Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Merasa bersalah


__ADS_3

Ricardo benar benar menagih janjinya, tanpa ampun ia menarik ku hingga ke parkiran. Ia tidak perduli dengan tatapan karyawan yang merasa heran dengan tingkah laku Ricardo.


" Hentikan ini, aku tidak ingin" kataku berusaha mengelak


" Hei....janji tetaplah Janji" kata Ricardo yang terus memasukkan aku kedalam mobilnya


" Aku tidak berjanji" kataku bersikeras tapi Ricardo sepertinya sama seperti Zio, dia bersikap dominan terhadap seseorang.


" Kalian sama saja" kataku dengan sangat ketus


Aku langsung terdiam melihat gambar yang ada di atas kaca setir Ricardo, ada foto dan mana Delanie Okta diukir dengan sangat indah. Aku terkejut saat melihat foto itu, itu adalah fotoku beberapa tahun lalu saat aku melakukan pentas ketika pembukaan sebuah gedung.


" Kau dapat ini darimana??" Tanyaku langsung menunjukkan ke arah Fotoku.


" Aku yang mengambil nya sendiri, saat itu aku adalah salah tamu di acara itu jadi aku mengambil potret mu"


" Dasar tidak Sopan" kataku sambil melipat tangan ku


"Memang nya kenapa?? aku rasa aku tidak bersalah dalam hal ini" kata Ricardo dengan santai, ia tetap fokus pada setir nya dengan sesekali memerhatikan aku.


" Oh ya mau makan apa nyonya Ricardo??" tanya Ricardo padaku membuat aku seketika semakin geli


" Hei.... jangan..."


" Jangan apa?? bukankah itu akan terjadi" kata Ricardo sambil mengedipkan matanya


" Oh...ya Tuhan aku tidak bermimpi mendapatkan laki laki sekonyol ini" kataku dalam hati, jadi aku memilih diam


" Kau belum menjawab pertanyaan ku Nyonyaku" kata Ricardo semakin menjadi jadi


" Berhenti lah mengganggu ku, kalau soal makan itu terserah kamu saja" kataku cuek, aku tetap mengalihkan pandanganku agar aku tidak melihat Ricardo.


Ricardo akhirnya membawaku cukup jauh hingga aku hanya bisa menuruti kemana saja Ricardo pergi. Sejujurnya aku agak was was dan khawatir tapi melihat Ricardo aku yakin ia tidak akan berbuat macam macam.


" Nah...kita sudah sampai" kata Ricardo


Ricardo membawa ku kesebuah tepian sungai yang cukup asri, aku sedikit kebingungan tapi melihat banyak mobil yang parkir aku tahu kalau itu adalah teman umum.


Ricardo terus menggenggam tanganku dan membawaku kesebuah restoran yang ternyata mengusung tema sungai dan persawahan.

__ADS_1


" Lepaskan tanganku tuan, jangan bertindak terlalu jauh"


" Baiklah meskipun kita akan melakukan hal yang jauh lebih menantang daripada ini"


Seketika mataku melotot karena perkataan Ricardo, bisa bisanya dia mengatakan hal itu dengan santainya.


" Baiklah aku minta maaf, aku akan melakukan itu jika kau menginginkan nya"


" Dasar laki laki sedeng,...mengapa aku harus bertemu dengan lelaki seperti ini" ratapku dalam hati


Meskipun hatiku jengkel tapi setidaknya aku bisa mencium aroma udara yang berbeda. Sejuk dan juga sangat tenang, seandainya aku datang sendiri an pasti akan menjadi liburan yang cukup menyenangkan.


Ricardo memesan makanan tanpa menanyakan aku, dia berkata telah memesan menu andalan dan juga spesial untuk kami berdua. Kami duduk berdua dalam sebuah pondok yang cukup luas hingga aku dan Ricardo bisa menikmati pemandangan yang ada di hadapan kami.


Tak butuh waktu lama sang pelayan segera membawakan pesanan yang dipesan Ricardo di hadapan kami. Ternyata Ricardo memesan pecel Lele dan juga ayam penyet serta cah kangkung sebagai makan siang kami.


