Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (52) Jujur?


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Sepanjang perjalanan pulang, Ayana terus merengek dan menangis. Ritz dengan penuh kesabaran mengusap pelan bagian perut gadis manjanya demi meredakan rasa sakit.


"Sakit Daddy, hiks" adu Ayana nyaris tidak terdengar.


Beruntung waktu baru menunjukkan pukul 3 sore, masih ada beberapa jam sebelum acara ulang tahun si cantik kesayangannya.


"Tahan ya, sebentar lagi sampai." Rayu Ritz menenangkan


Pria tampan itu mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, meski sedikit sulit karena Ayana masih berada dalam pelukannya.


15 menit kemudian mereka sampai di rumah, Ritz yang lelah hanya memarkirkan mobil milik nya dengan asal di halaman.


Salah satu pelayan membantu Ritz membukakan pintu mobil, sedikit kesulitan karena Ayana tidak ingin turun dari gendongan pria itu.


Beginikah rasanya memiliki anak yang begitu manja. Jerit Ritz dalam hati


Hanya gadis kesayangannya lah yang mampu membuat seorang Ritz dengan karakter dingin dan kejam berubah menjadi lemah lembut dan penuh kasih sayang.


Jika di perusahaan atau di luar rumah sikap kejam dan kasarnya sering di keluarkan, semuanya tentu tidak berlaku ketika di hadapan sang putri.


Yah, hanya Ayana dan selamanya posisi gadis itu tidak akan pernah tergantikan. Perihal Maira? Mungkin Ritz harus lebih banyak bersabar dalam menghadapi wanita itu, akan ada saatnya ia menyelesaikan masalah yang di perbuat sang kekasih.


...****...


CEKLEK!


Pintu kamar terbuka lebar.


"Terima kasih Bibi," ucap Ritz sebelum melangkah masuk ke dalam kamar miliknya.

__ADS_1


Tubuh mungil Ayana di baringkan dengan hati-hati di atas tempat tidur, takut jangan sampai gadis itu kembali mengamuk.


Belum sempat Ritz beranjak pergi, tangannya sudah di genggam erat gadis manjanya.


"Daddy mau kemana lagi?" tanya gadis itu dengan suara pelan.


"Menyiapkan air hangat sayang, tidak mungkin Ayana tidur dalam keadaan kotor begitu" jawab Ritz dengan kekehan.


Pria tampan itu bahkan tidak perduli lagi dengan keadaan kemejanya yang terkena darah ketika menggendong Ayana barusan, apalagi sekarang gadis itu tengah berbaring di atas ranjang, bisa di pastikan bagaimana keadaannya.


"Memangnya Daddy ngga merasa jijik?" tanya Ayana dengan polosnya.


Gadis cantik itu seakan lupa bagaimana dulu saat hendak datang bulan pastinya pria tampan itu akan ikut andil mengurusinya, mana mungkin Ritz merasa jijik.


"Sudah biasa," jawab Ritz singkat kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ayana menghela napas pelan dan membuangnya kasar.


"Coba saja aku tidak lemah," pikirannya melayang jauh ke masa dimana nantinya dia akan belajar mandiri tanpa harus bersembunyi lagi di balik perlindungan Ritz.


Lama melamun membuat Ayana tidak menyadari kini tubuhnya sudah berada dalam gendongan pria itu.


Apa yang gadis ini pikirkan sampai tidak sadar akan keberadaan ku? tanya Ritz dalam hati.


Ekhemm!


Deheman kuat Ritz sukses menyadarkan Ayana dari lamunannya, mata gadis itu membulat sempurna kala merasakan tubuhnya melayang di udara.


"Kyaaaa, apa yang Daddy lakukan?" jeritnya menggema di dalam kamar mandi.


Jantung Ayana berdetak sangat kuat, bagaimana bisa dirinya melamun dan tidak menyadari keberadaan sang Daddy.

__ADS_1


"Kenapa harus Daddy yang membawa Ayana kemari? Kaki Ayana masih bisa di gunakan, ya ampun. Betapa malunya aku," cicit Ayana tidak lupa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria kesayangannya.


Tindakan Ayana sukses membuat Ritz tertawa keras, inilah yang paling ia rindukan dari gadis kesayangannya.


"Sudah jangan malu begitu, lagi pula Daddy sudah pernah melihatnya." Sahut Ritz dengan tidak tahu malunya bahakan ia sengaja menggigit gemas telinga gadis itu


Ya Tuhan, kondisikan jantung ku. Jerit Ayana sangat frustasi di dalam hati


Salahnya dulu begitu nekat berganti pakaian di depan pria kesayangannya hanya karena rasa cemburu dan kesal melihat betapa mesranya Ritz ketika bersama sang kekasih bernama Maira.


Huh, gara-gara wanita itu sampai sekarang rasa kesal ku masih mendarah daging. Dia membuat ku sampai di bentak Daddy, cihh.


Sampai mati pun Ayana tidak akan pernah melupakan bagaimana dulu sang Daddy membentak dirinya hanya karena berlaku nekat.


Keberadaan Maira sukses mengacak hati dan pikiran gadis itu, terlebih sekarang sudah ada pembahasan masalah pernikahan.


Apa aku jujur ajah ya ke Daddy? Tanya Ayana dalam hati


Saat Ritz keluar dari dalam kamar mandi, Ayana memilih berendam sejenak di dalam bathup yang berisi air hangat. Beruntung datang bulannya bisa di ajak kompromi, tidak keluar di saat dia tengah asik memanjakan diri.


Aku akan jujur ke Daddy, tapi belum sekarang.


Entah apa yang di pikirkan Ayana.


.


.


.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


__ADS_2