
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Ayana langsung menutup rapat mulutnya kala hampir saja kelepasan mengungkapkan isi hatinya, menurut Ayana ada yang tidak beres dengan sikap sang Daddy.
"Ahaa, Daddy tadi ngomong apa?" Elak Ayana sengaja mengalihkan topik pembicaraan
Mata Ritz menatap dalam manik mata gadis kecil kesayangannya, sesulit itukah berkata jujur. Pikir Ritz
Ponsel di saku celana Ritz bergetar, dengan cepat ia meraih benda pipih tersebut.
"Hallo, Eyang." Sapa Ritz
(Kalian di mana? Cepat bawa Ayana pulang! Dua jam lagi kita akan ke bandara.)
"Di jalan Eyang, sebentar lagi kami pulang."
(Jangan lama-lama.)
Tuttt.
****
Ritz beralih menatap ke arah putri angkatnya, rasanya waktu berputar terlalu cepat.
"Siapa yang telefon Daddy?" Tanya Ayana penasaran
"Eyang. Sudah waktunya kita pulang, semua orang sedang menunggu." Jawab Ritz sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya
Gadis itu hanya mengangguk paham seraya bangkit dari tempat duduk, terasa singkat waktu yang mereka habiskan hari ini.
Sepanjang perjalanan ke rumah utama, Ritz menjadi pendengar yang baik saat Ayana menceritakan banyak hal.
"Nanti kalau Ayana udah di sana, janji ya Daddy ngga boleh sampai rindu berat." Goda Ayana terkekeh
"Ini namanya penyiksaan, mana ada Daddy ngga akan rindu padamu. Kenapa coba Eyang sampai harus buat peraturan aneh begitu." Kesal Ritz tidak terima dengan aturan dari sang Eyang
Ayana tertawa lepas mendengar kalimat yang di lontarkan Daddy nya.
"Maksud Eyang itu baik, Daddy sayang. Ngga mungkin juga kan Ayana ngasih kabar Daddy mulu di saat kondisi Ayana masih dalam masa proses pemulihan." Tutur Ayana memberi pengertian
"Daddy bisa gila sayang kalau sehari saja tanpa ada kabar darimu." Keluh Ritz dengan wajah memelas
Setiap hari selalu bersama dan belum pernah sekalipun terpisah jauh, membuat Ritz frustasi bila di pisahkan seperti sekarang.
Belum lagi aturan dari sang Nyonya besar yang melarang adanya komunikasi antara Ritz dan putri angkat kesayangannya tersebut.
...****...
Mobil milik Ritz memasuki halaman rumah utama, sudah ada Eyang dan orang tuanya menyambut di depan pintu utama.
Ayana keluar dari mobil tanpa menunggu Ritz membukakan pintu, dia berjalan pelan menuju pintu masuk utama.
__ADS_1
"Dari mana ajah sayang?" Tanya mama Ritz menyambut kedatangan Ayana dengan pelukan hangat
"Makan siang di luar sama Daddy sekalian jalan-jalan, mah." Jawab Ayana sambil tersenyum manis
"Lebih baik kita masuk ke dalam! Tidak baik bicara di depan rumah." Ucap Eyang sudah melangkah masuk dalam rumah lebih dulu
Mama dan papa Ritz ikut mengekor dari belakang, sementara Ayana menunggu pria kesayangannya untuk masuk bersama.
"Ayo sayang." Ajak Ritz seraya mengulurkan tangannya
Ayana dengan senang hati menyambut tangan sang Daddy untuk di genggam, waktu yang tersisa tinggal sedikit akan di gunakan gadis itu sebaik mungkin.
Saat memasuki ruang keluarga, semua orang menatap ayah dan anak angkat tersebut dengan tatapan yang hangat.
Mereka ikut bergabung bersama Eyang dan lainnya, ada begitu banyak yang di bahas dan semua tidak luput dari kepergian Ayana.
Tepat jam 04 sore, semua sudah bersiap untuk menuju bandara. Ayana belum tahu jika Ritz akan berangkat juga di hari yang sama, hanya saja Eyang sengaja tidak memberitahukan hal itu pada gadis kesayangan dari cucunya.
...****...
Semua sudah berada di bandara, rasa tidak rela mulai menyelimuti hati seorang ibu dari putra yang sekarang akan pergi meninggalkannya selama satu bulan atau mungkin saja lebih.
Belum di tambah lagi dengan Ayana dan ibu mertua, sudah pasti kepergian ketiga orang tersebut mampu membuat hari-hari wanita itu terasa sunyi.
"Mami ngga sampai larang aku dan putra mama juga, kan?" Tanya Mama Ritz memelas
"Itu hanya berlaku pada Ritz, putramu. Biar ia bisa menetapkan pilihannya sebelum mengambil keputusan, tidak ada ceritanya seorang gadis yang hanya sebagai anak angkat harus hidup satu atap dengan Ritz dan pasangannya." Jawab Eyang seraya memberi penjelasan
Mama Ritz merasa kasihan dengan nasib putranya, selama ada Ayana dalam hidup Ritz belum pernah sekalipun dirinya melihat raut kesedihan di wajah sang putra. Akan tetapi, untuk sekarang mungkin semua dapat berubah.
