
Beberapa bulan berteman dengan Ben membuat benar benar bisa merasakan warna baru dalam hidup ku
Aku bisa merasakan rasa nyaman yang tidak pernah kudapatkan dari pertemanan dari kaum Adam. Entah kenapa apa saja yang dilakukan oleh Ben begitu indah dan menarik di mataku.
Sepertinya pagi ini aku masih berada di alam mimpi tiba tiba saja aku mendengar suara ketukan, dengan setengah sadar aku segera bangun karena mendengar suara Ben memanggil namaku.
" Ya ampun" Kataku sambil berusaha mengumpulkan seluruh kesadaran ku dan langsung mencuci wajah dan menggosokkan gigiku.
"Mengapa hampir setiap pagi Ben menjadi selalu menjadi alarm bagiku??" kataku
Akupun membuka pintu dan melihat senyum Ben,
" Ahhhhh"
Rasanya itu menjadi vitamin di pagi hari buatku dan tanpa perintah ku Ben segera masuk dan langsung menuju dapur.
" Kenapa bangun terlambat Delanie, ini seperti bukan cerminan wanita Indonesia" kata Ben mengejekku
" Semalam aku berlatih sampai malam" kataku sedikit berbohong padahal semalaman aku begadang sambil membaca novel hingga aku tak sadar aku tertidur di sofa hingga Ben datang.
" Bukan membaca romansa" tanya Ben sambil mempersiapkan sayuran untuk sarapan pagi.
Aku terkejut saat Ben bisa menebak apa yang kulakukan tadi malam
" Apa jangan jangan Ben memasang CCTV tanpa sepengetahuan ku??"
Aku menatap dengan penuh curiga dan lagi lagi Ben mengetahui gelagat ku.
" Aku melihat Selimut dan sebuah novel terletak di sofa , aku yakin kau menghabiskan malam disana" kata Ben
" Benar" kataku
Aku memperhatikan Ben yang sedang mempersiapkan roti dan juga salad untukku.
" Ya ampun dia sempurna sekali" kataku dengan tatapan tidak berkedip
" Silahkan sarapan Nona Delanie" kata Ben sambil meletakkan sepiring salad di hadapan ku
__ADS_1
" Hanya ini??" kataku protes,
" Aku juga ingin yang itu" kataku sambil sambil melihat roti yang dibuat oleh Ben, seperti nya itu sangat enak dan juga wangi karena Ben membakarnya dengan sempurna
" Aku harus menjaga berat badan, kau akan terlihat buruk jika kelebihan berat badan"
" Aku tersiksa dengan salad ini lagipula aku bukan kau vegetarian" kataku dengan wajah cemberut
" Benarkah??? Kau mau ini??" kata Ben sambil menyodorkan potongan roti itu padaku
Ben menaruhnya di mulutnya dan memberikan isyarat agar aku mengambil nya. Sontak saja wajahku langsung memerah dan memilih sarapan dengan salad yang tersaji di depan mataku.
" Itu konyol" kataku sambil memasukkan beberapa helai potongan selada ke dalam mulutku.
"Ini sungguh menyiksa" kataku dalam hati
Rupanya Ben meras bersalah kerena hal itu,
" Apa kau merasa tidak nyaman" katanya
'' Hmmmmm" kataku tanpa melihat nya
" Kerena apa???" tanyaku sambil mengalihkan pandangan padanya
Rupanya saat itu Ben juga sedang menatapku dan ia sedang menunggu ku untuk menatapnya. Tatapan kamu bertemu dan saling terkunci.
Mata biru dan teduh itu lagi lagi bisa menghipnosis ku, aku merasa tatapan itu menjelaskan sambungnya kalimat Ben.
" Aku.... menyukaimu Delanie" kata Ben dengan lirih, ia tetap melihat ku dengan tatapan mematikan itu..
" Duggggghhh" Jantungku seolah mendapat tembakan yang cukup keras, aku sama sekali tidak menyangka Ben akan mengatakan hal itu.
" Ha.....ha...."
Aku mencubit pipi Ben Sambil tertawa, sebenarnya aku mencoba mencair kan suasana yang sudah terlanjur canggung.
" Kau memang pandai bercanda Ben, aku juga menyukai mu sebagai teman " kataku
__ADS_1
Jelas saja aku begitu senang dengan pangkuan Ben apalagi saat mengucapkan nya ia terlihat gugup walaupun ia menatap ku.
" A....apa menurutmu ini sebuah lelucon ya??" kata Ben, ia seperti kehilangan selera makan saat aku menyebut nya teman
" Tentu saja tidak" kataku
" Lalu??" kata Ben meminta penjelasan lebih
" Aku ingin jadi kekasihmu" kata Ben sambil menunduk
Aku kemudian meletakkan sendok yang aku pegang di atas piring, aku juga masih bingung dengan hubungan ini.
" Ini terlalu cepat Ben, aku lebih menyukainya persahabatan" kataku, walau pun sebenarnya aku juga menginginkan hal yang sama
" Apa itu artinya penolakan??" tanya Ben lagi
" Apa jangan jangan kau sudah punya kekasih??" tanya Ben lagi, sepertinya ia tidak terima dengan keputusan untuk bersahabat.
" Tidak... " kataku
" Lalu?? apa aku bukan pria menarik??" tanya Ben lagi
Lagi lagi aku menggeleng kan kepala.
" Bagiku kau sempurna Ben" aku ku, itu kerena Ben memang pria sempurna di mataku.
" Lalu??"
Ya ampun begitu banyak pertanyaan Ben yang harus ku jawab sehingga aku pusing sendiri menjawabnya.
Ben akhirnya pergi untuk melanjutkan Tesisnya, aku bisa melihat wajah kecewa yang tersirat di wajahnya.
" Kau begitu menarik Ben , bahkan lebih" kataku sambil menatap kepergian Ben yang perlahan menghilang bersama mobil nya.
" Aku hanya takut terkena karma, aku takut sekali"
Aku takut jika dosa dosa. yang dilakukan oleh Dadyku akan terjadi pada ku, aku takut jika oaracpria hanya memanfaatkan aku saja seperti Dady.
__ADS_1
" Aku takut kehilanganmu Ben"