Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (33) Mengalah


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Tubuh Ayana yang tiba-tiba saja melemah setelah pertengkaran hebat di jalan pulang beberapa waktu lalu, sekarang kembali merasakan menginap di rumah sakit dengan kondisi terdapat selang infus di satu tangannya.


"Kenapa bisa sampai seperti ini Ritz? Bukankah sebelumnya Eyang sudah mengingatkan mu untuk menjaga suasana hatinya? Apalagi Ayana belum sepenuhnya sembuh, gangguan emosinya belum stabil." Cecar Eyang memberi pertanyaan pada Ritz


Betapa terkejutnya wanita baya itu ketika mendengar kabar Ayana masuk rumah sakit lagi, padahal semua orang telah menunggu kedatangan Ritz dan gadis itu di rumah utama.


Tetapi siapa sangkah kabar yang tidak baik justru mereka dapatkan. Baik orang tua Ritz, Eyang, Radit dan Amalia memilih bungkam tidak berani menghubungi Devan selaku Dokter yang menangani kondisi Ayana.


"Pak Bos ngapain lagi sih, Dit? Kok pulang-pulang gadis kecil sudah seperti itu." Tanya Amalia begitu penasaran


"Mana aku tahu." Jawab Radit singkat


Menjelang sore, Eyang dan lainnya pamit untuk pulang ke rumah, mereka akan kembali lagi di malam hari selesai makan malam.


Di kamar inap yang luasnya bagai kamar hotel bintang lima tersebut hanya tertinggal Ritz sendiri menemani putrinya.


"Maafkan Daddy, sayang. Bukan maksud Daddy berlaku kasar padamu, setiap kalimat yang keluar dari mulut mu membuat hati Daddy sangat sakit." Ucap Ritz lirih


Satu tangan Ayana tanpa selang infus di genggamnya erat, rasa takut akan kejadian masa lalu terulang lagi terus bersemayam di benak Ritz.


...*****...


Ritz yang tertidur dalam posisi duduk sambil menggenggam jemari putrinya, belum menyadari jika Ayana ternyata sudah sadar.


Kedatangan Dokter dan perawat yang datang mengecek kondisi Ayana pun sama sekali tidak mengganggu tidur Ritz.


"Sepertinya Daddy mu sangat kelelahan sampai tidurnya begitu nyenyak." Kekeh sang Dokter yang hanya di balas senyuman dari Ayana


Usai melakukan pemeriksaan, Dokter dan satu perawat tersebut pamit keluar dari ruangan.


Senyum Ayana mengembang begitu bahagia melihat perlakuan sang Daddy yang masih sama seperti yang dulu.


Andai saja waktu bisa di putar kembali, Ayana hanya ingin Daddy memiliki satu gadis saja di hidup Daddy. Betapa hebatnya takdir yang mempertemukan kita berdua di waktu yang tidak terduga, dan takdir juga yang akan memisahkan kita.


...🌹...


Ritz menggeliat kecil ketika merasakan sebuah tangan mengusap pipinya, perlahan matanya di buka.


"Maaf, Ayana pasti buat tidur Daddy jadi terganggu." Ucap Ayana pelan sambil tersenyum begitu manis


"Kamu sudah bangun sayang, maaf Daddy ketiduran." Sadar Ritz begitu lega melihat putrinya baik-baik saja

__ADS_1


"Apa ada yang sakit? Atau bagian mana yang tidak nyaman?" Lanjutnya


Tawa Ayana pecah melihat raut wajah khawatir sang Daddy, menurutnya sedikit lucu dan menggemaskan, apalagi di saat seperti ini fokus pria kesayangannya itu hanya berpusat padanya.


"Dad," Panggil Ayana pelan


"Iya sayang ada apa, hmm?" Sahut Ritz cepat


"Ayana boleh minta sesuatu?" Tanya Gadis itu


"Apapun yang Ayana inginkan, akan Daddy berikan." Jawab Ritz dengan nada yang lembut


Selama ini Ritz memang belum pernah sekalipun mengatakan kata tidak pada putrinya di saat ada yang di inginkan gadis itu.


"Ayana ingin tidur di pelukan Daddy." Ucap Ayana sedikit malu


Satu permintaan sederhana, namun bagi Ritz itu merupakan sesuatu yang sangat berharga.