Di saat semua orang mulai sibuk berbicara dengan Eyang, tidak jauh dari posisi mereka ada Ayana yang begitu heboh merengek manja pada Ritz.
Ayana mulai menangis tidak ingin berpisah dari Ritz, berulang kali di rayu tetap saja gadis itu menolak.
"Ayana sayang, lihat Daddy!" Pinta Ritz seraya menangkup wajah putrinya agar melihat ke arahnya
"Jangan menangis sayang, bukankah Ayana sudah janji pada Daddy akan patuh? Kita hanya berpisah sebentar sayang, bukan untuk selamanya." Rayu Ritz mencoba menenangkan Ayana
"Ayana takut Dad, bagaimana kalau nanti justru Ayana tidak bisa lagi bertemu Daddy. Bukankah pernikahan kalian akan segera tiba? Pasti Daddy tidak bisa lagi bertemu Ayana." Adu Ayana mengutarakan apa yang mengganjal dalam hatinya
Rita sampai bingung melihat perubahan sikap gadis kesayangannya, apa mungkin semua di sebabkan gangguan mental pasca operasi waktu itu, atau justru ada yang lain. Heran Ritz
Melihat Ritz hanya diam saja tanpa mengatakan apapun, membuat Ayana semakin menjadi dan kesal sendiri.
"Tuh kan, pasti Daddy lagi mikirin sesuatu." Tuduh Ayana menatap tajam ke arah sang Daddy
"Jangan mulai lagi sayang, percayalah! Daddy ngga akan kemana-mana. OK?" Sahut Ritz meyakinkan
"Begini saja, Daddy akan kasih tahu Ayana sebuah rahasia. Tapi Ayana harus janji ngga akan kasih tahu Eyang, bagaimana?" Tawar Ritz mulai bernegosiasi
Ayana nampak berpikir sejenak sebelum menganggukan kepalanya pertanda setuju.
__ADS_1
"Ok, Ayana janji akan tutup mulut dengan rapat." Jawab Ayana serius
Ritz mulai membisikkan sesuatu di telinga putrinya, sesekali terdengar tawa Ayana yang begitu menggelitik indra pendengarannya.
"Ingat, jangan kasih tahu Eyang soal rahasia kita." Ulang Ritz mengingatkan
"Siap Daddy." Kekeh Ayana tanpa melepaskan pekukannya di tubuh sang Daddy
Melihat semua anggota keluarga sudah menunggu, akhirnya mereka ikut bergabung bersama.
Beberapa pesan mama Ritz berikan pada Ayana, mulai dari menjaga pola makan yang sehat, tidur teratur, jangan banyak pikiran dan masih banyak lagi.
Puas berbicara dengan papa dan mama Ritz serta anggota keluarga lainnya, kini Ayana beralih pada pria tampan yang sejak tadi hanya diam berdiri tanpa ikut bergabung.
"Daddy jaga kesehatan ya, makan dengan teratur dan ingat! Jangan suka tidur larut malam, Ayana ngga mau sampai dengar Daddy sakit." Ucap Ayana berpesan pada Ritz
Pria tampan itu sampai menghela napas panjang demi menormalkan detak jantungnnya, rasa tidak rela harus berpisah nyatanya sangat menyakitkan.
"Ayana sayang ngga sama Daddy?" Tanya Ritz tiba-tiba
"Kenapa di tanya? Sayang Ayana ke Daddy itu lumer luber sampai tumpah-tumpah malah." Jawab Ayana tertawa
Ritz menatap intens wajah cantik alami gadis kesayangannya, sedetik kemudian ia nekat mencium putrinya yang terkejut.
Ciuman lembut yang di beri lum matan lum matan kecil mampu membawa Ayana terbang melayang, beruntung posisi mereka berada jauh dan tersembunyi.
"Daddy mencintai mu." Bisik Ritz tepat di telinga Ayana
DEG!
Mata Ayana membulat sempurna mendengar bisikan dari pria kesayangannya, dia tidak ingin berharap lebih atau menganggap kalimat itu sebagai ungkapan perasaan.
Mungkin Daddy mencintai ku sebagai putrinya, jangan berharap lebih Ayana. Ucap Ayana dalam hati
Lamunan Ayana langsung buyar saat Eyang memanggil namanya.
"Daddy, sudah waktunya Ayana pergi." Bisik Ayana masih berada dalam pelukan Ritz
"Berjanjilah akan kembali lagi pada Daddy!" Pinta Ritz memohon
"Ayana pasti kembali Daddy, hanya pada Daddy tempat Ayana pulang." Tegas Ayana meyakinkan
Ritz kembali memeluk erat gadis kesayangannya, berharap ini adalah perpisahan yang manis demi untuk berjumpa kembali.
.
.
.
ππππ
__ADS_1
Jangan lupa like dan juga komennyaπ
Yuk Ramaikan.π