
Ben menepati janjinya, selesai acara makan dan sebuah perayaan dengan sesama penari, Ben datang untuk menjemputku.
Ben terlihat gagah dengan kemeja coklat dan sisiran yang rapi, aku tertawa melihat Ben yang berpenampilan cukup rapi
" Apa aku harus memakai gaun juga??" kataku sambil menutup mulut ku
" Apa aku terlihat konyol??" kata Ben sambil melihat penampilan nya
" Ditambah kacamata sepertinya akan lebih menarik"
Ben menarik tanganku dan membawaku menuju motor nya, ia memakaikan sebuah helm baru untukku.
" Kapan kau membelinya??" tanyaku, Helm dengan corak Minnie itu begitu pas dan nyaman karena busanya yang cukup tebal.
" Baru tadi, kita akan melakukan perjalan yang cukup panjang jadi kepalamu harus tetap hangat"
Bukan hanya itu Ben juga membeli sebuah baju hangat yang terbuat dari kulit, ia mengambil nya dari bagasi motor nya yang cukup luas
Ternyata itu jaket cuople dengan warna dan corak yang sama.
"udaranya akan dingin jika menjelang malam, jadi kita harus tetap hangat" kata Ben
Ben memang sosok yang romantis dan juga perhatian, tiba tiba saja aku takut kehilangan dirinya
Selama hampir satu jam berkendara Ben akhirnya menghentikan motornya di sebuah gedung putih yang cukup unik.
Tate St lves itulah nama gedung itu, aku tahu itu adalah salah satu museum terbaik di kota ini. Berada diantara pantai dan juga sebuah taman yang cukup luas dan indah.
" Kita masuk" kata Ben, rupanya ia sudah memesan tiket masuk untuk kami berdua
Selama perjalanan Ben tidak melepaskan tangannya, aku begitu takjub melihat semua isi dari museum itu.
Berbagai lukisan, penemuan dan alat alat canggih ada disana, aku benar benar takjub apalagi museum itu menyuguhkan pemandangan indah lautan yang begitu luar biasa
'' Tempat yang menakjubkan ya Ben" kataku, aku larut dalam suasana kekaguman
" Begitulah mereka benar benar memanfaatkan dunia teknologi" kata Ben sambil menatap lukisan 3 dimensi
" Sebenarnya aku suka melukis" kata Ben
" Oh ya?? Kupikir kau hanya tertarik dengan mata kuliah saja" candaku
__ADS_1
Ben hanya tersenyum sambil menatap ku, aku sampai tidak bisa mengartikan tatapan yang menurutku sungguh dalam itu
" Kita duduk disana" kata Ben sambil menunjuk sebuah kantin yang juga disediakan oleh museum itu.
" Wah lokasi yang benar benar bagus" kataku sambil melihat ke arah hamparan ombak yang terlihat jelas di depan mata
Benpun memesan dua teh untuk kami berdua serta beberapa jenis roti sebagai cemilan.
" Bagaimana perayaan tadi??" tanya Ben berbasa-basi
" Menyenangkan hanya saja aku tidak terlalu menyukai menunya" kataku
" Kalkun??"
Tebakan Ben benar lagi, seperti ia benar-benar paham dengan kota ini
" Iya, Rasanya memang enak tapi aku lebih suka ayam" kataku
" Lama lama kau akan terbiasa,"
Ben tiba tiba saja mengeluarkan selembar kertas yang lumayan besar dari ranselnya, kertas yang digulung pita itu diserahkan kepadaku.
' Apa ini??" tanyaku sebelum membuka
Aku membuka kertas itu dan langsung terkejut sekaligus terpesona dengan isinya,Itu adalah aku.Ternyata Ben melukis diriku saat sedang menari dan itu begitu sempurna
" Kau membuatnya sendiri??" tanyaku yang masih takjub dengan guratan tangan Ben
" Apa itu layak??" tanya Ben
Aku mengangguk sambil meraih lengan Ben
" Ini luar biasa, aku seperti hidup dalam gambar ini" kataku
" Syukurlah"
" Bagaimana kau melakukannya Ben?"tanyaku penasaran
" Sudah kubilang aku suka lukisan dan aku adalah orang kedua setelah ayah dan ibuku"
Rasa haru menyeruak di dalam dadaku, aku tidak tahu apakah itu kebohongan atau tidak, yang aku tau aku terharu saat itu.
__ADS_1
" Aku akan memajangnya di kamar ku" kataku dengan penuh semangat
" seharusnya kau menggantung gambarku, apa gunanya memajang gambar sendiri??"
" baiklah aku juga akan memajang gambarmu, tidak usah cemburu begitu" kataku
Ben memencet hidung ku dan akupun masih sangat senang bergelayutan di lengan Ben, rasa nya begitu nyaman dan aku merasa terlindungi.
" Apa rencana kita selanjutnya, seperti nya aku sudah mulai bosan berada disini"
" Bagaimana kalau kita keluar dan menikmati sinar matahari yang akan terbenam" usul Ben
" Ide bagus" kataku sambil tersenyum, apapun yang dilakukan oleh Ben selalu sempurna di mataku. Bukan tanpa alasan tapi memang memperlakukan ku sangat istimewa hingga aku benar benar tenggelam dengan cinta Ben
" Aku mencintaimu Delanie" ucap Ben untuk kesekian kalinya, kalimat itu diucapkan oleh Ben saat matahari tenggelam dan hanya meninggalkan segurat cahaya orange.
Kami menatap jauh ke arah matahari tenggelam menyambut malam yang akan diterangi oleh rembulan.
Aku masih sama tetap bergelayut di lengan Ben yang cukup kokoh untuk menopang kepalaku, merasa angin laut yang mulai terasa dingin.
" Aku akan kehilangan Ben, tinggal menghitung hari saja" kataku sedih, aku teringat akan kepergian Ben yang tidak akan lama lagi
" Jangan bersedih aku akan selalu datang mengunjungi mu lagipula London tidak terapkan jauh, hanya 2 jam"
" Tapi kita tidak akan sesering ini, aku sudah terbiasa melihat mu setiap hari" kataku jujur
" Aku akan datang setiap akhir pekan, aku berjanji" kata Ben sambil memberikan kelingkingnya
" Janji??" kataku
" Aku berjanji" kata Ben sambil menatap mataku
Ben menarik daguku dengan lembut sehingga wajahku begitu dekat dengan wajah Ben, aku menutup mataku dan pasrah dengan apa yang dilakukan Ben
" Cup..."
Ben mencium tepat di kening ku, walaupun aku mengira Ben akan mencium bibir ku.
Jangan lupa untuk like komen dan follow novel ini ya, supaya Author tetap semangat...
__ADS_1
Love u alll