Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (38) Posesif


__ADS_3

...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Ritz seakan tidak rela berpisah dengan gadis kecil yang sangat ia sayangi bahkan mungkin lebih dari nyawanya sendiri.


Sikap posesif mulai Ritz perlihatkan mana kala ada sang sahabat begitu akrab berbicara dengan Ayana.


Semua anggota keluarga yang berada di bandara tercengang tidak percaya melihat sikap posesif Ritz, belum lagi tangannya yang melingkar erat di pinggang Ayana seolah mengatakan hanya dirinya lah yang berhak atas gadis cantik itu.


"Daddy jangan berulah, Ayana malu banyak yang lihat." Bisik Ayana berusaha melepaskan rangkulan Ritz dari pinggangnya


Seakan tidak terima tanggannya di singkirkan, Ritz menatap tajam ke arah gadis cantik yang sudah memenuhi seluruh hati dan pikirannya.


Bukan Ritz namanya jika mau menuruti ucapan Ayana, tidak puas merangkul kini tangan kekarnya beralih memeluk erat tubuh mungil Ayana dengan sengaja menyembunyikan wajah gadis itu di dada bidang miliknya.


Eyang dan orang tua Ritz menggeleng tidak percaya melihat betapa besar tingkat posesif yang di miliki satu-satunya pewaris tunggal seluruh harta kekayaan milik keluarga Rendra.


"Daddy kenapa sih, perasaan dari tadi meluk Ayana mulu." Kesal Ayana mulai tidak nyaman menjadi pusat perhatian


"Jangan terlalu dekat dengan papi Devan!" Pinta Ritz mutlak


Ayana mengerutkan dahinya mendengar kalimat penuh penekenan dari pria kesayangannya itu.


"Bukannya papi Devan adalah sahabat Daddy? kenapa Ayana ngga boleh dekat dengan papi?" Tanya Ayana sedikit bingung


Melihat sikap posesif yang di tunjukkan sang Daddy, membuat hati Ayana tidak karuan.


Jangan terlalu percaya diri Ayana, bukankah kamu tahu bagaimana Daddy. Ucap Ayana dalam hati menyadarkan dirinya


Dari arah berjarak satu meter Devan tersenyum geli melihat betapa posesifnya sang sahabat pada gadis kecil yang di anggapnya sebagai adik.


Kau benar-benar telah menunjukkan siapa yang lebih pantas berada di samping mu, Ritz. Hanya saja kau tidak menyadari semua itu, dan memilih mengikuti egomu. Desis Devan dalam hati


"Jangan terlalu memperlihatkannya padaku, Ritz. Memangnya lo pikir otak gue ngga waras?" Cebik Devan tidak suka seraya menatap tajam ke arah Ritz


"Gue bukan lo yang pedofil ngga ingat umur." Lanjutnya dengan sindiran halus


Mata Ritz menatap nyalang mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan sahabatnya, apa tadi pria itu bilang? Ia adalah pedofil?


"Sekali lagi lo bicara sembarangan, siap-siap saja gelar Dokter lo itu hilang!" Ancam Ritz tidak main-main


Berulang kali Devan menelan kasar salivanya mendengar nada ancaman dari sang sahabat.

__ADS_1


"Lo benar-benar kejam." Kesal Devan segera meninggalkan pasangan ayah dan anak angkat tersebut


Tinggal sepuluh menit lagi waktu yang tersisa, Ayana terus memeluk erat tubuh kekar pria kesayangannya seolah mencoba menguatkan diri untuk tidak menangis lagi.


"Jaga dirimu baik-baik, ingat pesan Daddy!" Bisik Ritz di telinga gadis manjanya


"Hmm, Daddy jangan sedih ya. Cepat atau lambat kita pasti akan bertemu kembali, meski Ayana tidak yakin kapan waktu itu datang." Sahut Ayana dengan nada getir


"Semua akan baik-baik saja, percayalah Daddy pasti akan menunggumu dan ingat jangan beritahu Eyang tentang rahasia kita berdua." Balas Ritz seraya tertawa lepas


Ia merasa lucu dengan tingkah konyolnya saat membisikkan sesuatu pada Ayana, entah dari mana datangnya keberanian Ritz.


Eyang datang menghampiri sang cucu dan Ayana untuk memberitahu pesawat sebentar lagi akan berangkat.


