
" Aku tidak bercanda Ben, Dady menyuruh kita untuk menikah dan beliau menyuruh kita mempersiapkan nya selama 6 bulan ini" kata Ku
" 6 bulan?? sungguh aku belum siap untuk itu Delanie, jika kau membujukku untuk mengatakan hal konyol ini aku seharusnya tidak akan datang" kata Ben
Sabtu ini Ben datang dan tentu saja itu kerena bujukan ku, Ia akhirnya datang dan aku segera menceritakan maksud kedatangan Dady ke Inggris.
" Dia akan menikahkan aku dengan laki laki lain jika kau menolak nya atau paling tidak mati kita bicara dengan Dady" kataku dengan sedikit memohon, sungguh aku tidak ingin kehilangan lelaki sebaik Ben
" Percuma Dadymu sepertinya tidak akan memberikan Ku kesempatannya" kata Ben lirih
" Secepat itukah kau menyerah Ben, aku disini berjuang untuk mempertahankan hubungan ini?? Ratapku dalam hati, sungguh miris rasanya Ben tidak menghiraukan permintaan ku
"'Apa kau tidak ingin menikah dengan ku Ben Ben, Sungguh aku tidak menikah dengan orang pilihan Dady"
" Aku mengerti tapi segalanya itu butuh waktu Boo, aku tidak mungkin Menikah sementara kuliah ku belum selesai. Aku ingin kita menikah jika aku sudah siap dan bisa hidup mapan" kata Ben
Kata kata Ben sudah memupuskan seluruh harapan ku, aku hanya duduk sambil menatap Ben dan tanpa aba aba airmata mengalir deras di pipiku
" Baiklah, sepertinya kita harus berpisah" kataku dengan nada lirih, aku begitu terpukul dengan ketidak seriusan Ben
'' Heii Boo jangan menangis" kata Ben, ia berpindah tempat ke sampingku dan merangkul pundak ku
" Pergilah Ben, sepertinya kita tidak berjodoh" kataku sambil menepis tangan Ben yang bertengger di pundak ku
" Booo" kata Ben mencoba membujukku
" Berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikan itu'
Aku meninggal kan Ben yang masih termangu disana,. Aku benar benar tidak menyangka Ben tidak mau memenuhi keinginan untuk menikah dengan ku
__ADS_1
" Booo" kata Ben sambil mengetuk pintu kamar ku
Aku tidak menjawab karena aku hanya bisa bisa menangis sambil membekap mulutku yang ingin sekali berteriak dan mengatakan aku sungguh terluka.
' Pergilah Ben..." isakku dengan suara yang tertahan, percuma saja aku meminta Ben untuk datang.
Aku terbangun dengan kepala yang terasa sakit, aku terbangun karena suara berisik yang berasal dari dapur dan bau yang enak.
Samar samar aku melihat jam weker dan melihat ini sudah hampir jam 6 sore, aku segera beranjak dan mengikat rambut ku yang berantakan.
Lagi lagi aku mendengar sesuatu yang dimasak di dapur, aku penasaran dan membuka pintu kamar. Mataku masih sedikit sembab karena menangis hampa 1 jam
Wanita memang penuh dilema pantas saja jika teman teman ku putus cinta selalu dengan mata yang seperti ini.
" Ben" kataku sambil melihat Ben yang ternyata belum pulang justru ia sedang sibuk memasak
" Untuk apa kau melakukan semuanya ini Ben??? Pergilah"kataku
Ben menatap ku dengan sinar mata birunya, aku menghindari nya kerena aku tidak ingin terbius dengan tatapan yang mematikan seluruh perasaan ku
" Aku akan pergi jika kau sudah makan, bagaimana juga kau tidak boleh sakit" kata Ben dengan penuh perhatian, seolah tidak ada masalah yang terjadi di antara kami
" Cih... berhenti lah bersikap perhatian, aku akan terbiasa tanpa dirimu'
Ben terdiam dan menghentikan seluruh aktifitas nya,ia duduk sambil menatap dengan tatapan kosong
" Aku juga ingin memenuhi janjiku pada kedua orang tuaku Delanie" kata Ben dengan suara yang begitu berat
__ADS_1
" Aku ingin lulus seperti yang mereka harapkan, kau tau sudah begitu banyak pengorbanan yang dilakukan oleh mereka hanya untuk melihat ku menjaga seseorang yang hebat"
Aku terdiam dan aku mengerti mengapa Ben tidak mengiyakan permintaan ku
" Ini bukan semata mata karena harta Delanie, aku sudah mengecewakan mereka lebih dari berkali kali" lanjut Ben
Sekarang aku mengerti kami sama sama memiliki beban yang sama, sama sama terikat dengan orang tua.
" Sekarang makanlah, pertengkaran tadi sudah menguras tenaga mu"
Ben menarik ku dan mulai menyuapinya dengan makanan yang ia masak hanya untukku
"Bagaimana aku bisa melupakan mu Ben Ben??, aku mungkin tidak akan pernah bisa"
" Berhenti lah menangis Delanie, jangan memikirkan apa yang akan terjadi esok tapi kita nikmati saja yang ada sekarang biarkan esok menjadi misteri" kata Ben dengan bijaksana
Aku tidak tahan untuk memeluk Ben, aku memeluk nya dengan begitu kuat
" aku tidak bisa kehilangan mu Ben Ben" aku ku dengan airmata yang sudah mulai keluar
" Aku tidak bisa" isakku semakin kencang
" Sudahlah jangan menangis terus kau sangat jelek jika begini" kata Ben sambil menghapus airmata ku,
" Kau juga menangis" Kataku sambil memanyunkan bibir ku
Jangan lupa like, komen vote, dan follow author ya... dukungan ini sangat berarti bagi author.
Love u...
__ADS_1