Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Menuju pernikahan


__ADS_3

Setelah menginap semalaman akhirnya Ricardo membawaku pulang, diperjalanan entah kenapa hatiku begitu berat meninggalkan Oma Geeta.


Hanya dalam satu malam Oma Geeta mampu menghadirkan sosok ibu yang telah lama hilang dari hidup ku. Sebelum kami tidur malam itu, Ima Geeta meminta agar dia menyisir rambut ku sebelum tidur. Oma Geeta melakukan nya dengan sangat hati hati dan penuh perhatian.


Saat itu aku merasa kembali seperti gadis remaja yang selalu diperhatikan oleh Mommy, semasa hidupnya Mommy sering menyisir rambut ku dan bercerita tentang berbagai hal dengannya.


" Kenapa sedih begitu ??" tanya Ricardo


" Pasti Oma kesepian ya??" kataku pada Ricardo, aku bisa merasakan hal yang sama dengan apa yang Oma rasakan. Dia pasti merindukan sosok yang bisa menyayangi nya dengan tulus.


" Begitu lah....apa kau menyukainya??" Tanya Ricardo


" Off course..." kataku membuat Ricardo Seperti bangga dan senang seketika


" Tapi jangan kepedean aku hanya menyukai Oma Geeta bukan kamu" kataku meralat, aku tidak ingin Ricardo mengira aku menyukainya.


" Bagaimana kalau kita langsung memilih gaun pengantin??" tanya Ricardo


" Tidak...aku ingin pulang mandi dan ingin tidur sebentar" kataku mencari alasan agar aku bisa mengundur Waktu lagi


" Baiklah kalau begitu aku sendiri yang memilih gaun untukmu, aku pastikan kau akan suka" kata Ricardo


"Tapi..."


" Sudah kubilang aku tidak menerima penolakan" kata Ricardo membuat aku terdiam


Aku kembali dan langsung mandi, aku merasa tubuhku sudah gerah kerena tidak mandi pagi. Aku merasa segar ketika aku sudah membasuh tubuh dan rambut ku


" Ini Bi ni buatkan teh jahe" kata Bi Jida yang tiba tiba saja masuk ke dalam kamar ku, aku bisa melihat raut wajah yang sedih


" Terimakasih Bi" kataku sambil tersenyum


" Duduk lah"kataku


" Ta...api"


" Aku tau pasti bibi punya masalah" kataku tanpa basa basi


Tiba tiba saja Bi Jida menangis di hadapan ku, aku pun hanya bisa menepuk pundak Bi Jida agar ia sedikit lebih tenang

__ADS_1


" Ada apa?? katakan saja" kata Ku


" Aku butuh uang 40 juta non, " kata Bi Jida membuatku sedikit terkejut, aku tidak punya uang sebanyak itu seketika.


" Untuk apa Bi??"


" Untuk Operasi saudara laki laki Saya non, dia menderita gagal fungsi jantung sehingga ia harus menjalani operasi pemasangan ring jantung" kata Bi Jida semakin terisak


Aku berpikir sejenak uang 40 juta bukanlah yang Kecil, pada saat itulah aku kemudian mencek isi saldo kartu debit pribadi ku. Sungguh aku terkejut melihat isi dari kartu itu jumlahnya mencapai 1 Miliar rupiah.


Hatiku tertegun darimana uang sebanyak itu sampai di rekening ku, memang setiap bulan aku dapat jatah dari perusahaan Okta tapi itu hanya 10 juta perbulan.


" Apa Zio??" tanyaku pada diri sendiri, tapi kau bersyukur karena aku bisa membantu Bi Jida menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit saudara nya.


Beberapa hari aku sibuk menemani Bi Jida hingga aku melupakan urusan ku dengan Ricardo. Anehnya Ricardo tidak protes malah siang ini ia datang mengunjungi ku bersama dengan Bi Jida di rumah sakit.


