Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Kabar buruk


__ADS_3

Pagi itu aku dikagetkan oleh informasi yang mengatakan bahwa Ryana sedang berada di ruang UGD, secepat kilat aku langsung membangunkan Ricardo dan mengatakan bahwa Putrinya sedang ada di rumah sakit.


" Disana kan ada Nur sayang jangan terlalu cemas" kata Ricardo


" Mas aku benar benar akan sangat marah jika kau mengabaikan anak tidak berdosa itu"kataku sambil menarik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya


Ricardo pun akhirnya bangun dan tanpa sarapan kami segera menuju rumah sakit untuk mengetahui kebenaran kabar yang disampaikan oleh Nur.


" Cepat mas" kataku sedikit tidak sabaran


" Ya ampun sayang kamu tenang saja deh, Ryana sudah sering mengalami hal seperti ini. Ini pasti akal akalan Nur"


" Mas jangan berpikir negatif seperti itu kau bayangkan jika menjadi Nur yang menjadi singel parents di masa mas sulit" kataku dengan nada kesal,


" Aku tidak ingin Ryana menjaga korban walaupun keadaan fisik nya kurang tapi bukan berarti dia kehilangan perhatian dari orang tuanya justru sebaliknya mas" omelku lagi


"Iya aku minta maaf sayang" Kata Ricardo sambil mengelus kepala ku.


Akhirnya kami sampai dirumah sakit dengan selamat, dengan Langkah yang sangat cepat aku segera menuju ruang UGD untuk melihat keadaan Ryana.


" Hati hati sayang!! ingat kau juga sedang mengandung"kata Ricardo sambil berjalan di samping ku


Langkah ku terhenti saat melihat Nur yang menangis di ruang tunggu Ruang UGD, aku melihat ia sampai sesegukan karena mengkhawatirkan putrinya.


Aku mengelus perut ku dan membayangkan jika hal itu terjadi padaku, hatiku terasa nyeri jika melihat hal hal seperti itu.

__ADS_1


" Mas... lihat Nur kasihan dia"kataku sambil menatap Nut yang memancarkan Wajah kehancuran


Kami berdua pun menghampiri Nur dan hal pertama yang ia lakukan adalah memeluk Ricardo. Ia menangis di pelukan Ricardo yang hanya diam saja.


Sungguh aku tertegun dan mulai berpikiran negatif pada Nur.


"Apa Nur memanfaatkan keadaan"


Ricardo segera menepis pelukan Nur dan bertanya apa yang terjadi pada Ryana.


"Dia sesak mas dan kondisi nya detak jantung nya melemah, aku takut sekali mas" Kata Nur dengan berlinang air mata


"Kamu sebaiknya tenang aku yakin Ryana akan baik baik saja" kataku yang berusaha menenangkan Nur


"Tidak ...dia pasti baik baik saja, tenanglah" kataku sambil menepuk pundak Nur


Hampir setengah jam kami menunggu di luar ruangan UGD tapi dokter yang menangani Ryana belum juga keluar. Hal ini membuat Nur semakin takut, sedari tadi ia mondar mandir untuk menunggu dokter yang keluar.


" Sayang kita sarapan dulu yuk, tadikan kamu belum makan juga" kata Ricardo


" Nanti saja mas, aku tidak mungkin meninggalkan Nur sendirian"


Ricardo pun berinisiatif untuk ke kantin dan membelikan Beberapa bungkus roti dan juga teh hangat untukku.


" Makan sayang aku tidak ingin kamu sakit" kata Ricardo memberikan roti ke dalam mulutku

__ADS_1


Melihat perhatian Ricardo yang cukup besar wajah Nur semakin gusar dan penuh dengan kebencian, aku bisa melihat tatapan cemburu ketika Ricardo menyuapi sarapan. Oleh sebab aku aku langsung mengambil inisiatif untuk sarapan sendiri.


Hampir satu setengah jam menunggu akhirnya Dokter yang menangani Ryana keluar dan mengatakan kalau kondisi Ryana tidak bisa diselamatkan lagi.


Otak Ryana sama sekali tidak berfungsi lagi dan ia hanya meminta persetujuan Nur dan Ricardo untuk mencabut semua alat yang menempel pada tubuh Ryana. Dalam arti lain jika alat itu di lepas maka Ryana akan pergi untuk selamanya


Nur menangis histeris mendengar perkataan Dokter itu, ia bahkan memukul dinding beberapa kali karena kenyataan pahit yang ia alami.


" Yang sabar ya Nur " kataku yang berusaha menenangkan Nur


" A...ku tidak bisa kehilangan Ryana, dia adalah semangat dalam hidupku karena dia anak dari laki laki yang kusayangi" Isak Nur


Aku menatap Ricardo yang hanya diam saja, aku meminta nya untuk mendekat dan menghibur Nur


" Sudah lah Nur sudah saatnya Ryana untuk tenang" Kata Ricardo


Seketika Nur menatap Ricardo dengan tatapan yang sangat marah.


" Ka...u kau adalah ayah yang tidak bertanggung jawab, sejak Ryana lahir kau tidak pernah memperhatikan nya mas, kau malah sibuk mengejar Delanie. Apa karena dia terlahir cacat?? " Bentak Nur Dengan marahnya


" Aku tau kau tidak mencintai ku tapi apa salah Ryana?? Walaupun ia terlahir dari sebuah kesalahan tapi dia berhak untuk bahagia" kata Nur lagi


Aku hanya diam saja melihat kemarahan Nur, aku bisa memaklumi Bagaimana rasanya menjadi wanita yang mencintai sebelah pihak.


Aku telah merasakan nya sewaktu bersama dengan Zio, hanya ada rasa kecewa, cemburu , marah. Terbayang di pelupuk mataku rasa cemburu dan tertekan kerena lelaki yang kita cintai malah terjebak dalam cinta yang lain

__ADS_1


__ADS_2