Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Aku membencinya


__ADS_3

" Ini hari terakhir ku di St lves"" kata Ben sambil merangkul pundak ku


" Aku membencinya, jangan katakan apa apa Ben" kata ku


Hari ini hari terakhir Ben St lves, seluruh Tesisnya sudah selesai dan ia harus kembali ke London pagi nanti.


" Apa tidak bisa lebih lama lagi, aku tidak ingin berpisah" kataku walaupun aku tau itu hanyalah harapan kosong


'' Bersabar lah, Tahun depan aku akan wisuda bekerja dan aku akan melamar mu"


Aku cukup terkejut dengan perkataan Ben, rasanya melamar masih dalam tahap yang cukup jauh, lagipula hubungan ini baru saja dimulai.


" Benarkah??" kataku sambil menatap Ben


" Apa kau tidak ingin aku melamar mu??" tanya Ben


" Aku ingin tapi mengatakan hal itu masih terlalu dini, aku hanya ingin bersamamu saat ini"kataku sambil mendekat sambil mencium aroma jaket Ben.


" Baiklah terserah kamu saja Delanie' kata Ben


Percakapan itu berlanjut hingga ke masa lalu Ben, Entah kenapa aku begitu penasaran dengan orang orang di masa lalunya.


Tampaknya Ben terpukul aku bisa melihat dari sorot matanya yang begitu sendu dan juga sedih


"Itu bertepuk sebelah tangan, aku bahkan tidak mengatakan nya" kata Ben


" Kenapa?? apa kau gugup karena dia adalah cinta pertama mu?" tanyaku penasaran


" Tidak dia meninggal karena kecelakaan" kata Ben semakin membuat miris dan juga sangat sedih


" Siapa namanya??" tanyaku penasaran


" Rose....dia adalah Rose" Kata Ben sambil mengulang namanya , Sepertinya itu sangat membuat dia sakit


" Apa kau belum melupakan nya Ben,??" tanyaku


Ben segera tersadar dan mengalihkan pandangannya padaku, ia mencubit hidungku sambil tersenyum

__ADS_1


" Tidak perlu cemburu itu hanya masa lalu, lagi pula mengapa menambah beban Delanie dengan berpisah saja Sudah membuat sedih'"


" Bagaimana jika itu terjadi pada.." belum selesai aku berniat Ben sudah membungkam ku dengan jari telunjuknya


Tatapan Ben selalu tajam tapi kali ini buka hanya dalam dan tajam tapi tatapan nya terlihat begitu jelas, ia takut kehilangan lagi.


"Jangan Delanie," Kata Ben membuat ku terdiam, ia mengelus bibir ku dengan telunjuk nya


Aku menikmati sentuhan yang diberikan boleh Ben, jari telunjuknya yang bermain di atas bibir ku membuat ku ingin merasakan yang namanya ciuman


Ben mendekat sehingga hampir tidak ada jarak diantara kami, aku pasrah apapun yang Ben lakukan


Aku hanya wanita normal yang juga ingin merasakan indahnya cinta, sekuat tenaga aku menutup perasaan ini dan untuk Ben aku tidak berani melakukan nya.


" Cuppp"


Benar saja Ben akhirnya mendarat kan ciumannya dan bibirku, aku begitu kaku dan tidak tahu harus berbuat apa saja Bibir Ben menyentuh bibirku.


Aku bisa merasakan aroma mint yang begitu kuat dari nafas Ben, bibirnya terasa dingin dan perlahan berubah menjadi sesuatu yang hangat.


" Sepertinya Ben tidak terbiasa melakukan ini" kataku dalam hati, mataku tertutup dan tidak berani menatap Ben


Ciuman itu berakhir saat Ben mengakhiri nya, aku benar-benar malu karena aku melakukan hal yang selama ini kutabuhkan


" Sepertinya kita harus banyak belajar ya??" goda. Ben melihat wajahku yang memerah bak kepiting rebus


" Aku...aku..."


" Belum pernah melakukannya kan??" tebak dengan tepat


" Aku bisa merasakan nya, lagipula kita masih dalam tahap belajar"


Aku hanya menggaruk kepalaku dengan senyuman aneh


" Apa kami perlu belajar untuk hal semacam itu??"


Malam itu terasa panjang karena kedua mataku tidak mau menutup, dua hal yang membuat diriku begitu sulit untuk melakukan nya.

__ADS_1


Pertama aku pasti akan sulit melepaskan Ben saat matahari terbit dan ciuman tadi membuat aku tidak bisa memikirkan apa apa.


Berkali kali aku menyentuh bibir ku, rasanya aku ingin sekali tidak membasuh nya. Aku ingin aroma nafas dan rasa bibir Ben tetap menempel disana.


" Ahhhhh Cinta memang aneh, pantas saja orang orang kehilangan akal sehat karena nya"


" Tinggggg"


Sebuah chat masuk ke dalam ponsel ku, aku segera mengambil nya dan mengharapkan chat itu dari Ben


Aku yakin sekali Ben juga tidak bisa tidur kerena memikirkan aku


" Bagaimana keadaan mu di sana Delanie?? Dadi harap kau baik baik saja"


Sebuah Chat yang ternyata berasal dari Dady, aku sedikit kecewa tapi jujur saja aku senang karena ini chat pertama Dady sejak aku berada di Inggris


"Aku baik baik saja Dady, tidak usah mengkhawatirkan aku"


Sebuah chat balasan untuk Dady, aku sebagai anak harus menghormati Dady apalagi aku adalah keluarga satu satunya yang Dady punya.


" Dady senang mendengar nya, Dady harap kau tidak kesulitan disana "


" Terimakasih Dady aku baik baik saja"


" Dady rindu memeluk mu Delanie"


Jantungku seolah copot saat membaca kalimat terakhir Dady, sudah lama Dadyku tidak mengatakan hal hal yang manis, hanya pertengkaran yang menghiasi hari hari belakangan ini.


Bahkan saat datang kesini Dady sama sekali tidak menghiraukan atau mengantarkan ui ke Bandara. Aku merasa sangat terluka saat tapi aku mencoba mengerti dengan semua kesibukan Dady dan juga perang dingin yang terjadi diantara kami berdua.


Tapi sebagai orang tua Dady memang sangat bertanggung jawab, ia selalu mengisi saldo dalam ATM ku dan memberikan apa saja yang aku inginkan.


Aku tidak tahu apakah aku anak yang beruntung atau tidak, yang aku tau tidak akan ada kehidupan yang sempurna.


Jangan lupa untuk like, komen, dan vote novel ini ya....Jangan lupa Untuk follow dan juga favorit kan novel ini ya.


Love u all......

__ADS_1


__ADS_2