Ricardo bahkan membawakan beberapa bungkus makanan untukku dan juga Bi Jida.


" Tidak usah repot-repot aku bisa mengatasi nya sendiri"'kataku


" Aku hanya menjalankan tugas ku sebagai calon suami" kata Ricardo


"Baiklah aku dan dia bicara sebentar di luar ya Bi" kataku sambil menarik tangan Ricardo ke arah Kantin


Aku memesan dua minuman Americano dingin untukku sebenarnya beberapa hari di rumah sakit membuat ku sedikit jenuh.


"'Aku minta kau mengawasi jalannya perusahaan Okta ya" kataku pada Ricardo aku tau aku tidak cukup berpotensi dalam hal itu


" Siap Nyonyaku tanpa perintah pun aku sudah melakukan hal itu" kata Ricardo


Ricardo Kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa dokumentasi yang sangat penting.


" Apa ini??" kataku


" Ini adalah kepemilikan perusahaan oma yaitu Geeta company, dia ingin memberikan perusahaan ini atas namamu"


" Apa?? Yang benar saja??" kataku tidak percaya dan sama sekali tidak mau memiliki hal semacam itu.


" Tapi Oma sendiri yang memintanya, dia ingin perusahaan itu diganti jadi nama Del Company yang berarti Singkatan dari Delanie"

__ADS_1


" Tapi aku tidak mungkin menyetujui hal itu?? Lagipula aku tidak ingin terikat" kataku tetap tidak setuju


" Baik lah akan ku katakan pada Oma Geeta walaupun aku harus sedih karena ia pasti kecewa"


Seketika aku diam dan memikirkan bagaimana perasaan wanita tua jika ia ditolak, dengan berat hati akhirnya aku menyetujui nya


" Baiklah kau atur saja..." kataku dengan lirih


" Benarkah?? Oma pasti senang sekali" kata Ricardo


" Ini kerena Oma bukan karena kamu" kataku kembali meluruskan


" Iya aku tau nyonya ku"


" Berhenti lah memanggil ku seperti itu"


Tiba tiba saja aku teringat akan Perawatan Nur dan tanpa sengaja aku menanyakan keadaan nya. Tampak nya Ricardo merasa kesal ketika aku bertanya pada perawat muda itu kelihatan nya ia juga berusaha menghindar selama kami berada di rumah Oma.


" Jangan bertanya hal yang aneh Aneh lagi, aku tidak ingin membahas orang lain" kata Ricardo


" Dia bukan orang lain dia perawat Oma Loh" kataku


" Sebenarnya dia adalah anak pembantu Oma terdahulu, karena merasa kasihan Oma menyekolahkan nya sampai ia lulus sekolah perawat" kata Ricardo


" Dia sudah menikah??" tanyaku


" Be... Lum"


Aku merasa ada hal yang aneh tapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu, aku memilih untuk menikmati waktu luang sebelum aku kembali ke Bi Jida dan mencium aroma rumah sakit dan obat obatan.


Ricardo juga pamit setelah hampir 2 jam dia menemani aku dan Bi Jida di rumah sakit, ia kemudian pamit dan aku mengantarnya ke parkiran.


" Dua Minggu lagi kita akan menikah, aku sudah menyiapkan gaun, gedung dan segala keperluan menikah" kata Ricardo sebelum ia pergi


" apa?? Jangan bercanda...kau memutuskan itu sendiri??" kataku dengan nada kesal


" Iya. kalau menunggu jawaban mu terlalu lama, dan satu hal undangan pernikahan kita akan keluar besok"


Aku terdiam sambil menatap kepergian Ricardo dengan mobilnya, menolak pun tidak ada artinya. Sebenarnya aku sedih dengan kehidupan ku sendiri, aku tidak pernah bisa menentukan dengan Bagaimana dan dengan siapa aku akan hidup.

__ADS_1


" Mengapa ini tidak adil tuhan" kataku sambil menatap langit


__ADS_2