
Berkali-kali Ben menghubungi ku, satu hari ini saja Ben menghubungi ku sampai 32 kali,aku memang sengaja untuk mengacuhkan nya.
Aku rasa percuma saja aku bicara dengan Ben, itu akan menambah rasa rindu dan sakit hati saja. Tapi begitu membaca pesan Ben yang terakhir membuat diriku mempertimbangkan untuk berbicara dengannya.
"Aku mohon Boo aku hanya ingin mendengar suaranya mu, jangan menyiksa seperti Ini"
Aku kembali ke Indonesia tanpa sepengetahuan Ben bahkan aku saja tidak mengetahui nya lagipula permasalahan antara aku dan Ben sudah terlalu rumit.
Ben calling....
Untuk ke 33 kalinya Ben menghubungi ku , rasanya aku juga bersalah dan akhirnya aku menjawab panggilan nya untuk memberikan tahukan apa yang sebenarnya terjadi
" Boo syukur lah"
Kalimat yang pertama di ucapkan oleh Ben
" Apa kau sudah berada di Indonesia??" tanya Ben
" Begitu lah" kataku singkat, aku tidak ingin berbasa-basi dengan nya walau pun aku begitu merindukan suara bahkan wajahnya
" Kapan?? bagaimana?? dan mengapa kau tidak memberitahukan padaku" desak Ben
" Untuk apa kau mengetahui nya Ben lagipula kau begitu sibuk dengan segala urusan mu" kataku
" Apa kau masih marah?? cemburu?? aku bersumpah tidak melakukan apa apa dengan Ruth" kata Ben menjelaskan tapi bagiku itu percuma saja.
" Aku tidak berhak untuk marah atau cemburu Ben, semuanya sudah berakhir" kataku dengan suara yang sudah mulai serak, aku berusaha untuk menahan air mata ku.
" Apa maksudmu Boo?? apa kau akan meninggal ku begitu saja??" tanya Ben Ben
" Aku akan menikah Ben dan aku sudah mengatakan nya berulang kali padamu"
Sejenak Ben terdiam sebenarnya aku ingin sekali melihat ekspresi wajahnya saat ia mengetahui aku akan menikah.
Aku ingin mendengar dia bersedia untuk menikah dengan ku dan membawa ku pergi dari sini, aku ingin sekali mendengar hal itu.
" A...apa kau serius Delanie" tanya Ben dengan suara yang begitu berat
__ADS_1
" Begitu lah Ben, semuanya sudah terjadi aku akan menjadi milik orang lain"
Dadaku serasa sesak untuk mengucap nya tapi itu adalah kenyataan yang harus kujalani.
" A...aku minta maaf Delanie, aku...aku"
Ben tidak bisa berkata apa apa, aku tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini.
" Apakah kau terluka Seperti diriku Ben??"
" Kau benar-benar ingin meninggal kan aku Boo, aku sungguh mencintaimu" kata Ben membuat hatiku semakin hancur, ingin rasanya aku kembali untuk memeluk bahkan mencium Ben
" Sudahlah Ben, Cinta tanpa keberanian dan pengorbanan akan sia sia. Kau lebih mencintai kehidupan mu daripada aku" kataku sambil mematikan ponselku, aku tidak ingin semakin larut dalam masalah ini.
Aku langsung meletakkan ponselku begitu saja dan menungkupkan wajahku ke dalam bantal, rasanya sungguh sakit tapi aku harus menahan nya.
" Aku mencintaimu Delanie, aku hanya butuh waktu untuk membuktikan semua ini"
Sebuah pesan teks terakhir yang membuat aku tidak bisa tidur, aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa melupakan dan menerima kenyataan.
" Delanie apa kau masih belum tidur??"
" Delanie" kata Dady sekali lagi,
Aku baru tersadar kalau lampu kamar ku belum mati, kalau aku tertidur pasti aku hanya menyalakan lampu tidur.
Aku beranjak untuk membuka pintu, aku melihat wajah Dady yang tampak sangat kelelahan.
" Dady..."
" Dady ingin bicara nak" kata Dady sambil meletakkan jasnya di atas mejaku
" Pasti mengenai Zio lagi" kataku dalam hati
" Zio ingin mempercepat pernikahan kalian, ia meminta untuk melangsungkan acaranya dalam 2 Minggu lagi"
Aku tidak terlalu terkejut lagi walaupun hatiku tetap saja bergetar saat mendengar nya.
__ADS_1
"Sebenarnya Aku tidak ingin menikah dengannya Dady" kataku untuk kesekian kalinya,
Tiba tiba saja Dadu sujud dihadapan ku dan ini membuat ku benar benar kaget bukan main.
" D...Dady" kataku sambil menatap wajah Dady
" Nasib keluarga kita ada di tangan mu Delanie" kata Dady
" Berdirilah Dady aku tidak ingin seperti ini" kataku sambil menarik lengan Dady
" Dady akan berdiri jika kau mengatakan iya untuk pernikahan ini"
Aku sangat bingung kerena aku akan sangat berdosa jika menolak keinginan Dady apalagi dia sudah sampai berlutut di hadapan ku.
Ini pertama kalinya Dady melakukan hal itu dan aku tahu pasti ada alasan kuat sampai Dady mau berlutut dan memohon di hadapan ku.
" Ba... baiklah Dady" kataku Akhirnya
Saat itu juga Dady langsung berdiri dan mengucapkan terima kasih padaku, ia tersenyum dengan lebar.
" Untuk apa Dady melakukan ini?? apa yang sebenarnya terjadi??"
Akhirnya Dady menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, rupanya setahun yang lalu perusahaan Dady sudah mengalami beberapa masalah yang sangat serius, bahkan Dady mengaku Perusahaan Okta Hampir Failed.
Dady berusaha untuk mencari jalan keluar untuk masalah ini agar perusahaan kembali berjalan karena Dady memiliki ratusan karyawan yang bergantung pada perusahaan Okta.
Pada saat itulah Zio datang bak pahlawan yang menyelamatkan seluruh hidup Dady, ia bersedia menjadi investor dengan saham yang sangat tinggi untuk menolong perusahaan dalam pembenahan keuangan.
Anehnya Zio tidak meminta keuntungan dari saham yang ia tanam, ia kemudian menawarkan untuk dijodohkan dengan ku.
Awalnya Dady ragu karena ia tidak yakin kalau Zio mau menikah denganku, tapi Zio bersikeras untuk menikah ku dan akhirnya Dadypun setuju.
Lututku hampir lemas mendengar semua penuturan Dady, akhirnya aku tau mengapa Dady sangat menginginkan pernikahan ini
Aku adalah alat yang sekaligus pembayaran atas saham yang diberikan oleh Zio, sungguh sebentar hatiku sungguh miris mendengar semua kebenaran ini.
Jangan lupa like, komen dan juga Follow author ya.....
__ADS_1