Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Tetangga baru


__ADS_3

" Panggil aku Ben"


Ya laki laki yang menghampiri ku pagi itu bernama Ben, ia adalah tetangga baru yang akan menempati rumah yang ada di di depan rumahku.


Sebenarnya pagi itu aku ingin berbelanja sekaligus ingin membeli beberapa jenis roti untuk persediaan. Niatku terhenti kerena tiba tiba saja seorang laki laki muda berwajah tampan dan bermata biru datang menghampiri diriku.


Ya... seperti keberuntungan ternyata laki laki ini berasal dari wilayah Indonesia tepatnya Manado, ia adalah blatesran Indonesia dan Manado dan ia dibesarkan disana


Rupanya ia sudah pindah beberapa hari lalu hanya saja aku terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikan dirinya.


" Aku bisa menebak kalau kamu orang Indonesia" kata Ben cukup ramah


" Mau hot coklat??" kataku menawarkan, tidak enak juga rasanya jika aku langsung mengusirnya dengan alasan belanja.


" Apa kau punya Teh Delanie" kata nya langsung menyebut namaku, ia merasa langsung akrab walaupun baru pertama dengan ku


" Baiklah" kataku sambil beranjak pergi


Akupun membuat teh beraroma melati seperti teh yang ada di Indonesia, aku membeli barang barang di toko Asia beberapa hari kemarin.


" Aku sedang menyelesaikan tesisku disini, aku sedang menempuh kuliah di kota London dan sedang mengamati gaya hidup di kota yang berbeda"


" Oh ya?? kataku pura pura antusias


" Begitu lah kalau kamu sedang kuliah apa disini??" tanya Ben


" Aku ikut kelas tari " kataku


" Tari???Dance?? atau??"


" Belerina" jawabku sambil menyeruput teh buatan ku sendiri


" Jauh jauh kesini??" kata Ben dengan sedikit bingung


" Memang nya aneh??" kataku dengan nada yang terdengar protes


" Tidak hanya saja itu terdengar langka apalagi setauku pasti di Indonesia ada kelas tari yang tidak kalah bagusnya. Kau gadis yang cukup berani Delanie" kata Ben


Aku tidak tahu apakah itu pujian atau malah sebuah ejekan, memang tidak semua orang mengerti dengan tujuan dan apa yang terjadi dengan diriku.

__ADS_1


Selama beberapa hari ini Ven begitu intens menemui ku bahkan tanpa sepengetahuan ku sore ini Ben sudah didepan gedung dan sudah menunggu ku.


Melihat Ben berdiri di teras gedung membuat hatiku sedikit bergetar, aku tidak menyangka Ben bisa senekat itu.


Ben tersenyum saat melambaikan tangan padaku, aku hanya tersenyum tipis sambil menghampirinya dia.


"Apakah hari ini menyenangkan??" tanya Ben


" Begitu lah" kataku yang masih dalam keadaan bingung


" Bagaimana kalau kita singgah disana" kata Ben sambil menunjuk sebuah kedai yang menyediakan beberapa minuman dan makanan kecil untuk para penari


" Terserah" kataku


Aku dan Ben akhirnya duduk sambil menikmati Hot coklat yang dipesan oleh Ben.


" Sepertinya kamu tidak baik baik saja Delanie" kata Ben seolah membaca pikiranku.


Memang benar hari itu tarian terlihat sedikit buruk dari biasanya dan Mrs Winnie menegur ku untuk itu.


" Tidak aku hanya sedikit lelah" kataku


Aku menatap mata biru Ben yang cukup teduh, selama beberapa hari mengenal Ben aku mulai merasa nyaman berada di dekatnya.


" Tidak hanya saja yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan" kataku


" Itu hal yang lumrah Delanie, bagaimana kalau malam ini kita barbekyu di depan rumah mu, kebetulan aku pandai dalam hal memanggang" kata Ben menghibur ku


" Benarkah?? tiba tiba saja aku menginginkan nya" kataku antusias, kesedihan ku tiba tiba berubah menjadi rasa semangat.


Malam itu Ben benar benar melakukannya, setelah berbelanja beberapa jenis daging dan sosis, Ben ou. datang dan mempersiapkan barang barang yang diperlukan.


Mulai dari panggangan, bumbu, dan beberapa sayuran untuk dijadikan sebagai hiasan. Aku menatap nya dengan penuh kekaguman, di mataku Ben menjelma bak Chef profesional.


" Bagaimana dengan sate??" kataku, entah kenapa aku tiba tiba menginginkan Makanan itu.


"'Ide bagus, mau kacang atau kecap??" tanya Ben


" Apa kau bisa tuan??" tanyaku sedikitnya sangsi

__ADS_1


" Serahkan padaku" kata Ben dengan penuh percaya diri


" Kecap saja" kataku,


Dengan cekatan Ben segera merendam memotong daging ayam menjadi potongan kecil dan merendamnya dengan racikan bumbu yang ia buat.


" Lalu bagaimana dengan ku??"


" Cukup melihat Ku saja," kata Ben sambil mengedipkan matanya


" Dugggggggggggg"


Jantung ku berdebar lagi hingga aku tidak bisa mengedipkan mataku


" Apa yang terjadi denganku" kataku pada diriku sendiri, apalagi aku merasakan hawa panas yang menyerang bagian wajahku


Aku permisi untuk pergi ke kamar mandi, begitu sampai nafasku jadi terengah-engah aku melihat cermin sambil menyentuh dadaku.


" Mengapa rasanya begitu cepat" kataku sambil berusaha menenangkan diriku


" Tidak boleh...." kataku lagi


Aku kemudian mencuci wajahku agar aku bisa merasa sedikit dingin setelah serangan panas yang dilakukan oleh Ben


Padahal itu hanya kedipan mata saja, mengapa Ben bisa membiusku dengan begitu kuat


" Ilmu apa yang ia miliki" pikirku


Ya... memang Ben memperlakukan ku dengan cara yang menurutku sedikit berbeda, entah kenapa hanya dengan naik motor dengan nya saja membuat diriku begitu bahagia...


Menurut ku Ben tidak seperti pemuda pada umumnya apalagi para lelaki yang mengenal ku sebagai nona Okta.


Terkadang untuk melakukan pendekatan dengan ku mereka harus mengukur gaya hidup ku dengan materi. Mengajakku ke tempat tempat bergengsi atau semacamnya berbeda dengan Ben yang memperlakukan ku apa adanya.


" Apa karena dia tidak mengenal keluarga ku??"


Entahlah yang penting aku nyaman dengannya dan sialnya aku ingin menikmati nya, menikmati hal yang sebelumnya tidak pernah kulakukan.


Jangan lupa like, komen dan follow novel ini ya.... author sangat membutuhkan dukungan dari kalian

__ADS_1


Love u all


__ADS_2