" Ak...aku tidak bisa makan lele, aku tidak memakan ikan ini" kataku menolak


" Oh...ya aku yakin kamu akan suka" kata Ricardo, ia kemudian membasuh tangannya dalam mangkuk kecil dan mulai makan dengan tangannya.


Sebenarnya aku tidak masalah dengan makan menggunakan tangan tapi Ikan lele besar yang tersaji di hadapan ku membuat perutku terasa mual.


" Tidak...aku tidak bisa" kataku menolak aku bahkan menutup mulutku di hadapan Ricardo


Sama seperti Zio, Ricardo berhasil membujuk ku hingga dengan sangat terpaksa aku memakan ikan Lele untuk pertama kalinya dalam hidup ku.


Bukannya menikmati aku malah muntah di depan Ricardo, aku memuntahkan ikan Lele yang dipesannya untuk ku.


" Sudah aku bilang aku tidak bisa....Oekkk"


Aku muntah hingga ke baju uang dikenakan oleh Ricardo, perutku semakin mual hingga aku muntah berkali kali


Bukannya jijik Ricardo justru membantu ku untuk membuat ku lebih baik, iapun membersihkan mulut dan mengajakku untuk berpindah tempat.


Ricardo menyuruh pelayan membereskan Makanan kami dan pindah ke tempat yang lebih baik dan lebih jauh dari sana. Aku terdiam dan mengira Ricardo akan marah besar karena aku sudah mengotori baju nya, untungnya Ricardo memiliki beberapa kaos t-shirt yang bersih yang berada di dalam mobil.


Aku dan Ricardo mengganti baju dengan T-shirt hitam miliknya, kami kelihatan kompak dengan warna yang sama.


" Maaf kan aku" kataku sambil meremas tanganku, aku begitu gugup dengan apa yang dikatakan Ricardo

__ADS_1


" Apa?? Maaf??" kata Ricardo membuat ku semakin takut


" Ya ampun Nyonyaku seharusnya aku yang minta maaf, kau masih mual?? apa jangan-jangan??"


" Jangan Jangan apa??" kataku tidak mengerti


Ricardo membelai perutku sambil menatapku dengan penuh arti. Aku tahu pasti Ricardo mengira aku sedang hamil.


" Plakkk"


Tanpa sengaja aku menampar wajah Ricardo dengan lembut, Secara refleks aku melakukan itu karena Ricardo terlalu jauh memikirkan antara aku dan Zio.


" Maaf" kataku lagi, lagi lagi aku merasa bersalah setelah aku memuntahkan makananku di bajunya.


" Tak apa" kata Ricardo mengejutkan ku, dia malah tersenyum nakal.


" Kau tidak marah??" tanyaku tidak percaya


" Tentu saja tidak sekalipun kau membunuh ku aku tidak akan marah"


" Dasar pembual, aku seharusnya tidak percaya Denganmu lalu hukuman apa yang harus ku terima??" tanyaku dengan polosnya


" Hukuman?? "


Ricardo berpikir sejenak, dia sedang memikirkan hukuman apa yang cocok untukku.


" Baiklah aku memberimu hukuman besok, bersiaplah esok hari aku kan menjemput jam 8 pagi"


"Memang nya hukuman apa yang harus kuterima??" tanyaku


" Rahasia" kata Ricardo sambil tersenyum misterius, sungguh aku sangat penasaran


Akhirnya sebagai gantinya Ricardo memesan dua mangkok bakso dengan kuah taican dan dua mangkok lagi dengan kuah kaldu.


" Aku tau kau menyukai bakso, maaf jika membuat mu muntah tadi" kata Ricardo


" Lupakan saja dan ijinkan aku memakan ini" kataku sambil menikmati bakso yang menurutku cukup enak.


Kami terlalu lama makan siang hingga kami tidak jadi melakukan pemilihan kain untuk pernikahan kami. Aku merasa bersyukur karena setidaknya aku mengulur waktu untuk menikah ke dua kalinya.

__ADS_1


__ADS_2