Dengan berat hati Ritz melepas pelukannya dari tubuh mungil sang putri, ada rasa yang sulit di ungkapkannya ketika sekelabat ingatan mengenai gadis itu terlintas di pikirannya.


"Sayang," Panggil Ritz begitu lirih


Ayana berusaha tersenyum semanis mungkin demi menyembunyikan rasa sedih yang sangat menyiksa bathinnya.


"Ayana sayang Daddy." Ucapnya kemudian mencium kedua pipi Ritz dan terakhir di sudut bibir


"Daddy sudah janji loh akan menghubungi Ayana lewat papi Devan." Bisik Ayana begitu pelan


Keduanya kembali tertawa bersama mengingat aturan Eyang seperti tidak akan ada gunanya, ibarat kata sebuah larangan berarti perintah bagi mereka.


...*****...


Saat ini tersisa Rirtz dan kedua orang tuanya yang masih setia berada di bandara.


"Jaga kesehatan sayang, segera hubungi mama kalau sudah sampai di sana." Pesan mama Ritz sambil memeluk sayang putranya


"Iya Mah." Sahut Ritz singkat


"Son, ingat pesan papa. Apapun yang terjadi nanti papa harap kamu tahu apa yang akan di lakukan nanti." Sambung papa Ritz yang wajahnya sangat mirip dengan sang putra


"Tenang saja Pah." Balas Ritz tersenyum tidak lupa memeluk hangat sang papa


Tidak berselang lama pesawat yang akan membawa Ritz ke negara tempat di mana sang Eyang tinggal akan segera berangkat.


Mama dan papa Ritz mengantar sang putra sampai di depan pintu masuk, tidak ada yang lebih menyakitkan di bandingkan dengan merelakan putra satu-satunya pergi demi sebuah tanggung jawab.

__ADS_1


Eyang membawa Ayana untuk melakukan pengobatan, sementara Ritz pergi karena permintaan sang Nyonya besar.


...****...


Di jalan menuju arah pulang ke rumah, mama Ritz terus saja menumpahkan air matanya tidak sanggup harus berpisah jauh dari sang putra.


Sejak Ritz kecil, wanita itu sangat jarang merawat dan menjaga putranya di karenakan pekerjaan sang suami yang selalu dinas keluar kota maupun keluar negri.


"Apa keputusan mami sudah benar Pah?" Tanya mama Ritz


"Jangan pernah meragukan setiap keputusan yang di ambil mami, bukankah semua ini demi kebaikan putra kita juga." Jawab papa Ritz


Sebagai seorang suami tentu ia harus sabar menghadapi sikap sang istri yang kadang kala sering berubah-ubah.


Seperti sekarang ini, wanita halanya itu tengah menangis dan meragukan keputusan yang di ambil sang ibu.


"Tapi apa Ritz bisa menjalani hari-harinya tanpa gadis itu? Selama ini mereka belum pernah sekalipun di pisahkan apalagi sampai tidak boleh saling memberi kabar, bagaimana kalau sampai Ritz nekat, Pah?" Tutur mama Ritz yang khawatir akan kondisi putranya


"Percayalah pada mami, sayang. Apapun hasilnya nanti, aku yakin pasti Ritz lebih tahu dengan siapa ia bersanding. Jangan hanya melihat dari satu sisi sayang, tapi lihatlah dari sisi lain juga. Mana tahu kalau ternyata justru jodoh yang Tuhan takdirkan pada putra kita adalah gadis cantik yang sangat ia sayangi itu." Jelas papa Ritz seraya memberi pengertian


"Mama sangat menyayangi Ayana, Pah." Ucap lirih mama Ritz


"Mama pikir papa juga tidak menyayangi gadis itu? Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka, semoga keputusan yang Ritz ambil benar-benar dari hatinya yang terdalam." Cebik papa Ritz


Sebagai orang tua, mereka hanya bisa mendoakan dan memberi dukungan. Sisanya biarlah sang pencipta yang menentukan jalan takdir seperti apa yang akan di lalui sang putra.


.


.


.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Like dan komennya yuk ramaikan๐Ÿ™


Makasih banyak ya teruntuk para pembaca kesayangan aku๐Ÿค—


Makasih sudah setia ikutin kisahnya.๐Ÿ˜‡


Sayang kalian banyak-banyak๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2