Ritz segera naik ke atas brankar ikut berbaring di samping putrinya, satu tangannya di jadikan bantal kepala Ayana.


"Tidurlah! Daddy akan tetap di sini menemani mu." Titah Ritz mengusap pelan punggung gadis kecil kesayangannya yang kembali menutup mata


Malam ini Ritz sengaja meminta Eyang dan lainnya agar jangan datang dulu ke rumah sakit, ia tidak ingin waktu istirahat putrinya sampai terganggu.


Tidak akan ada yang berubah, Ayana tetap menjadi satu-satunya gadis kesayangan Daddy. Sampai kapanpun posisi Ayana di hati Daddy takan tergantikan.


...*****...


Pagi telah tiba.


Ayana di nyatakan boleh pulang siang nanti, kondisinya yang kembali pulih seperti semula masih menjadi tanda tanya besar di otak Dokter wanita yang kebetulan bertugas merawat gadis itu.


Pasalnya semalam Dokter tersebut sempat kembali mengecek kondisi tubuh Ayana, dan seharusnya gadis itu masih perlu di rawat beberapa hari lagdi. Akana tetapi, pagi ini saat kembali di periksa semua justru berbanding terbalik, Ayana benar-benar telah pulih.


"Ritz, bagaimana kondisi Ayana?" Tanya Eyang


"Dokter mengatakan Ayana baik-baik saja, siang nanti dia sudah boleh pulang." Jawab Ritz


Kedatangan Eyang beserta lainnya tidak berselang lama karena mereka juga memiliki pekerjaan masing-masing.


Baik Radit dan Amalia sudah di berikan tugas menangani masalah perusahaan dan beberapa klien yang ingin bekerja sama, mereka mampu di andalkan terlebih saat Ritz mengalami masalah seperti sekarang.


...****...

__ADS_1


Menjelang siang Ayana begitu tidak sabaran ingin cepat-cepat keluar dari rumah sakit, dia rindu kamarnya, rindu suasana rumah di mana sudah tujuh tahun lamanya di tempati bersama pria kesayangannya.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Ritz setelah merapikan kamar inap putrinya


"Ayo! Ayana ngga sabar pengen cepat pulang ke rumah." Jawab gadis itu cepat


Langkah kakinya berjalan pelan keluar kamar di ikuti Ritz dari belakang, beberapa perawat dan Dokter yang melihat tingkah lucu gadis itu tersenyum gemas.


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Ayana tidak henti-hentinya bercerita. Melihat betapa cerianya sang putri kini semakin membuat hati Ritz tenang dan bahagia, setidaknya apa yang terjadi kemarin tidak lagi di ingat putrinya.


Hanya butuh waktu lima belas menit akhirnya mereka sampai di rumah, Ayana lebih dulu keluar dari mobil langsung berlari masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah hanya ada beberapa pelayan dan sang Bibi, pihak keluarga di larang Ritz untuk datang.


Waktu makan siang kebetulan sudah tiba, Ritz meminta Bibi pelayan untuk memanggil putrinya du kamar. Ia tahu pasti gadis kecilnya itu sedang asik menonton drama kesukaannya, sambil menunggu sang putri turun dari lantai atas, Ritz lebih dulu menuju ruang makan.


"Daddy," Seru Ayana dari atas tangga dengan setengah berlari pelan sampai ke ruang makan


Ritz yang khawatir takut putrinya terjatuh dengan cepat bangkit dari duduknya.


BRUKK!


"Hati-hati sayang! Bagaimana jika sampai kamu terjatuh." Khawatir Ritz menangkap tubuh mungil putrinya


"Haha, tadi Bibi lucu bangat masuk kamar Ayana hampir saja terjatuh." Adu Ayana tertawa lucu


"Sstt, ngga baik sayang ngetawain Bibi. Lain kali jangan gitu lagi ya! Kasihan Bibi kalau sampai sedih." Ucap Ritz memberi pengertian


"Siap Daddy."


Ritz sebenarnya masih bingung dengan ucapan Dokter saat masih di rumah sakit tadi pagi, wanita itu mengatakan selama beberapa hari ke depan cobalah untuk selalu mengalah bila mendapati sikap Ayana yang mungkin sedikit kekanakan dan manja.


.


.


.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Likenya jangan lupaπŸ™


Komennya juga😁

__ADS_1


__ADS_2