Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Everything New


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di kota London akhirnya aku langsung menuju kota St lves, sebuah kota yang juga cukup terkenal dengan ikon wisatanya.


" Ini seperti rumah yang aku harapkan dan ini sesuai dengan gambar yang mereka berikan"


Dengan semangat aku menarik koper sambil setengah berlari menuju rumah yang akan menjadi tempat tinggal ku.


Memang tidak begitu luas tapi aku cukup senang karena rumah itu kelihatan nyaman untuk ditinggali.


Kubuka pintu dengan menekan nomor password yang telah diberikan pemilik rumah padaku dan begitu terbuka senyuman ku lebih melebar.


Aku membuka semua sprai putih yang sengaja menutupi seluruh perabot yang ada di rumah baruku, hal ini untuk mencegah debu menempel segi membuat ku mudah dalam membersihkan.


" Semua masih bersih, tidak sia sia aku meminta jasa pembersih rumah seminggu yang lalu,"


Aku kemudian masuk kedalam kamar yang akan menjadi tempat favorit ku, kamar yang hanya berukuran 4 kali 4 meter itu cukup membuat ku merasa nyaman


Memang ini jauh berbeda dengan kamar ku tapi aku merasa akan lebih nyaman disini, jauh dari tekanan dan intimidasi dari orang orang di sekitar ku.


Aku membuka gorden untuk mendapatkan percahayaan masuk ke dalam kamar, aku menghirup udara yang terasa segar di tenggorokan ku.


" Hal baru akan segera dimulai dan aku akan siap untuk itu"


 


Aku terbangun dengan tergesa gesa, hari pertama ku untuk kelas tari akan dimulai pagi ini. Hanya sepotong roti dan air dingin aku bergegas berlari untuk mengejar bus yang melintas sekolah kelas tariku.


Nafasku tersengal-sengal saat berlari menuju kelas tariku, aku tidak ingin terlambat di hari pertama ini apalagi di lingkungan baru dengan orang orang yang sama sekali tidak aku kenal.


Seperti yang kuduga, aku terlambat di hari pertamaku dan aku bisa melihat tatapan tidak suka dari Mrs Winnie sebagai pengajar ku

__ADS_1


" Kami terlambat nona Delanie ( dalam bahasa Inggris)"kata Mrs Winnie dengan tatapan tidak suka


" Maaf " kataku sambil melihat ke arah para penari yang sudah siap dengan pakaian mereka, untungnya pelajaran masih belum dimulai


" Cepatlah atau yang lain akan menjadi seperti ini dipertemuan selanjutnya"


Aku menunduk sambil berjalan menuju loker, aku menatap para gadis muda yang ternyata tersenyum kepadaku.


Aku tidak tahu apakah itu senyum keramahan atau senyum ejekan kerena aku sudah terlambat di hari pertama.


Sebelum memulai latihan Mrs Winnie memberikan sedikit pengarahan mengenai disiplin dan kualitas hidup, ini pasti kerena aku yang terlambat sehingga ia harus menegaskan bahwa Disiplin adalah kunci keberhasilan.


Kelas taripun dimulai, Mrs Winnie menyuruh ku untuk memperhatikan saja terlebih dahulu agar aku bisa mengerti irama Sebelum aku memulainya.


Sebenarnya gerakan itu tidak terlalu sulit, bahkan aku sudah menguasai nya sejak aku berada di Indonesia.


Aku berbaur dengan mereka dan menari bersama mereka, gerakan gerakan ku sama sekali tidak kalah sehingga membuat Mrs Winnie cukup puas melihat ku.


" Terimakasih" kataku


" Tapi itu baru awal, kita akan belajar yang sesungguhnya besok"


Akhirnya pelajaran hari itu selesai dengan baik dan sebagai pendatang baru aku mulai melakukan perkenalan dengan para penari lainnya.


Ternyata mereka cukup ramah bahkan mereka memuji ku karena aku termasuk dalam kategori penari yang cukup baik.


Aku merasa Senang dan juga lega, sebenarnya aku begitu gugup karena merasa sedikit khawatir dengan kelas tari pertama ku.


Hal itu mengakibatkan aku tidak tertidur hingga jam 2 pagi dan alhasil aku terlambat di hari pertama.

__ADS_1


Akupun pulang dan ingin segera makan siang, latihan hari ini sebenarnya tidak terlalu menguras tenaga ku tapi karena aku hanya sarapan dengan selembar roti membuat ku lapar lebih cepat.


Aku meletakkan tasku di atas sofa begitu saja, aku kemudian menuju dapur sambil memikirkan masakan mana yang akan kumakan


" Seandainya ada Bi Jida" gumamku tanpa sadar, baru beberapa hari terpisah darinya aku sudah merindukan wanita itu.


" Makan telor ceplok saja"


Aku kemudian mengambil 2 telur dan mulai menyalakan api. Antara takut dan gugup aku mulai memecahkan telur dan memasukkan nya ke dalam minyak panas.


" Serrrrrrr"


Cukup terkejut aku mendengar bunyi minyak berdesis keras, aku terkejut karena tidak terbiasa melakukan nya.


" Ini akibat nya jika hanya tau memakan saja" Makiku pada diri sendiri


Aku teringat pada nasihat Bi Jida yang selalu menginginkan ku untuk belajar memasak darinya.


" Jadilah wanita sejati nona Delanie, kamu akan kesulitan jika menikah nanti"


" Aku tidak akan menikah Bi, lagipula aku masih umur 20 tahun-an, tidak mungkin aku akan menikah dalam waktu dekat"


Perkataan beberapa tahun lalu itu kembali menggema di telinga ku hingga sampai aku mencium bau gosong yang berasal dari wajan anti lengket yang ada di hadapanku.


" Ya Tuhan kok bisa gosong"kataku sambil langsung mematikan kompor


" Kalau begini aku tidak akan makan" kataku dengan bahu yang lemas.


" Makan di luar saja"

__ADS_1


Aku kemudian memilih makan di sebuah kedai makan yang terlalu jauh dari kompleks rumahku, walaupun menunya tidak terlalu masuk dalam kamusku aku harus menerima nya.


Jangan lupa like, vote, komen dan juga follow novel ini ya


__ADS_2