
Ayana terbangun saat di rasa ada sebuah tangan yang mengusap pelan bagian perutnya, hangat dan menenangkan. Itulah yang gadis itu rasakan.
Dengan hati-hati, Ayana menoleh kearah belakang karena posisinya tidur menyamping, matanya membulat sempurna hampir saja berteriak jika Ritz tidak cepat membungkam mulutnya dengan ciuman lembut.
"Daddy," rengek Ayana setelah ciuman terlepas.
"Maaf, Daddy ganggu ya." Sahut Ritz merasa bersalah
Ayana menggeleng cepat sampai rambutnya ikut terbongkar.
"Ngga Daddy, tadi Ayana cuma kaget ajag. Soalnya Daddy buka mata begitu terus ngga kedip lagi, kan Ayana takut." Jawabnya jujur apa adanya
"Maaf sayang, tadi Daddy mau tidur cuma ngga bisa." Ritz pura-pura sedih
Melihat raut wajah lelah Daddy nya membuat Ayana refleks memeluk erat leher pria itu. Alhasil kepala Ritz berada tepat di bagian dada putrinya yang terbalut kaos hitam kebesaran. Ayana sangat suka memakai baju milik Daddy nya karena merasa nyaman.
"Sa-sayang," kaget Ritz dengan jantung yang berdetak cepat.
"Sstt, Daddy tidur ya." Potong Ayana tidak ingin berdebat
"Ayana tidak tahu apa masalah Daddy, tidak ingin cerita Ayana bisa ngerti. Daddy boleh jadikan Ayana tempat Daddy pulang jika masalahnya sangat berat, Ayana takan kemana-mana."
"Dan soal kehidupan Daddy, sebisa mungkin Ayana akan berusaha untuk menerima tante Maira jika memang Daddy sangat mencintainya."
Gadis itu sampai harus menggigit pelan bibir bawahnya untuk tidak menangis, entah apa yang tiba-tiba dia rasakan sampai harus berbicara seperti itu.
Mendengar putrinya berbicara seakan mengarah pada topik lain, membuat Ritz kembali mengangkat kepalanya.
"Kenapa bicara begitu sayang, hmm?"
"Hey, Daddy bukan sedih karena masalah itu, sayang." Ritz meraih tubuh langsing Ayana untuk di peluk
Tidak ada niat sedikit pun dalam hatinya melukai perasaan gadis itu, apa mungkin tindakannya selama ini sudah salah. Semua adalah kebodohannya sendiri, memiliki kekasih tanpa gadis itu tahu.
Cukup lama Ritz menenangkan putrinya yang menangis tanpa ia tahu apa masalahnya, di rasa sudah tenang baru Ritz memberanikan diri untuk bicara.
"Sayang, lihat Daddy!" Pinta Ritz seraya mengangkat wajah Ayana agar bisa menatapnya
"Ada apa, hmm? Katakan pada Daddy jika ada yang membuat putri Daddy ini tidak senang." Rayunya berharap gadis itu mau berterus terang
Bukan Ayana tidak mau berkata jujur, mana mungkin dia akan menjawab kalau selama ini menyimpan rasa pada pria itu. Apa yang akan terjadi nanti bila dii telah ketahuan mencintai Daddy nya sendiri.
"Tidak ada, Dad." Jawabnya berbohong
"Ayana hanya ingin yang terbaik untuk Daddy, selama ini Ayana selalu egois. Ayana suka melarang Daddy untuk berlama-lama dengan tante Maira, dan Ayana juga suka marah-marah tidak jelas padahal sudah tahu apa masalahnya." Lanjutnya lagi seakan merasakan sesak dalam dadanya
"Maaf jika Ayana bersikap kekanakan, masih sangat manja pada Daddy. Maaf jika Ayana belum bisa belajar untuk menjadi lebih dewasa, maaf jika selama tujuh tahun ini selalu menyusahkan Daddy. Maa, hmpp."
__ADS_1
Ritz lagi-lagi membungkam mulut putri angkatnya dengan sebuah ciuman yang entah kenapa hatinya sakit mendengar kalimat yang keluar dari mulut gadis itu. Seperti ada rasa yang berbeda saat kalimat demi kalimat terucap dari bibir mungil Ayana.
Cukup lama Ritz membiarkan bibirnya terus menempel tanpa adanya lu-matan, hanya sebuah ciuman agar gadisnya berhenti bicara.
"Jangan mengulang kalimat yang tidak ingin Daddy dengar terucap lagi dari mulut kecilmu itu, percaya tidak jika Daddy kembali mendengarnya," ucap Ritz menatap sendu wajah cantik tanpa make up putrinya.
"Jangan salahkan kalau--," pria tampan yang hanya terlihat lembut saat di depan putrinya itu sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, membuat gadis kecil yang semula murung ikut penasaran.
"Kalau apa, Dad?" Tanya Ayana balas menatap manik mata Daddy nya
"Daddy," sentaknya mulai kesal belum mendapatkan jawabannya.
"Ishh, Ayana mar--, hmmpp." Matanya membola sempurna, lagi dan lagi mulut gadis itu jadi sasaran empuk ciuman Daddy nya.
Cukup lama Ritz bermain-main di bibir ranum putrinya sampai ciuman itu harus terlepas paksa karena Ayana hampir kehabisan napas.
