
Cukup panjang dan cukup melelahkan, aku bingung bagaimana caranya aku bisa membawa barang barang ini.
" Non Delanie, anda hampir melewatkan ham makan siang" kata Bi Jida
"Sebentar lagi Bi" kataku
" Boleh bibi masuk??"
" Masuklah"
Bi Jida kemudian membuka pintu dan aku bisa melihat ekspresi nya saat melintas semua barang barang ku berantakan di atas ranjang.
" Ini ada apa??" tanya Bi Jida keheranan
Ya ampun aku sampai lupa memberitahukan rencana keberangkatan ku kepada Bu Jida, sebentar aku tidak ingin membuat nya sedih.
Aku adalah alasan keberadaan Bi Jida ada disini, dia adalah saksi dan juga orang yang paling terlibat dalam tumbuh kembangku dan bisa bisanya aku melupakan nya.
" Aku ingin pergi Bi" kataku sambil duduk, aku memainkan tanganku dengan perasaan rasa bersalah
" Ingin pindah rumah atau non mau pindah ke apartemen??" tanya Bi Jida
"Tidak..." kataku dengan helaaan nafas yang begitu berat
" Aku ingin pergi ke Inggris Bi"
" A.....apa???"
Bi Jida tercegat mendengar perkataan ku, ia memandang ku dengan tatapan kosong.
" Bibi masih belum mengerti" kata Bi Jida, ia ingin sekali aku memperjelas nya
" Ya aku akan sekolah tari di salah satu sekolah tari impian ku Bi, dan aku akan berangkat Lusa"
Kulihat Bi Jida semakin bingung , ia menatap ku dengan nanar dan penuh kecewa.
" Bukanlah kelas tari disini cukup bagus dan kau sudah mendapatkan peran yang kau inginkan"
" Aku tahu tapi aku ingin yang lebih besar dan mendapatkan pengakuan"
__ADS_1
" Begitu pentingkah pengakuan?? Keluarga lebih dari segalanya nona Delanie"
" Hiksssss"
Aku menangis kecil sebenarnya aku juga tidak ingin pergi tapi Dady sudah menyuruhku untuk pergi agar hubungan kami tidak terlalu memburuk.
" Sepertinya keluarga jika berjauhan akan lebih baik" kataku sambil menghapus air mata ku
" Seharusnya Bibi sadar kalau Bibi hanya sekedar pengasuh untukmu, kau tidak akan punya pertimbangkan untukku"
Sungguh pahit aku mendengar semua ini, aku memeluk Bi Jida yang juga ikut menangis bersamaku.
" Maaf Bi"
Hanya itu yang bisa ku ucapkan
" Tolong jaga Dady untukku"pintaku
" Aku tidak punya hak untuk melakukan itu, Dadymu bukanlah bayi besar yang harus kujaga. Kau adalah alasan satu satunya untuk berada disini"
" Bagaimana kalau bibi ikut??" kataku memberikan penawaran
" Mungkinkah?? sepertinya Bibi akan kesulitan dalam hal komunikasi" kata Bi Jida
" Bagaimana???"
Agak berat juga Bi Jida menjawab ku, dia pasti pertimbangan yang cukup berat
" Apa jangan jangan Bibi tidak ingin meninggalkan Dady???" godaku
" Berhenti lah Delanie, aku tidak ingin meninggalkan keponakan ku sendiri disini"
" Ya ampun" Aku menepi jidatku
Aku hampir melupakan keponakan kecil Bi Jida yang sekolah di sebuah asrama, dia akan datang satu atau dua Minggu sekali untuk mengunjungi Bi Jida.
" Sepertinya itu tidak mungkin non, lebih baik non disini saja" kata Bi Jida
" Tidak Bi, aku ingin pergi"
__ADS_1
" Kalau begitu pasti Tuan besar akan memecat ku" kata Bi Jida terdengar frustasi
" Tidak akan, aku pastikan itu tidak akan terjadi"
Sengaja aku menunggu Dady untuk pulang, aku sengaja duduk di ruang kerja yang berada di dalam kamar nya.
" Sudah jam 8 malam" kataku sambil melihat sebuah jam besar yang ada di dinding kamar Dady
Tepat di jam itu aku mendengar suara ceklekan pintu kamar Dady dibuka dan aku tahu itu pasti Dady
Dady terkejut saat melihat ku ada di ruang kerjanya, karena hanya terbatas dengan pintu kaca sehingga Dady bisa melihat ku duduk di kursi kerjanya
" Ada apa?" tanya Dady sambil membuka dasi dan sepatunya, ia kemudian meletakkan nya pada tempatnya.
" Dady memang orang yang rapi" kataku dalam hati
Aku kemudian menghampiri Dady untuk mengatakan maksud dan tujuanku. Dengan wajah datar dan dingin aku menatap Dady dengan perasaan yang masih belum nyaman.
Aku teringat akan tamparan Dady di pagi itu dan itu membuat ku kehilangan simpati untuk sementara
" Lusa aku akan berangkat seperti keinginan Dady" kataku membuka pembicaraan
" Kemana??" kata Dady seolah tidak perduli dan ini membuat ku semakin muak.
" Kemana saja yang penting tidak di rumah ini" Kataku lagi
" Kau memang sama dengan mommy mu..."
" Sudahlah Dady tidak usah membahas Mommy di saat seperti ini, aku ingin mommy tenang"
" Baiklah silahkan kamu pergi, Dady akan transfer semua ke rekening kamu" kata Dady, ia kemudian memilih ke kamar mandi daripada melanjutkan pembicaraan dengan ku
Aku menggigit bibir ku sambil menahan tahan dan gejolak rasa yang bergemuruh di dada ku. Sebenarnya aku menginginkan sebuah pelukan sebelum aku pergi tapi aku tahu Dady tidak akan melakukan itu disaat seperti ini.
Aku mendengar suara shower dinyalakan, aku hanya menatap pintu kamar mandi itu.
" Kau memang egois Dady tapi terlepas dari permasalahan yang terjadi aku tetap menyayangi mu"
__ADS_1
Aku keluar dari kamar Dady dengan lutut yang setengah lemas, aku juga tidak tahu apakah aku sudah siap dengan keputusan seperti ini.
Jangan lupa untuk like, komen dan juga follow novel ini ya, author sangat membutuhkan dukungan kalian agar author tetap semangat ya..