
Semakin kusadari bahwa kehilangan Ricardo adalah hal yang terburuk setelah aku kehilangan Kedua orang tuaku. Aku telah melakukan berbagai cara termasuk datang ke kantor Ricardo berulang kali tapi aku tidak pernah menemukan titik terang karena dia tidak pernah berada di kantor.
Aku tidak tahu harus melakukan apa, aku lebih banyak berdiam diri di rumah sambil menunggu kedatangan suamiku.
"Aku sungguh menyesal"kataku sambil menatap ke luar dari jendela kamar ku, aku sangat berharap Mobil Ricardo datang dan mencium keningku.
" Kapan momen ini akan terulang mas" lirihku dengan harapan yang tidak tahu ujungnya.
Jam menunjukkan di angka jam satu pagi hari tapi aku tidak bisa memejamkan mataku, aku sangat merindukan Ricardo dan ini sungguh sangat menyiksa Ku.
Sebenarnya aku sudah sangat lelah dengan keadaan ini bahkan satu malam ini aku terus menangis tapi sampai menjelang pagi hari aku tidak bisa tidur. Aku merasakan kepalaku sangat pusing kerena terus menangis.
Aku bangkit kembali untuk mengambil obat pereda nyeri di kepala ku, sekarang aku hampir tiap hari minum obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa sakit yang aku rasakan.
" Non apa anda sudah tidur??"
Aku sangat terkejut mendengar suara Bi Jida tidak biasanya ia datang ke kamar ku di jam segini.
" Non"kata Bi Jida lagi membuat ku semakin terkejut dan segera menjawab bahwa aku akan segera tidur
" Boleh bibi masuk??" kata Bi Jida lagi
" Silahkan Bi"
__ADS_1
Sungguh terkejut bukan main ketika Bi Jida datang dengan membawa sebuah cake ulang tahun untukku.
" Ya ampun aku hampir lupa" kataku sambil menepuk jidat ku karena telah melupakan hari ulang tahun ku sendiri.
" Selamat ulang tahun.... selamat ulang tahun tahun....... selamat..."
Bi Jida bernyanyi dengan suara cempreng nya dan ini bisa membuat ku tersenyum walaupun kini pipiku sudah basah lagi karena airmataku yang sudah mengalir begitu saja.
" Terimakasih Bi " kataku sambil memeluk Bi Jida
" Sekarang Make a wish dong non"
" Ya ampun Bibi ternyata gaul sekali" kataku sambil menutup mata
Aku membuka mata untuk meniup lilin tapi saat itu Aku malah melihat Ricardo yang berdiri sambil memegang kue yang tadinya di pegang oleh BI Jida malah diganti kan oleh Ricardo.
" Ya ampun aku pasti bermimpi" kataku sambil mencubit pipiku tapi aku malah kesakitan dan Ricardo masih ada disana
" Mas" kataku untuk meyakinkan
" Selamat ulang tahun Delanie ku sayang..."
Seketika aku langsung terkejut sambil memeluk suami yang begitu aku rindukan.
__ADS_1
" Ini bukan mimpi kan??" kataku sambil terus memeluk Ricardo dari Samping.
" Tiup lilinnya dulu dong" kata Ricardo
Dengan semangat aku meniup lilin bertuliskan usia 29 tahun dan aku segera memotong dan memberikan nya pada Ricardo
" Bi Jida kemana ya mas??" tanyaku
" Sudah pergi dan aku juga akan pergi setelah ini, aku hanya datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu" kata Ricardo seketika membuat ku langsung lemas
" Tidak....kau tidak boleh pergi mas, aku tidak mau" kataku sambil merengek dan terus memeluk lengan Ricardo
" Tapi Nur akan curiga bukankah perjanjian itu selama satu tahun dan aku tidak boleh bertemu dengan mu"
" Mas aku akan tarik ucapan ku tapi jangan begini aku mohon" kataku sambil menatap Ricardo, rasa rindu yang aku rasa belum juga reda malah Ricardo sudah harus pergi.
" Janji tetaplah Janji Delanie, "
" Masss kamu jahat sekali, aku tidak mau" kataku malah semakin mewek dan menangis,
" Ini masih dua Minggu dan Kita masih butuh waktu 50 Minggu lagi untuk mengakhiri semua nya ini. Aku harap kau bersabar atau cari saja lelaki yang bisa menggantikan aku " kata Ricardo
" Tidak mas ... jangan aku mohon"
__ADS_1
Percuma saja aku meminta, memohon dan merengek semuanya itu sia sia saja kerena tetap saja Ricardo meninggalkan aku di pagi itu