Bugh bugh bugh
"Aw, aw, sakit sayang." Kaget Ritz meringis kesakitan sebab Ayana menimpuknya dengan bantal
"Daddy kebiasaan bangat ya, udah berapa kali Ayana bilang jangan sembarangan cium Ayana." Tatap tajam gadis itu seolah ingin menelan Ritz hidup-hidup
"Kenapa?" Tanya Ritz acuh
"Pokoknya ngga boleh Daddy," kesal Ayana tidak ingin di bantah.
"Harus mau."
"Ngga mau sayang."
"Ish, Daddy nakal ya lama-lama."
"Kan, Daddy cuma cium mana ada nakal sih sayang?"
"Cium juga tahu tempat oyy."
"Ngga ada, Daddy tetap akan cium Ayana. No Komen-komen."
Perdebatan antara pasangan Ayah dan Anak angkat itu terdengar sampai keluar kamar, membuat Radit yang kebetulan ingin ke kamar Ritz harus menjadi korban akibat ulah Ayana.
Mata Radit membulat sempurna seakan ingin keluar dari tempatnya.
"Woy, pada ngapain ribut-ribut masih gelap juga." Teriaknya langsung masuk kamar begitu saja tanpa permisi
Ritz yang sadar dengan cepat menyembunyikan Ayana dibalik pungggungnya, mana mungkin ia biarkan gadis kecilnya dilihat pria lain tanpa mengenakan pakaian yang tertutup. Sejak usia 12 tahun Ayana terbiasa tidur hanya mengenakan baju tidur yang menampakkan bagian tubuhnya, celana pendek dan atasan yang memakai kaos dalam saja. Itupun kaos milik Ritz yang selalu Ayana kenakan.
Dari balik punggung Ritz, tampak Ayana hanya diam tidak bersuara.
__ADS_1
"Kakak ngapain di kamar sama gadis kecil?" tanya Radit menatap curiga kearah Kakak sepupunya.
"Bukan urusanmu, memangnya siapa yang meminta mu masuk ke kamar ku tanpa izin?" sahut Ritz menatap geram kearah Radit.
"Aku kemari karena ada sesuatu yang harus di sampaikan." Jawab Radit jujur, memang itu tujuanya datang mencari Ritz.
"Apa tidak bisa katakan saja di kantor?" Rasanya Ritz ingin sekali melempari wajah penasaran adik sepupunya itu dengan Vas bunga
"Kapan Kakak punya waktu untuk itu? Siang hari bersama Maira, malam harinya juga bersama dengan gadis kecil." Ledek Radit tidak kenal takut sampai Ayana dengan gemas menggigit punggung Daddy nya karena kesal
Sadar akan kondisi putrinya membuat Ritz langsung menyela tidak ingin Radit banyak bicara lagi.
"Jangan dengarkan Paman bodohmu itu, bukankah setiap saat Daddy selalu menghubungi mu. Daddy bertemu tante Maira hanya pada saat makan siang saja atau sekedar ada keperluan. Selebihnya Daddy sibuk di kantor." Selak Ritz yang tidak ingin membuat putrinya merasakan cemburu tingkat tinggi
Ia sangat hapal seperti apa gadis kesayangannya itu bila ada yang mencoba memprovokasinya, sepertinya Radit benar-benar harus di beri hukuman karena mulut tajam itu.
"Radit."
"Iya Kakak ku sayang," sahut Radit dengan suara yang di buat-buat.
"Aku rasa ada benarnya juga kalau mengirim mu langsung ke Afrika sebagai perwakilan dari perusahaan pusat." Seringai Ritz berbicara serius
Glek
_Mampus kau, Radit. Kenapa aku bisa lupa kalau kakak bukan orang yang bisa di ajak bercanda. Haiissss_
Tingkah kaku dan takut Radit saat berbicara dan mengumpat sendiri dalam hati justru mengundang tawa Ayana.
Dia yang sejak tadi masih setia sembunyi di balik punggung Daddy nya tentu menikmati saat Radit di marahi.
"Daddy," panggil Ayana dengan suara lembut.
"Mmm, ada apa sayang?"
"Ayana masih ngantuk Dad, minta Paman keluar! Ayana ngga suka lihat Daddy marah-marah." Rengek gadis itu dengan mata yang mulai terasa berat untuk di buka
"Maafin Daddy, sayang." Ucap Ritz seraya mencium sayang pucuk kepala putrinya beberapa kali
"Kembalilah ke kamar mu! Kita akan membahasnya lagi setelah di kantor. Pastikan juga Maira tidak datang karena aku ingin membawa Ayana bersama ku, jangan coba-coba membiarkan mereka bertemu jika kau benar-benar ingin aku kirim ke Afrika."
Mendengar ucapan sekaligus ancaman Ritz yang tidak main-main, tanpa menunggu lama Radit langsung berlari keluar kamar sepupunya. Akan sangat bahaya baginya bila masih keukeh mencari masalah dengan Kakak sepupunya tersebut.
Setelah Radit pergi, tidak berselang lama Ayana benar-benar sudah tertidur dengan posisi memeluk tubuh Ritz dari belakang.
Ritz membaringkan tubuh langsing putrinya di tengah ranjang, di pandanginya dengan intens raut wajah damai gadis itu. Rasa kantuk yang mulai menyerang akhirnya membawa Ritz ikut terlelap menuju alam mimpi.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1