang lalu, Ritz memang kembali berkutat dengan banyaknya tumpukan berkas di atas meja kerjanya.
Beberapa sudah selesai di periksa dan di tanda tangani, namun masih ada setengah lagi yang belum di lihat Ritz.
"Jangan nakal sayang," tegur Ritz ketika merasakan telinganya mulai di gigit kecil oleh Ayana.
Beberapa menit yang lalu, gadis cantik itu merengek setelah satu cup es cream masuk ke perutnya, rasa ngilu dan gatal di bagian rongga mulutnya tidak dapat lagi di tahan.
Alhasil Ayana menjadikan bahu dan telinga milik sang Daddy sebagai pelampiasan, tidak peduli sesibuk apa pria kesayangannya itu sekarang.
"Tapi ini rasanya ngga enak Daddy," keluh Ayana setengah merengek manja.
.
.
Helaan nafas panjang terdengar keluar dari mulut Ritz, jika tahu akhirnya akan seperti ini lebih baik ia tidak membiarkan gadis kecilnya jajan es cream.
"Tapi ini rasanya sakit sayang kalau di gigit terus, gigit bahu ajah ya?" tawar Ritz merayu.
Tidak ada sahutan yang keluar dari bibir mungil Ayana selain anggukan kepala yang dia berikan.
Merasakan tidak adanya pergerakan setelah dua puluh menit lamanya, membuat Ritz yakin bila kini gadis kesayangannya itu sudah tertidur begitu pulas, tidak lupa masih dengan posisi bahunya yang di jadikan sebagai tempat pelampiasan.
Ritz menghentikan sejenak aktifitasnya hanya untuk melihat wajah cantik alami tanpa polesan make up tersebut.
Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat senyum manis terukir indah di wajah gadis kesayangannya itu.
__ADS_1
Masih tersimpan jelas di ingatan Ritz bagaimana reaksi Ayana dulu ketika mengetahui ada seorang wanita cantik yang mendekati sang Daddy, mendapati kabar seperti itu tentu membuat Ayana murka sampai nekat mengurung diri tanpa makan dan minum di dalam kamar.
Satu minggu lamanya gadis cantik itu enggan keluar dari kamar mengakibatkan Ritz hampir gila, beruntung ada sang mama yang berhasil membujuk dengan syarat dirinya tidak di izinkan keluar masuk kamar sang putri.
.
.
"Ckck, untung sayang." Gumam Ritz pelan tidak lupa mencium sayang pipi kanan gadis kecilnya yang begitu nyaman terbuai mimpi
Fokusnya kembali pada beberapa berkas yang harus di periksa kembali.
...****...
Satu jam kemudian akhirnya Ritz selesai dengan pekerjaannya, tidak lupa meminta Amalia datang ke ruangannya untuk menyimpan beberapa berkas yang akan di bawa pulang nanti.
Si cantik yang mulai terbangun menggeliat pelan seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Jam berapa sekarang Daddy?" tanya Ayana setelah matanya terbuka sempurna.
CUP!
Sebuah kecupan singkat mendarat sempurna di kening Ayana.
"Mau pulang sekarang?" sambung Ritz bertanya.
"Iya, Ayana masih ngantuk banget pengen cepat-cepat rebahan di kamar." Balas gadis itu kembali memeluk erat leher sang Daddy
Jam yang memang sudah menunjukkan waktunya pulang kantor membuat Ritz bergegas keluar dari dalam ruangannya setelah Amalia datang.
"Amalia, tolong kamu simpan semua berkas yang berada di map warna biru dan merah! Untuk berkas yang sudah saya periksa, coba kamu lihat lagi apakah sudah lengkap atau belum." Ucap Ritz sebelum benar-benar keluar dari ruangan miliknya
__ADS_1
Sedikit kesusahan mengingat Ayana kembali tertidur dan tidak ingin di lepas.
.
.
TRINGG!
Pintu lift yang terbuka bertepatan dengan Radit yang kebetulan berencana untuk menjemput sang kakak.
"Loh, kirain masih di dalam ruangan" kaget Radit tidak jadi keluar dari dalam lift.
Melihat sang kakak dengan gadis kecil dalam gendongan pria itu membuat Radit keheranan.
"Kenapa?" sambungnya bertanya.
"Tidur, dari tadi ngga mau lepas." Jawab Ritz santai
"Kirain lagi pingsan," kekeh Radit yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang kakak.
Sesampainya di lobi parkiran Radit buru-buru masuk ke dalam mobil, ia tahu bagaimana lelahnya sang kakak akibat menyelesaikan pekerjaan kantor. Belum lagi menangani si gadis kecil kesayangan yang hanya akan menempel pada Ritz tanpa mau di lepas walau sejenak.
Di rasa sang kakak sudah duduk di belakang kursi penumpang bersama Ayana dalam pangkuan pria tampan itu, Radit mulai menyalakan mesin mobil dan melesat keluar dari parkiran meninggalkan perusahaan.
Kereta besi itu melaju dengan kecepatan sedang menuju arah pulang ke Apartement, sesekali Radit mengajak sang kakak mengobrol seputar masalah pekerjaan.
"Kakak tahu siapa wanita yang sering di sebut gadis kecil akhir-akhir ini?" tanya Radit tiba-tiba.
"Wanita siapa yang kamu maksud?" jawab Ritz balik bertanya.
"Mana aku tahu, yang jelas gadis kecil suka panggil wanita itu dengan sebutan Bibi Cantik."
__ADS_1
Ritz tampak diam mendengar sebutan Bibi cantik yang di ucapkan Radit.
🍃🍃🍃🍃🍃