Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (56) Bukan Candaan?


__ADS_3

...💕💕💕💕...


"Will You Merry Me, Princes?"


Ungkapan perasaan Ritz dengan satu kaki yang di buat berlutut seraya memegang sesuatu.


Apa yang di lakukan pria itu sukses membuat imajinasi Ayana buyar seketika.


Pufftt!


"Haha, apa yang Daddy lakukan?" Ayana tertawa keras melihat kelakuan pria tampan di hadapannya tersebut.


Ritz terpengarah mendengar gadis itu malah menertawakannya.


"Memangnnya kamu tidak melihatnya sayang?" sungut Ritz, rencananya tidak sesuai harapan.


"Ya, Ayana lihat tapi aneh" kekeh gadis cantik tersebut masih dengan sisa-sisa kebasahan di wajah putih mulusnya.


Ritz merenggut kesal, karena pada akhirnya kejutan yang ia berikan malah di anggap sebuah lelucon semata.


"Udah dong Daddy, ngga lucu tahu" sambung Ayana kembali yang justru meminta pria tampan itu berhenti melakukan hal yang menurutnya sedikit konyol.


Cukup lama Ayana tertawa tanpa rasa bersalah, apa yang dia lakukan telah membuat pria tampan kesayangannya itu semakin kesal.


Sedari tadi mata Ritz sudah menatap tajam ke arah gadis cantik di hadapannya tersebut.


"Oh, ayo lah Daddy. Berhentilah membuat lelucon seolah ini adalah kejutan romantis untuk melamar putri angkat mu ini," ejek Ayana sebenarnya bingung ingin menjawab apa lagi.


Tuhan, jangan biarkan otak suci ku ini malah beranggapan yang di lakukan Daddy benar adanya. Jerit Ayana dalam hati


Dia frustasi sendiri tidak tahu harus berbuat apa.


...****...


10 menit sudah berlalu tetapi Ritz masih setia pada posisinya, hal itu semakin membuat hati Ayana tidak karuan.


"Daddy," panggilnya berusaha menormalkan detak jantung yang serasa ingin keluar dari tempatnya.


"Hmm," sahut Ritz.


Gadis cantik itu meringis pelan sebelum kembali buka suara.


"Daddy jangan gitu dong, Ayana takut" ucap gadis itu jujur.


"Tidak akan sebelum kamu menjawabnya lebih dulu," tolak Ritz mentah-mentah tanpa mengindahkan ucapan gadis itu.

__ADS_1


Mungkin Ritz sudah kehilangan sisi kewarasannya, tanpa rasa takut melamar gadis kecil yang bahkan usianya baru 18 tahun.


Parahnya lagi mereka terikat dalam status ayah dan anak angkat, apa pria itu tidak berpikir terlebih dahulu?


Ayana bingung harus melakukan apa lagi, menjawab takut salah dan mungkin apa yang di ucapkannya bisa saja menyakiti hati sang Daddy.


Akan tetapi, jika tidak di jawab bukankah dirinya sama saja mempermalukan pria kesayangannya itu.


"Apa yang harus Ayana jawab Tuan tampan?" tanya Ayana dengan sisa keberanian yang dia miliki.


"Apa perlu Daddy mengatakannya sekali lagi?" bukannya menjawab justru Ritz balik bertanya.


"Ayana tidak mengerti apa yang Daddy katakan," elak gadis itu walau dasarnya sudah tahu.


Hening, tidak ada yang kembali buka suara.


Ritz mencoba mengendalikan emosinya sementara Ayana masih sibuk dengan pikirannya yang kacau.


"Tatap mata ku, Ayana!" titah Ritz penuh penekanan tanpa embel-embel menyebut dirinya dengan panggilan Daddy lagi.


Gadis cantik itu refleks mengangkat wajahnya yang sebelumnya menunduk.


DEG!


Kedua netra indahnya langsung bertemu dengan mata tajam Ritz, seperti di sihir tubuh Ayana bergerak dan melangkah pelan sampai tepat di hadapan pria itu.


"Aku hanya akan mengatakannya sekali tanpa di ulang, pikirkanlah jawabannya dengan baik sebelum menjawab!" Ucap Ritz dengan nada serius


Hati Ayana sedikit gelisah begitu penasaran dengan apa yang ingin di lakukan ayah angkatnya itu.


Tuhan, ujian apa lagi ini. Bathin Ayana menjerit


...****...


Satu detik,


Dua detik,


Tiga detik.


Sampai 5 menit berlalu, Ayana masih setia menunggu.


Mata gadis itu membulat sempurna dengan mulut yang terbuka ketika Ritz mengungkapkan maksud dan tujuannya.


.

__ADS_1


.


"Azqia Azara, maukah kau menikah dengan ku?"


Ritz mengutarakan isi hatinya dengan suara lantang tanpa ada rasa takut sedikit pun, manik matanya masih setia menatap instens wajah cantik Ayana sambil menunggu jawaban dari mulut gadis itu.


"Daddy bercanda kan?" tanya Ayana lirih dengan air mata yang menetes.


Dirinya mencoba mencari kebohongan lewat sorot mata tajam Ritz, namun sepertinya hanya ada kejujuran di sana.


"Haha, ternyata bukan candaan." Ucap Ayana kini penuh dengan tanda tanya besar


"Jadi Daddy benar melamar Ayana?" lanjutnya bertanya demi memastikan semua ini hanyalah mimpi semata.


Akan tetapi, semuanya bukanlah mimpi semata melainkan nyata.


Dada Ayana terasa sesak ketika Ritz hanya menganggukan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya.


"Daddy bohong lagi sama Ayana," tuduh gadis masih itu belum percaya.


Ritz menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak sayang," sahutnya berbicara jujur.


"Pasti bohong. Ngga mungkin Daddy suka Ayana," cicit gadis itu sudah menangis histeris.


"Tetapi kenyataanya memang begitu sayang, haruskah aku mengatakannya berulang kali sampai kamu mengerti?" teriak Ritz mulai kehilangan kendali.


DEG!


"Huaaaa, Daddy jahat" tangis Ayana pecah mendengar Ritz berteriak padanya.


"Ayana ngga suka Daddy,"


"Sana pergi cari tante Maira! Ngga usah dekat-dekat Ayana lagi!"


Jeritan tangis Ayana membuat kepala Ritz rasanya mau pecah berhadapan dengan gadis manjanya.


"Astaga sayang, maafkan Daddy" rayu Ritz pada akhirnya bangkit dari lantai kemudian memeluk tubuh mungil Ayana.


"Ssttt, udah ya jangan nangis lagi. Maaf, Daddy janji ngga akan bentak kamu lagi." Bisiknya pelan di telinga Ayana


Entah apa yang akan terjadi nanti, andai kata gadis itu memberikan jawabannya.


.

__ADS_1


.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2