
Mataku membuat ketika melihat kata kata pregnant di taspack yang dibelikan oleh Bu Jida. Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutan ku hingga aku berteriak dengan begitu keras.
"A..aaaaaaa"
"Ada apa non??" Kata Bi Jida yang juga terkejut ia segera masuk ke kamar mandi untuk melihat keadaan ku.
" Bi..." kataku dengan tatapan tidak percaya sambil memperlihatkan hasil taspack yang berada di tanganku,
"Anda hamil??"
Aku mengangguk tapi setelah itu aku mulai merasakan pandangan ku kabur dan pendengaran ku mulai berkurang.
" Non Delanie"
Hanya Kalimat itu saja yang bisa aku dengar setelah itu aku tidak merasakan apa apa lagi.
" Delanie.... Delanie sayang..." kalimat itu terdengar lagi
Aku mulai membuka mata dan mencoba melihat sekeliling tapi saat aku terbangun lagi lagi aku melihat Ricardo yang sudah berada disampingku. Ia menatap ku dengan senyuman yang aneh.
" Mas... kenapa kau ada disini??" Tanyaku sambil menatap dengan was was
__ADS_1
Ricardo kemudian mengelus perut ku dan mencium nya beberapa kali. Kini aku tahu kalau Ricardo telah mengetahui nya bahwa diriku sedang hamil dan aku membencinya.
" Pasti Bi Jida""
" Terimakasih sayang...." Kata Ricardo sambil terus memandang ku dengan tatapan cinta itu
"Pantas saja kau menyuruh ku kembali kurasa bayi kita merindukan aku"
" Pergilah mas aku ingin sendiri" kataku
"Tidak sayang aku tidak akan pergi karena kau sedang mengandung anakku,aku tidak akan beranjak walau sedetik pun bahkan jika kau membunuh ku aku tidak perduli"
Hatiku semakin sakit jika mengingat perjuangan Nur apakah Ricardo seperhatian ini kepada Nur saat ia mengandung Ryana.
Ricardo terdiam dan raut wajah nya langsung berubah drastis ketika aku menyebut nama Nur"
" Tidak aku akan tetap disini lagipula dia seorang perawat jadi dia tahu bagaimana cara merawat putrinya" kata Ricardo
" jangan Egois mas dia adalah anak kalian berdua jadi jangan pernah mengatakan bahwa itu hanya putri Nur"
" Hentikan Delanie aku sudah muak dengan perawat itu, aku tau dia itu wanita ular yang memanfaatkan keadaanku saja. Jadi jangan sampai terpengaruh padanya atau hubungan kita akan memburuk" kata Ricardo dengan nada yang sedikit ketus.
__ADS_1
Entah kenapa aku tiba tiba saja menangis kerena bentakan Ricardo, baru kali pertama ia melakukan nya dan aku merasa sakit hati. Aku mencoba untuk tidak mewek tapi malah airmata ku semakin banjir.
"Maaf sayang aku minta maaf aku hanya tidak ingin ada nama Nur di kebahagiaan ini, aku tidak hubungan kita bertambah buruk"
" Hubungan kita sudah memang memburuk mas dan bukankan kau sudah menyetujui bahwa kita akan berpisah??" Kataku
"Aku menarik janjiku dan aku tidak akan pernah menceraikan mu apalagi dengan adanya bayi dalam kandunganmu. Aku tidak akan melakukannya.."
Kepala ku semakin pusing saja seharusnya aku sudah menemukan titik dari permasalahan ini tapi kini masalah nya jadi semakin rumit saja.
" Mas aku pusing" kataku sambil memijit keningku
Dengan sangat sigap Ricardo memijit keningku dengan minyak kayu putih yang berada di atas meja. Ia melakukan dengan penuh cinta dan tidak lupa beberapa ciuman di kepala.
Rasanya aku akan sulit melepaskan Ricardo dari hidupku, apalagi dengan adanya tanda cinta yang sudah ada di salah rahimku.
" Sayang Tuhan tidak ingin memisahkan kita... lihatlah Tuhan telah menunjukkan kuasanya agar kita tidak terpisahkan" kata Ricardo sambil terus memijit kepala ku
" Tapi ... Bagaimana dengan Nur , aku sungguh tertekan dengan keberadaan nya mas. Seandainya kalau kamu jujur mungkin saja aku tidak akan mengandung anak ini, aku akan menjaga Agar...."
" Cukup sayang jangan mengucapkan kata kata yang menyakiti hati anak kita" kata Ricardo dengan pelan,
__ADS_1
Aku memeluk Ricardo dan menangis di pelukan nya , seharusnya aku bahagia karena aku mengandung anak dari lelaki yang begitu mencintai ku dan kucinta i.