Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Lin Dan Sams


__ADS_3

Aku tidak kuasa menahan tangisku ketika melihat Lin dalam balutan serba putih. Lin yang dulu adalah korban pelecehan kini menjadi pengantin yang begitu cantik


" Aku iri padamu" kataku sambil memeluk Lin,


Lin mengangguk kan kepalanya sambil menahan tangisnya.


" Seharusnya aku tidak menangis tapi karena kau, aku jadi mewek"kata Lin


" kau cantik sekali Lin sungguh kau lelaki yang beruntung Sams, jaga Lin untukku" kataku sambil menoleh ke dalam Sams


" Hei...bukan hanya untukku tapi juga untukku" kata Sams


" Sudahlah terlalu lama disini membuat ku semakin iri saja" kataku sambil beranjak dari samping Lin


" Kau mau Kemana??"Tanya Lin


" Aku mau makan yang banyak, aku benar benar lapar sekarang" kataku sambil mengelus perutku


" Jangan pergi dulu atau aku akan benar benar marah" kata Lin mengancam


" Ayolah....aku tidak mungkin melihat sampai acara malam pertama kalian selesai" kata ku sambil mengedipkan mataku ke arah Lin


" Dasar konyol" kata Lin


Aku benar benar Menikmati acara makan di resepsi Lin Dan Sams, lidahku serasa bergoyang saat menikmati makanan kondangan yang menurutku sangat nikmat.


" Akhirnya aku bisa makan dengan baik" kataku dalam hati,


Setelah menikmati sate aku kemudian beralih pada nasi kuning dan ayam geprek, aku benar-benar tidak bisa mengontrol ***** makanku.


Sebenarnya sudah berhari hari aku tidak makan dengan baik, karena permasalahan yang terjadi membuat ku terganggu hingga mengurangi ***** makanku secara drastis..


"Oh...ini enak sekali"kata ku sambil memasukkan suapan nasi kuning kedalam mulutku.

__ADS_1


" Sepertinya kau menikmati nya nona Delanie"


Suara Ricardo kembali menggema di telinga ku, aku langsung menoleh ke arah belakang dan benar saja Ricardo juga datang ke acara pernikahan Lin Dan Sams.


" Loh bukannya..." kataku sambil mendekat, aku mengira Ricardo sudah kembali setelah pembicaraan kami di bibir pintu.


" Tiba tiba aku lapar dan ingin makan" kata Ricardo sambil menunjuk piring yang berisi sate dan juga lontong.


"Benarkah??" kata ku berbasa-basi


" Hmmmm, oh ya Dimana Zio??"Kata Ricardo mengurangi ***** makanku, aku tidak membicarakan laki laki egois itu sekarang


" Di...dia di kantor" kataku sambil tersenyum, aku tidak ingin Ricardo tau kalau dan Zio sedang dalam tahap perceraian.


" Oh ya?? Mengapa tidak bersama?? seharusnya dia menemani wanitanya, apalagi wanita secantik kamu"


" Uhukk"


Hampir saja aku tersedak cukup parah untungnya dengan sigap Ricardo mengambil air botol mineral untukku.


" Tak apa" kataku sambil melanjutkan makanku sementara Ricardo tidak menyentuh makanan nya bahkan ia hanya diam sambil menatap ku.


Sungguh aku merasa tidak nyaman tapi aku juga merasa tidak sopan jika meninggal kan dia begitu saja.


" Kenapa kau tidak makan??" tanyaku berbasa basi


" Melihat mu saja aku sudah kenyang"


" Oh..."


" Dasar lalu laki pembual"makiku dalam hati


" Apakah anda terbiasa membual??" kataku sambil tersenyum

__ADS_1


" Tidak juga hanya Kerena aku mengagumi mu saja, aku ingin sekali melihat tarian mu lagi. Mengapa tidak menari lagi??" tanya Ricardo


" Sepertinya kau tahu banyak mengenai diriku padahal aku tidak ada dalam pencarian google" kataku


" Ha....ha....bukan hanya pintar menari tapi kau juga pintar melucu" kata Ricardo


Aku dan Ricardo cukup lama mengobrol, aku merasa nyaman berbicara dengan nya walaupun aku baru saja mengenali nya.


Ricardo menurut ku pribadi yang cukup Ramah dan humoris, baru beberapa waktu mengenalnya aku merasa sudah mengenal nya cukup lama.


" Sepertinya kau teman yang asyik, Bagaimana kalau mulai hari ini kita berteman" kata Ricardo menawarkan


" Teman?? boleh saja" kataku tidak keberatan


" Boleh minta Nomor ponsel??"


Kali ini aku menggeleng kan kepala kerena aku tidak ingin terlalu intens berhubungan dengan orang orang yang baru saja aku kenal.


" Baiklah jika tidak hari ini mungkin tahun depan" kata Ricardo dengan semangat


Akhirnya pembicaraan ku dengan Ricardo akhirnya benar-benar berakhir, Kini aku sudah sampai di rumah dan kembali memikirkan apa yang aku kulakukan selanjutnya.


Aku memikirkan bagaimana caranya aku menggantikan posisi Zio sebagai CEO dari perusahaan Okta company.


" Sepertinya aku harus belajar lebih keras aku yakin pasti bisa" kataku sambil menyemangati diriku sendiri


Saat memikirkan bagaimana caranya tiba tiba saja aku mendapat sebuah pesan dari Zio.


"Dia akan bertemu dengan mu Sabtu depan"


Kalimat singkat dari Zio seketika membuat jantung ku berdebar, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan dan ku katakan pada lelaki yang sudah dijodohkan oleh Zio buatku.


" Terserah kamu saja"

__ADS_1


Aku kemudian memilih mematikan ponselku dan ingin tertidur lelap. Bukan hanya makan saja tidurku juga terganggu selama beberapa hari belakangan ini


Aku begitu sering menghayal, menangis bahkan minum minuman beralkohol hingga membuat kesehatan ku menurun dari biasanya.


__ADS_2