
" Bagaimana kalau kita menyetujui permintaan Nur ya mas??" kataku ketika kami sedang sarapan dan hasilnya Ricardo langsung tersedak kerena ucapan ku.
Ricardo menatapku dengan tatapan aneh dan aku tahu ia pasti sangat tidak setuju dengan ide konyol ini.
" Apa maksudnya sih sayang??"kata Ricardo
" Dengarkan dulu mas ini demi kebahagiaan aku dan juga kamu, aku ingin menebus kesalahan yang telah kamu buat dan setelah itu kita akan hidup bahagia" kataku memberikan pengertian pada Ricardo
" Apa kau sudah gila Delanie?? aku sama sekali tidak mengerti dengan ide konyol mu itu" kaga Ricardo
"Mas jujur selama ini aku sangat tertekan dengan ucapan Nur dan aku ingin kau memenuhi permintaan Nur"
" Jadi kami setuju kalau aku bersama nya selama satu tahun?? Apa kau akan melepaskan aku begitu saja atau jangan jangan kau masih tidak mencintai aku?? atau bagaimana??" kata Ricardo semakin tidak karuan
" Bukan mas aku hanya ingin semuanya baik baik saja dan kita akan bersama selama setelah satu tahun" kataku yang juga semakin gila
" Kamu....!!!"
Ricardo tidak berkata apa apa lagi ia justru pergi meninggalkan aku begitu saja. Aku hanya bisa terdiam saat melihat Ricardo yang begitu marah karena ulahku sendiri
__ADS_1
Aku hanya duduk terdiam sambil menatap sarapan yang akhirnya tidak habis kerena pertengkaran tadi
" Ada apa sih non Delanie, kenapa kau mengatakan demikian" kata Bi Jida yang datang untuk membersihkan meja, rupanya ia mendengar pertengkaran yang terjadi antara aku dan juga Ricardo
" Bi...dia benar benar marah" kataku
" Seandainya bibi jadi Ricardo pasti akan marah juga, Bibi tidak mengerti dengan cara pikir mu yang seperti itu"kata Bi Jida lagi
" Bi ayolah jangan menyalahkan aku juga bukankah sudah kukatakan ini terkait dengan perasaan seorang wanita, aku ingin Nur tidak menyimpan dendam lagi" kataku membela diriku sendiri
" Ya ampun Non di dunia ini banyak orang yang dendam tapi itu bukanlah patokan untuk membuat orang yang dibencinya tidak bahagia. Hang Tuhan yang berhak menghakimi Non dan jangan mengorbankan pernikahan demi sesuatu yang tidak penting"
Aku menunggu kepulangan Ricardo hingga hampir tengah malam, ini pertama kali Ricardo pulang terlambat tanpa memberikan tahukan padaku. Aku merasa ia masih marah hingga memutus kan untuk pulang terlambat.
Aku menjadi gelisah karena Ricardo tapi itu akhirnya sirna ketika aku mendengar suara mobil Ricardo. Aku bergegas keluar untuk menyambut Ricardo namun begitu membuka pintu aku malah di cueki oleh Ricardo.
" Kenapa pulang terlambat sih ma??" tanyaku sambil mengikuti Ricardo ke kamar
" Mas" kataku lagi namun Ricardo tidak menjawab malah pergi ke kamar mandi
__ADS_1
Rasanya sungguh sakit ketika Ricardo mengabaikan aku begitu saja, rasanya aku tidak berguna. Begitu Ricardo keluar dari kamar mandi aku langsung memeluknya.
" Mas apa kau masih marah??"kataku sambil mendekap tubuh yang sudah wangi itu
" Mas" kataku sambil menatap Ricardo
" Aku lelah dan ingin istirahat" kata Ricardo sambil melepaskan tangan ku dari tubuhnya
" Aku ingin tidur di kamar pribadi ku" kata Ricardo semakin membuat ku sedih
" Mas aku min..."
Belum selesai aku mengatakan kalimat ku Ricardo sudah pergi ke kamar yang dulunya sebagai kamar pribadi nya. Dadaku terasa sesak ketika aku mendapat perlakuan yang dingin dari Ricardo.
Semalaman aku sampai tidak tidur bahkan aku menangis berkali-kali karena mengingat semua kejadian selama pernikahan. Aku mulai memikirkan bagaimana jika Ricardo benar benar pergi dalam hidupku selama satu tahun penuh .
"Tidak.... tidak" ternyata batin ku juga menolak jika Ricardo bersama dengan Nur, terbayang jika Nur bermesraan dengan Ricardo dan melupakan aku begitu saja.
" Ya Tuhan seperti nya aku telah membuat keputusan yang salah"
__ADS_1