Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Tidak ingin berpisah


__ADS_3

Entah kenapa hatiku terasa sangat tidak nyaman saat melihat Ben yang sudah ada di teras rumahnya. Ia menatap ke arahku dengan sebuah tas jinjing yang mungkin berisi pakaian nya.


" Ahhhhh Mengapa harus berpisah jika baru saja bertemu"


Hampir 4 bulan kami saling mengenal tapi sepertinya aku sudah mengenal Ben sejak lama. Aku berlari kecil dan berlari ke arah Ben.


Ia juga memeluk dengan erat dan menciumi pipi ku hingga berulang kali. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis tapi tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan kesedihanku.


" Aku akan kesepian Ben"isakku dan Ben menepuk pundak ku dan mengatakan jika hal itu akan segera berakhir.


" Aku akan berusaha untuk menyelesaikan semuanya dan kembali padamu" janji Ben


" Entahlah rasanya begitu lama"kataku yang tidak mau beranjak dari pelukan Ben


Pelukan itu terlalu hangat dan nyaman untuk kulepaskan, aku ingin bersamanya lebih lama lagi.


" Jangan bersedih aku akan weekend depan" kata Ben


" Seminggu bukanlah waktu yang lama Delanie, cinta butuh perjuangan untuk mempertahankan"


Hatiku semakin hancur ketika Ben melambaikan tangannya,seolah itu adalah lambaian terakhir walaupun Ben sudah berjanji untuk menemui Ku.


AKu memang terlalu naif pada saat merasakan cinta pertamaku, semua terasa indah dan begitu hampa ketika Ben pergi


Untuk beberapa hari aku bahkan mendapat teguran dari Mrs Winnie karena performa ku yang sedikit menurun.


" Cobalah konsentrasi Delanie, kau selalu terlambat selangkah" kata Mrs Winnie dengan keras


Aku hanya mengangguk dan kemudian berusaha yang terbaik untuk melakukan setiap gerakan yang diajarkan oleh Mrs Winnie.


Sebenarnya itu tidak terlalu sulit jika aku berusaha untuk fokus, tapi Wajah dan senyuman Ben selalu menghantui hari hariku.

__ADS_1


Seperti pagi ini begitu bangun hal pertama yang aku lakukan adalah melihat ke arah rumah Ben yang kini sudah di huni oleh penghuni baru. Hanya satu hari rumah itu kosong dan setelah itu rumah itu ramai dengan suara keluarga yang memilih dua anak.


Aku merindukan suara ketukan Ben di pintu rumahku, aku merindukan saat aku terbangun dan terburu buru mencuci wajah karena Ben sudah datang di depan pintu.


" Aku merindukan semua itu" kataku sambil menatap seorang wanita muda yang sedang menyuapi anaknya.


Walaupun kami selalu berkomunikasi bahkan hampir setiap hari melakukan panggilan video rasanya itu sangat berbeda dengan kebiasaan yang sudah 4 bulan terjalin.


Tapi kerinduan ku sedikit terhibur karena hampir setiap pagi Ben selalu menghubungi Ku untuk sekedar bertanya apakah aku sudah sarapan.


" Kamu sudah sarapan Delanie??" tanya Ben dari panggilan suara yang ia buat


" Tidak, aku menunggu mu" kataku dengan manja


" Ya ampun kamu ini benar benar tidak berubah" celoteh Ben dari ponselku, ia sepertinya benar benar geram kepadaku


" Kau akan datang di akhir pekan ini kan??" tanyaku, sudah 4 hari Ben pergi dan aku benar benar kacau balau.


Ben terdiri aku tidak mendengar Jawa selain suara ******* yang berasal dari ponselku


" Aku tidak bisa Delanie, aku berharap kampung akan marah" kata Ben dengan suara yang memelas


" Jangan bercanda Ben, aku sedang sangat serius" kataku yang sudah mulai panik


" Tidak hanya saja aku tidak bisa datang dalam bulan ini" kata Ben semakin membuat ku frustasi, aku bahkan menggigit bibir ku karena aku merasa kecewa


" Aku mendapat modul yang cukup banyak untuk mempercepat semuanya, aku melakukannya untuk kita dan aku harap kamu mengerti"


Lemas seluruh tubuh terutama lututku, aku sudah membayangkan akan menghabiskan waktu bersama Ben setidaknya hanya beberapa jam


"DELANIE" kata Ben memanggil namaku

__ADS_1


" Aku harap kamu mengerti, aku akan sangat sibuk dan aku tidak berjanji untuk menepati janjiku sebelum nya"


Aku langsung mematikan ponselku rasanya aku begitu muak dengan seribu alasan yang diberi kan oleh Ben.


" Aku tidak akan bertemu dengannya dalam waktu dekat"


" Sial" umpat ku sambil meletakkan ponsel ku begitu saja


Aku memijit keningku karena aku mulai merasa kan pusing dengan pikiran yang tidak terarah


" Aku membencimu Ben"


Sayangnya Kalimat itu tidak berasal dari hatiku, itu hanya keluar dari mulut ku yang begitu berbanding terbalik dengan kenyataan yang sedang aku rasakan.


Pagi yang menyebalkan itu akhirnya kulalui dengan mandi air hangat di pagi hari, sepertinya itu akan membuat beban ku sedikit berkurang


" Jangan terlalu memikirkan nya Delanie, ini bukan apa apa" Kataku sambil menyiramkan air hangat keseluruh tubuh ku


Aku mencoba untuk berpikiran positif hingga aku tidak menyadari latihan sudah selesai dan Mrs Winnie kembali menegur ku.


" Fokus Delanie, tarian ini akan kita bawakan dalam 3 bukan ke depan dan kita akan disampingku oleh Musisi terkenal"


" Baik Mrs Winnie, aku mengerti" kataku


" Aku percaya padamu jika kau memang bisa aku tidak akan segan-segan memberikan peran utama padamu"


Aku terkejut sekaligus senang, tarian odette akan menjadi icon utama dalam tarian ini dan jika aku berhasil aku akan bersanding dengan Feer salah satu penari laki laki terbaik.


" Benarkah??" kataku dengan mata yang berbinar


" Aku tau kau punya potensi Delanie bahkan saat pertama aku melihat mu, berjuanglah" kata Mrs Delanie sambil menepuk pundak ku

__ADS_1


" Kendalikan emosimu, jangan menjadi orang yang labil bersikap disiplin dan profesional"


Jangan lupa like, komen dan vote ya..... dukungan kalian sangat berarti bagi author.


__ADS_2