Daddy I Love You

Daddy I Love You
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

...☘☘☘☘...


Ayana berlalu pergi setelah mobil milik Radit mulai menjauh dari perusahaan, langkah kaki jenjangnya mengayun sangat indah menuju arah lift khusus membawanya langsung di lantai paling atas tempat ruangan kantor Ritz berada.


Percuma membuang tenaga berteriak sambil memanggil nama adik sepupu dari pria tampan kesayangannya tersebut, apa Ayana lakukan sudah pasti hanya akan membuang waktunya percuma.


.


.


TRINN!


Pintu lift terbuka, dengan segera gadis cantik itu keluar dari benda persegi tersebut, kakinya melangkah pelan seraya kembali mengingat percakapannya dengan Radit.


Belum sempat tangan Ayana memegang gagang pintu ruangan milik sang Daddy, samar-samar dapat dia dengar suara keributan yang muncul dari dalam ruangan yang pintunya memang sedikit tebuka.


Seperti ada perdebatan yang sedang berlangsung membuat rasa ingin tahu gadis cantik itu menjadi-jadi.


"Daddy lagi berbicara dengan siapa?" gumamnya pelan mulai timbul rasa penasaran.


Terdengar suara milik seseorang yang dapat Ayana yakini jika itu adalah suara milik seorang wanita, menilai dari nada bicaranya saja dapat dia simpulkan jika wanita itu sepertinya tengah marah.


Entah apa yang terjadi di dalam sana, mengingat sekarang ada begitu banyak masalah dan berbagai kejadian di luar jangkauan keluarga Mahendra, dan salah satunya tentu perihal acara lamaran yang sampai detik ini belum ada tanda penyelesaian dari kedua belah pihak.


.


.

__ADS_1


"Masuk ngga ya," ucap Ayana sedikit bimbang ingin masuk namun takut bagaimana jika kedatangannya justru malah mengundang masalah yang cukup fatal.


"Aaa, bodoh. Mending aku ma,,"


PRANGGG!


"Astagfirullah, itu suara apaan" pekik Ayana terkejut saking kerasnya bunyi sebuah benda yang pecah dari dalam ruangan milik Ritz.


Otak gadis cantik itu sangat sulit di ajak kerja sama, rasa panik dan khawatir takut jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Daddy nya membuat Ayana ingin segera masuk untuk melihat keadaan di dalam ruangan.


Akan tetapi, gerakan tangannya kembali terhenti ketika suara penuh amarah milik seorang wanita kembali terdengar.


.


.


.


"Apa yang membuat mu sampai harus melempar barang di hadapan ku, Tuan Ritz?" sentak wanita cantik bernama Syifana Mahestra dengan nada terkejut.


Benda jatuh dan pecah berserakan di lantai adalah Vas bunga yang terletak di atas meja kerja milik sang Presdir.


Ritz benar-benar sudah di ambang batas sisi kesabarannya dalam menghadapi bagaimana keras kepala dan egoisnya sosok wanita cantik yang merupakan ibu kandung dari kekasih kecilnya itu.


Mata pria tampan itu menatap tajam penuh dendam ke arah Syifana.


"Seharusnya saya yang bertanya apa maksud dan tujuan anda datang kemari tanpa memberi kabar sama sekali," berang Ritz nyaris tersulut api amarah.

__ADS_1


Hampir setiap saat pria tampan itu memberi peringatan pada pewaris tunggal Mahestra tersebut agar tidak berbuat nekat dan melampaui batasannya, tetapi perkataan yang terucap dari mulut Ritz seolah angin lalu bagi wanita cantik itu.


Seolah larangan dari Ritz merupakan perintah bagi pewaris tunggal Mahestra tersebut.


Syifana terdiam kaku di tempatnya melihat sorot mata tajam milik Ritz, tersirat akan kemarahan yang besar akibat ulahnya yang terlalu masa bodoh dan tidak bisa di ajak kerja sama.


Akan tetapi, bukan Syifana namanya bila harus tunduk dan menuruti setiap ucapan yang keluar dari mulut pria itu.


"Aku hanyalah seorang ibu yang begitu merindukan putri ku, lalu apa salahnya bila aku datang ke negara ini demi bertemu dengannya?" lirih wanita cantik itu seraya meremas kuat gaun berwarna hitam selutut yang dia kenakan.


Tangan Ritz mengepal kuat berusaha menahan api amarahnya yang siap meluap.


"Anda mungkin saja lupa, bukannya sejauh ini tidak ada yang melarang anda bila ingin bertemu dengannya? Tetapi bukan dengan cara gila seperti yang anda lakukan sekarang ini." Ucap Ritz mulai bersikap tenang


"Perlu anda ketahui jika di luar sana terlalu berbahaya untuk sekedar kalian bertemu, bahkan demi melindungi keselamatannya aku rela bertaruh nyawa sekalipun andai terjadi sesuatu padanya, tetapi anda" tambahnya seraya menunjuk ke arah Syifana dengan nafas memburu.


"Sikap keras kepala dan egois yang anda tunjukkan pada ku sekarang hanya akan membuat jarak di antara kalian semakin besar tak berujung, apa ini yang anda maksud cara melindungi satu-satunya milik anda?"


Napas Ritz kian memburu dengan mata terpejam kuat, sekelabat bayangan ingatan mengenai cerita masa lalu mulai bermunculan di otaknya.


Kedatangan Syifana yang begitu tiba-tiba hanya akan membuat masalah semakin rumit dan sudah pasti Ritz tidak akan bisa lagi menutupi kebenaran dari gadis keci kesayangannya.


I miss you Baby. Lirih Ritz dalam hati


Sementara di depan pintu ruangan yang tidak tertutup rapat, terlihat mata indah Ayana mulai menitikkan air bening lumayan deras.


Gadis cantik itu masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya melalui percakapan antara dua orang dewasa tersebut.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2