Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Aku hamil???


__ADS_3

Ricardo tetap kukuh dengan pendirian nya setiap hari setiap waktu ia selalu meminta ku agar tetap bersama nya. Aku memilih untuk kembali ke kediaman Keluarga Okta, walaupun begitu sakit menahan rindu tapi aku harus bisa membiasakan diri


Aku meminta Bi Jida dan pak Markus untuk menemani ku, agar aku tidak merasa kesepian.


" Non Delanie ayo sarapan dulu dan tuan Ricardo sudah menunggu anda"


Lamunanku terbuyar ketika karena mendengar nama Ricardo, lelaki yang selalu kurindukan dan selalu bermain dalam imajinasi ku.


" Krrrrrttttt"


Pintu kamar ku terbuka dan bukannya melihat Bi Jida malah Ricardo yang sedang melihat ku dalam keadaan kacau balau.


" Sayang"


Aku segera bangun untuk merapikan rambut ku yang berantakan, beberapa hari ini aku selalu berada di kamar dan tidak pernah keluar.


" Mas" kataku sambil memperbaiki cara duduk ku, Ricardo hanya tersenyum sambil mengelus rambut, ia kemudian bangkit dan mengambil sisir.


Ia kemudian mulai menyisir rambut ku yang berantakan untungnya tadi malam aku keramas sehingga rambutku tidak bau apek.


Ricardo menyisirnya dengan perlahan sambil mencium wangi rambut ku yang tergerai.


" Sayang aku merindukan wangi ini" kaga Ricardo sambil menciuminya.


Aku membiarkan Ricardo melakukan nya bahkan aku sengaja menyenderkan sedikit tubuhku dan dada Ricardo. Aku tidak akan pernah bisa membohongi hatiku kalau aku masih sangat mencintai nya terlepas dari semua kejadian pahit ini.


" Delanie...apa keputusan mu sudah bulat,?? Apa aku tidak ingin memikirkan nya lagi sayang??" Tanya Ricardo yang kemudian melingkar tangannya di dadaku


" Entah lah mas tapi aku rasa itu keputusan yang terbaik"


Kudengar helaaan nafas yang begitu panjang dari mulut Ricardo, aroma menthol menyeruak hingga ke hidung ku.


"Baiklah kalau begitu aku akan mengabulkan nya tapi aku punya permintaan terakhir"


Aku kemudian berbalik dan menatap wajah Ricardo,

__ADS_1


" Katakan saja mas"


" Aku ingin kita ke puncak dan menikmati waktu selama seminggu penuh, aku ingin berdua saja dengan mu tidak ada orang lain. Aku ingin membuat kenangan yang indah bersama sebelum kita berpisah"


Sejenak aku terdiam rasanya jika hal itu terjadi maka aku akan semakin sulit untuk berpisah dari Ricardo.


" Tapi mas..."


" Syutttt" Ricardo menempel kan jari telunjuknya ke mulut ku dan memandang ku dengan tatapan maut yang membuat hatiku bergetar.


Mata bening itu selalu membuat ku kalah hingga aku mengangguk kan kepalaku Pertanda aku setuju dengan hal itu.


" Baiklah hanya satu Minggu" kataku


Ricardo tersenyum dan mencium bibir ku sekilas, aku sungguh terkena dengan ciuman itu hingga sebenarnya aku tidak ingin mengakhiri nya.


"My heart always with you"


Ricardo akhirnya meninggal kan aku kerena ia ingin menyelesaikan segala urusan nya sebelum kami berangkat ke puncak seperti keinginan nya.


Aku turun untuk sarapan kerena perutku sudah mulai perih kerena beberapa hari ini aku tidak makan dengan baik.


" Bubur?? Biar aku suruh pak Markus untuk membelikan nya kerena membuat nya membutuhkan waktu yang cukup lama" kata Bi Jida


Secepat kilat Pak Markus segera membelikan bubur ayam dari tempat langganan ku, ia tahu betul dimana tempat tempat jajanan yang aku suka.


Setelah bubur pesanan ku datang tiba tiba saja aku merasa kan sesuatu yang sangat aneh, aku ingin makan bersama dengan Ricardo saat itu.


Aku mencoba untuk makan tapi aku tidak bisa


" Bi kenapa aku ingin makan bersama mas Ricardo padahal ia baru saja dari sini" kataku dengan nada sedih, rasa ingin bertemu semakin kuat hingga aku tidak bisa menahan tangisku.


Langsung saja Bi Jida menghubungi Ricardo kembali dan mengatakan kalau aku ingin bertemu dengan nya.


" dia akan segera datang nona Delanie sebaiknya tunggu saja"

__ADS_1


Hanya dalam waktu 15 menit saja Ricardo sudah kembali dan segera menghampiri ku yang berada di meja makan. Sebenarnya aku sungguh malu tapi Hasrat ini tidak bisa aku tolak.


" Apa kamu baik baik saja sayang??" Tanya Ricardo yang begitu khawatir


" Entahlah mas tapi aku ingin makan bersama mu" kataku sambil menundukkan kepala.


" Baiklah sekarang makanlah aku akan di sini selama kau mau"


Benar saja akhirnya aku makan dengan baik walaupun aku tidak menghabiskan semuanya tapi setidaknya aku bisa makan karena disuapi oleh Ricardo


" Cukup mas aku sudah kenyang sekarang kau boleh pergi" kataku sambil mengelus perutku yang sudah mulai membaik


" Benarkah?? Padahal aku masih ingin disini" kata Ricardo


Setelah didesak akhirnya Ricardo pergi lagi ke kantor, sebenarnya ia masih ingin disini karena cukup khawatir dengan keadaan ku.


" Saya baik baik saja mas pergilah sebelum aku marah"


Aku akhirnya kembali ke kamar dan kembali sibuk dengan laptopku, aku sedang memeriksa beberapa file dari perusahaan Okta.


"Non Delanie" kata Bi Jida yang tiba tiba saja datang ke kamar ku lagi.


" Ada apa Bi??" Tanyaku


Bi Jida lalu memberikan sebuah kotak kecil dan menyerahkan nya padaku.


"Apa ini??"


" Alat tes kehamilan non, Bibi merasa ada yang aneh dengan non beberapa hari ini. Non sering mual daj tidak bernafsu makan"


" Ya ampun"


Aku langsung terperanjat karena sudah seharusnya aku datang bulan di bulan ini tapi sampai saat ini aku belum kedatangan tamu bulanan. Tanganku langsung berkeringat ketika memegang alat tes yang diberikan oleh BI Jida.


" Aku takut sekali Bi?? bagaimana kalau aku hamil?? Aku tidak ingin hamil Bi, jika itu terjadi maka aku tidak bisa bercerai dengan mas Ricardo"

__ADS_1


" Itu artinya kalian masih berjodoh lagipula aku rasa anda tidak salah dalam hal ini jadi mengapa harus berkorban begitu besar?? Anda juga perlu bahagia non..."


" Sekarang anda ke toilet dan coba alat tes kehamilan ini"


__ADS_2