
Sesampainya di rumah sakit.
Ritz bergegas masuk ke dalam lift yang biasa digunakan khusus anggota keluarga Bachtiar.
Semua perawat dan beberapa Dokter memberi hormat padanya saat mereka tiba di lantai tempat dimana Ayana berada.
Beberapa Dokter menjawab pertanyaan yang Ritz berikan, semua yang berada di lantai itu merupakan pihak yang bertugas merawat putrinya.
Semua keluarga inti baik Eyang, Mama Ritz, Papa Ritz, Amalia dan juga Radit tengah berkumpul di salah satu ruangan khusus keluarga pasien.
Hilangnya Ritz yang entah pergi kemana membuat Radit merasa bersalah, belum lagi saat sahabat sang Kakak tiba-tiba saja menghubunginya hanya untuk menanyakan kabar Ayana.
Dan betapa murkanya pria itu kala mendengar kabar tidak baik soal gadis kecil yang dengan susah paya dirawatnya sejak usia sepuluh tahun dalam keadaan tidak baik.
"Katakan pada Ritz! Jika sampai gadis itu kenapa-napa, akan aku pastikan ia tidak akan bisa lagi melihat wajah putrinya untuk selamanya."
Kalimat ancaman yang di berikan Devan pada Ritz bukanlah main-main, ini sudah sangat lama Ayana tidak lagi mengalami masa-masa sulitnya akibat dampak dari trauma masa lalu.
Akan tetapi, setelah tujuh tahun berlalu Ayana hidup dengan ketenangan dan rasa aman yang dia dapat dari orang-orang tersayang, justru malah memicu sakitnya kembali kambuh.
Jika sudah begitu, dapat Devan pastikan akan ada perubahan yang terlihat dari dalam diri Ayana, ketika gadis itu berhasil melewati masa sulitnya selama di rawat.
"Siapa yang telefon, Radit?" Tanya Mama Ritz pada keponakannya tersebut
"Kak Devan tadi yang telefon Bibi, ia sangat marah saat tahu gadis kecil kembali masuk rumah sakit." Jawab Radit menjelaskan
"Devan, sahabatnya Ritz bukan?" Tanya Mama Ritz lagi
"Iya benar, Bibi sudah beberapa kali bertemu dengannya di rumah Kakak. Dan pria itulah yang merawat gadis kecil tujuh tahun yang lalu, semua yang terjadi pada gadis kecil berkat pengobatan yang di lakukan Kak Devan." jawab Radit kembali menjelaskan
Semua anggota keluarga di runduh rasa cemas dan khawatir yang sangat besar, hilangnya kesadaran Ayana secara mendadak saat keluar dari dalam kamar miliknya, membuat penghuni rumah panik luar biasa.
Tidak ada yang tahu apa penyebab sampai Ayana bisa jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri, mereka mengira jika itu hanyalah pingsan biasa.
Tetapi, melihat wajah pucat dan bibir Ayana menjadi biru membuat Eyang segera meminta sopir menyiapkan mobil.
__ADS_1
"Eyang, makanlah dulu biar Eyang ngga ikutan sakit juga kayak gadis kecil." Rayu Radit terus membujuk sang Eyang agar mau makan
"Tidak mau, bagaimana Eyang bisa makan kalau kondisi gadis itu belum pasti." Tolak halus Nyonya Iriana dengan perasaan sedih
"Mih, semua yang ada disini juga ikut mengkhawatirkan Ayana. Tapi, mau bagaimanapun Mami harus tetap makan biar kuat menunggu kabar dari pihak Dokter." Timpal Mama Ritz ikut membujuk sang mertua
Hati wanita mana yang takan merasakan gelisah, melihat sosok yang begitu mereka sayangi nyatanya kini terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.
Semenjak Ayana dibawa masuk ke dalam ruang operasi beberapa jam yang lalu, tidak ada satupun Dokter atau perawat yang keluar dari dalam ruangan.
.
.
#Ruang Operasi
Seorang Dokter wanita yang menangani Ayana terlihat sedikit panik dan gelisah, entah apa yang terjadi.
"Bagaimana ini Dok? Kondisi Nona besar semakin parah." Tanya salah satu perawat yang ikut menangani keadaan Ayana
"Tetaplah tenang dan jangan sampai lalai, jika sampai terjadi sesuatu padanya maka nyawa kita yang jadi taruhan."
