Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Ben acuh


__ADS_3

Aku menatap Ben yang pergi dengan motor, ia pergi bahkan tidak menatapku yang sedang berdiri di depan rumah saat melihat ku.


Aku mengela nafas berat sambil mengunci rumah, sepertinya pagi ini aku akan berangkat sendiri.


" Mungkin dia banyak urusan" kataku


Beberapa Minggu lagi Tesis Ben akan selesai dan ia akan kembali Ke London. Sungguh hatiku sesak mengingat nya, aku ingin Ben ada di sisi ku. Sepertinya penolakan yang aku lakukan membuat Ben bungkam dan tidak ingin berbicara dengan ku.


Aku kemudian menunggu bus untuk sampai di gedung kelas tariku, sebenarnya Minggu depan kami akan melakukan pentas seni dan ini pertama kalinya buatku.


Ingin rasanya aku mengundang Ben dan memberikan tiket masuk untuknya. Pihak sekolah memang memberikan dua tiket gratis untuk Masing-masing penari, ini merupakan bonus untuk keluarga yang ingin menonton pentas tari kami..


Tapi sekarang sepertinya aku harus menyimpan tiket itu karena Ben sepertinya tidak akan datang.


Sudahlah kali ini aku memilih untuk fokus di setiap latihan, aku tidak ingin terlihat buruk di penampilan pertamaku. Bisa bisa Dady menyuruh ku untuk pulang dan meneruskan bisnis nya.


Latihan hari ini berjalan lancar walaupun bayangan dan senyum Ben selalu memenuhi kepalaku, rasanya ada yang hilang di hidupku


Aku keluar setelah selesai latihan dan pada saat itu aku tersadar ternyata Ben tidak disana. Ya... sudah menjadi kebiasaan Ben untuk datang dan selalu menjemput ku,


" Tidak baik wanita pulang sendiri apalagi kau tidak punya siapa siapa disini"


Itu adalah alasan yang selalu diberikan oleh Ben.


" Ben kemana??" tanya Verl salah satu teman menariku,


" Dia sedang ada urusan" kata ku, aku hanya tersenyum menatap jalanan tanpa hadirnya motor unik Ben


" Kalian pasangan yang cocok Delanie, apa dia akan datang ke pentas nanti??"

__ADS_1


" Entahlah" jawabku sambil berusaha untuk tersenyum


Verl pun pergi dan meninggalkan aku yang hanya bisa melambaikan tangan. Aku menuju halte bus yang berada tidak jauh dari kelas tariku, aku masih berharap Ben datang walaupun itu sudah terlambat.


Sampai aku menginjakkan kaki di atas bus, Batang hidup Ben tetap tidak kelihatan dan kali ini aku tahu bahwa Ben benar benar tidak akan datang


Aku akhirnya sampai dan langsung melihat Tah Ben yang sepertinya tertutup rapat dengan lampu yang masih mati.


Ben memang selalu memperhatikan seluruh hidupnya, ia selalu mematikan semua lampu sebelum ia pergi


Aku berjalan lunglai dan tanpa sengaja aku melihat sebuah kotak paket yang berada di kotak surat ku. Aku bergegas mengambil nya dan ternyata itu kiriman dari Bi Jida.


Aku langsung tersenyum melihat paket itu walaupun jarak yang begitu jauh tidak menghalangi cinta bi Jida untukku


Aku membawa paket itu kedalam rumah dan begitu membuka isinya aku langsung terharu. Paket besar yang dikirimkan Bi Jida ternyata makanan makanan kesukaan ku hanya saja itu dalam bentuk instan


Beberapa bungkus bakso ayam dan sapi yang sudah lengkap dengan bumbunya, beberapa bumbu instan yang berasal dari Indonesia seperti rendang, kari dan sebagainya


Setelah melihat semua kiriman itu tiba tiba saja aku melihat sebuah plastik kecil yang berada di tumpukan paling bawah


Aku mengembulnya dan melihat apa isinya, ternyata itu adalah sebuah saputangan yang bertuliskan namaku


" Dady menyayangi mu Delanie"


Kata kata yang tertulis di saputangan itu membuat tanganku benar benar bergetar, sulaman dengan benang warna gold itu mampu membuat ku menangis.


" Ini pasti buatan Bi Jida mana mungkin Dady melakukan ini" kataku sambil menghapus air mata.


" Aku ingin Dady sendiri yang memberikan nya untukku"

__ADS_1


Aku tidak mau berlarut dalam kesedihan dan untuk menghibur diri sendiri aku memilih memasak bakso instan kiriman Bi Jida.


Caranya begini praktis karena semua caranya memasaknya tertera di bungkus nya sehingga aku sama sekali tidak kesulitan membuatnya.


Aku akhirnya selesai dan menyajikan makanan itu dengan bawang goreng dan potongan cabe rawit. Melihat semangkuk bakso itu air liur ku hampir saja menetes.


" Andai saja ada Ben"


Aku kemudian berjalan ke ruang depan dan membuka gorden jendela, ternyata masih sama saja rumah Ben masih sangat sepi dengan suasana rumah yang semakin gelap karena hari sudah hampir malam.


" Kemana dia??" tanyaku dalam hati


" Apa aku chat saja??"


Tapi akhirnya aku mengurung kan niatku dan kembali menuntaskan niatku untuk memakan semangkuk bakso hangat yang seperti nya sangat enak.


Sesuai harapanku rasanya sungguh luar biasa sehingga menghapus kerinduan ku pada tanah air. Teringat mas SMA bakso adalah Makanan favorit pada kaum remaja dengan harga yang terjangkau serta rasa yang tidak mengecewakan


Setelah makan dan bersih bersih aku kemudian menulis sebuah pesan terima kasih untuk Bi Jida, sungguh dia sudah seperti malaikat untukku. Tidak lupa aku juga mengucapkan terima kasih sudah membuat saputangan dengan jahitan yang indah


" Bibi Senang kamu suka jaga kesehatan ya Nona Delanie. Saputangan itu bukti cinta tuan Okta padamu, tetaplah baik baik saja untuk tuan okta


Sebuah pesan balasan dari bi Jida, aku senang kalau Dady baik baik saja. Selesai mandi aku kembali melihat rumah Ben dan ternyata lampunya sudah menyala.


Rasa lega langsung menyergap hatiku, aku senang dia sudah kembali dan aku berharap dia akan selalu baik baik saja walaupun ia cuek selama satu hari ini.


" Good Night tuan Ben" kataku sambil menutup gorden jendelaku


Jangan lupa like komen vote dan follow novel ini ya, dukungan kalian begitu berarti bagi author untuk tetap semangat....

__ADS_1


Love u, readers.....


__ADS_2