Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Seperti Mimpi


__ADS_3

" Non...Non Delanie"


Suara yang sudah lama tidak kudengar itu membuatku terbangun, rasanya seperti mimpi bisa mendengar suara Bi Jida sedekat dan senyatanya itu..


Aku berusaha bangun dari mimpi yang mengandung kerinduan itu, Aku berusaha membuka mataku untuk melihat Bi Jida.


Aku membuka mata dengan rasa sakit kepala yang luar biasa, dengan usaha yang kuat akhirnya aku bisa membuka mataku untuk melihat Bi Jida yang sedang berdiri di hadapanku.


" Bi...." Kata Ku dengan suara Serak, bahkan aku merasa tenggorakan ku begitu sakit dan kering.


Aku benar benar melihat Bi Jida dihadapan ku, ia bahkan tersenyum dan menatap ku


Aku kaget hingga aku bangkit dengan berat tubuhku yang bertambah dua kali lipat.


"Eh... apakah ini bukan mimpi??" tanyaku pada diri ku sendiri.


Aku mencoba mengingat kejadian yang terakhir kali dan ingatan ku kembali pada kedatangan Dady di siang itu.


Dady benar benar menepati perkataan nya, setelah rentang waktu 6 bulan Dady datang dan kamipun duduk untuk berbicara.


Aku ingat saat Dady ada di rumah, ia membuatkan ku secangkir teh hangat agar kami bisa baca dengan Tenang. Tapi anehnya setelah itu aku tidak mengingat apa apa lagi, dan begitu aku terbangun aku justru berada di rumah.


Benar benar rumah yang sesungguhnya, aku tentu kaget kerena pagi ini aku sudah ada di Indonesia tapi merasakan perjalanan yang sebenarnya memakan waktu yang begitu lama.


" A...apa yang terjadi Bi??" kataku dengan tidak percaya


" Loh memagnya Non tidak tahu kalau non Sampai tadi malam"


Sungguh aku tidak mengingat apa apa kecuali aku mengingat aku sempat melihat awan dan langit biru tapi aku tidak bisa menahan kantuk.

__ADS_1


" Ini Bibi bawakan non airmadu hangat ini atas perintah tuan Okta"


" Sial" kataku sambil menggerutu


Kini aku tahu Dady telah melakukan sabotase atas diriku, dia pasti sudah mencampur kan obat tidur dengan dosis tinggi hingga aku tidak bisa bangun untuk menyadari apa yang terjadi.


Pada saat itu Dady langsung mengambil Kesempatan untuk membawa ku dari St lves dengan Jet atau pesawat pribadi.


" Dady benar benar keterlaluan Bi Jida, dia bahkan memberikan obat tidur agar bisa membawa ku kesini" kata ku dengan kesal.


Memang saat Dady tiba aku tidak menyambut nya dengan baik, bahkan aku sempat menolak kembali Ke Indonesia dengan alasan aku tidak ingin menikah.


Rupanya Dady sudah merencanakan itu matang matang, dia sudah mempersiapkan segalanya agar bisa membawaku ke Indonesia.


" Sudah lah Non apa non tidak rindu pada Bibi??" tanya Bi Jida, ia pun memeluk ku dan mengelus punggung ku dengan lembut


Aku terus menangis hingga aku tidak menyadari kalau Dady sudah ada di hadapan kami, Aku menyadari nya setelah Bi Jida melepaskan pelukannya dan segera keluar dari kamar ku


Aku menatap Dady dengan tatapan benci, aku membencinya hingga aku tidak ingin melihat nya.


" Sesuai kesepakatan kau akan segera menikah dan mungkin bulan depan kalian akan menikah"


Aku menatap Dady sebagai lelaki yang tidak berperasaan, bukan hanya menculik ku tapi ia juga tidak perduli dengan keadaan ku.


" Beginikah perlakuan ayah kepada putrinya??" kataku dengan nada ketus


" Beginikah Dady?? Mengapa aku terlahir Sebagai putri yang tidak beruntung, lebih baik aku memilih Ayah dari kasta terbawah dari pada memiliki ayah sepertimu"


Rasa marahku tidak bisa terpendam lagi, aku tidak perduli dengan perasaan Dady kerena dia juga tidak pernah memikirkan perasaan putrinya.

__ADS_1


" Cukup Delanie Dady tidak ingin berdebat, yang jelas kamu akan tetap menikah" kata Dady, ia tidak perduli dengan ucapan kasar yang ku ucapan


" Dady!!!" kataku berteriak


Sayangnya Dady memilih pergi dan tetap pada pendiriannya, itu artinya aku harus mempersiapkan diri untuk menikah dengan Zio Lelaki pilihan Dady.


___________________________________________________


Bi Jida Menghibur ku dengan membuat masakan masakan kesukaan ku, dengan semangat ia membawakan nya ke kamar agar kondisi ku semakin membaik.


Aku memang merasa begitu lemas dan selalu mengantuk, mungkin pengaruh obat tidur itu masih bekerja dalam tubuh ku.


" Sebaiknya Non makan bubur ayam ini, sekalian Bibi siapkan Ayam semur pedas kesukaan Non Delanie"


Melihat semua makanan itu seharusnya aku tidak berselera tapi entah kenapa aku tidak ingin makan.


"Aku tidak ingin Bi, aku masih ingin tidur lagi" Kataku


" Non anda sudah kelebihan tidur lagipula tidur bukanlah kebiasaan dari Okta Delanie" kata Bi Jida


" Jangan menyebutkan nama Okta Bi, aku bahkan tidak ingin terlahir dari keluarga yang sangat egois ini"


" Jangan begitu Non, tuan Okta hanya menginginkan yang terbaik untuk Non" kata Bi Jida dengan bijak


Walaupun aku terus menolak Bi Jida punya seribu cara untuk membujukku makan, ia bahkan menyuapi ku seperti kebiasaan nya semasa kecil dulu.


Jangan lupa like, komen vote dan follow author ya.... Dukungan kalian akan sangat berarti bagi author untuk tetap semangat untuk segera up ke episode selanjutnya.


Love u All

__ADS_1


__ADS_2