"Ingat baik-baik, kita berusaha mencegah kejadian buruk yang mungkin akan terjadi sampai Dokter Devan tiba." Sambungnya
"Berapa lama Dokter Devan bisa sampai kesini?"
"Tidak pasti, berdoa saja semoga tidak ada hal buruk yang terjadi."
Semua fokus menangani Ayana sambil menunggu Dokter yang lebih memahami kondisi gadis itu tiba di rumah sakit, yang katanya memakan waktu hampir satu jam lamanya.
.
.
Jika di rumah sakit semua orang mengkhawatirkan kondisi Ayana, berbeda dengan seorang dokter tampan yang baru saja tiba di bandara beberapa saat lalu.
__ADS_1
Aksi saling memukul terjadi di area parkiran, atau lebih tepatnya di depan mobil Ritz.
BUGH
"Brengsek." Teriak Devan menggema di area parkiran
"Aku meminta mu agar menjaga baik-baik Ayana, bukan menyuruhnya untuk menyakitinya."
Betapa murkanya Devan saat ini, niat awal kembalinya ia ke Negara asal karena ingin sekali menemui si gadis kecil kesayangannya, justru berubah menjadi kabar yang tidak mengenakan hati dan telinganya.
"Tega kamu, membiarkan Ayana tinggal bersama Eyang tanpa pikir panjang apa yang mungkin akan gadis itu rasakan. Berapa kali aku bilang, sekalipun niat awal keluarga mu itu baik untuk Ayana. Tapi bukan berarti kamu juga masa bodoh bisa menemaninya atau ngga."
"Kamu benar-benar pria brengsek ALFARITZ RENDRA BACHTIAR."
"Nyatanya aku salah memberikan mu ijin untuk bawa Ayana pulang waktu itu."
Devan sangat membenci sahabatnya sekarang, ia yang lebih tahu tentang kondisi Ayana tentu merasa marah besar. Tanpa berpamitan, pria itu meninggalkan Ritz yang tersungkur tidak berdaya tepat di samping mobilnya.
Pikirannya tiba-tiba saja kosong tidak mampu lagi memikirkan apapun. Beruntung ada Pak sopir yang dengan cepat mengangkat tubuh lemas Ritz masuk ke dalam mobil.
"Tuan muda harus tenang, saya yakin Nona besar akan baik-baik saja." Ucap sang sopir berusaha menguatkan Ritz
"Dulu, saya juga punya anak yang di angkat sejak usia li.a tahun. Anaknya juga gadis yang cantik sama kayak Nona besar, namanya Sesilia. Selama hampir 10 tahun lamanya saya dan istri merawatnya dengan sepenuh hati, pribadinya yang ceria juga manja persis dengan Nona besar. Sekarang usianya menginjak 16 tahun, dan tanpa di duga pihak Dokter mengatakan ada gangguan dalam otaknya, mereka bilang Sesilia mungkin punya trauma masa lalu sebelum kami merawatnya."
"Saya dan istri merasa sangat terpukul waktu itu, tapi kami yakin jika semua itu adalah cobaan yang harus kami hadapi. Kami terus berdoa dan meminta kesembuhan atas gadis kecil kami Sesilia, dan alhamdulilah setelah hampir sebulan dirawat dan menjalani berbagai macam perawatan, pihak rumah sakit mengatakan kalau putri kami sudah sembuh total."
Sang sopir tanpa sadar menceritakan bagaimana nasibnya dulu mengenai gadis kecil yang ia dan sang istri rawat sampai sekarang.
Dan mendengar cerita dari sopirnya, membuat Ritz kembali bangkit dari rasa terpuruknya akan kondisi sang putri saat ini.
"Kita kembali lagi ke rumah sakit!" Titahnya pada pria itu
Tidak ada yang tahu bagaimana kuasa sang pencipta untuk keselamatan setiap ciptaannya, yang mustahil menjadi mungkin.
Keyakinan itulah yang selalu Ritz pegang sampai detik ini, jika dulu putrinya mampu melewati masa sulitnya. Ia yakin kali ini bidadari cantiknya pasti akan sembuh.
__ADS_1
"Kamu harus sembuh, sayang."
🍃🍃🍃🍃🍃