
Dimohon sebelum membaca untuk memberikan dukungan untuk author ya.
Jangan lupa like komen vote dan juga follow author ya....
Tanpa pamit aku memilih untuk kembali ke kediaman keluarga Okta, aset seluruh keluarga Okta kini sudah dikendalikan oleh Zio. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa karena percuma saja menjelaskan semuanya dalam keadaan yang masih panas.
Ini adalah bentuk kekecewaan ku pada keluarga Zacheri, aku tidak pernah dihargai di keluarga ini. Bahkan Yuna satu satunya Anggota keluarga yang baik dan ramah kini berbalik membenciku karena masalah Ben.
Aku menangis di pelukan Bi Jida, aku melampiaskan kesedihan ku pada wanita yang sudah ku anggap ibu ini.
" Sudahlah non tidak baik jika menangis terus, lebih baik non berdoa untuk meminta petunjuk atas masalah yang terjadi"kata Bi Jida
" Percuma bi sepertinya kesialan terus saja menimpaku dan itu terjadi sejak Zio Menikahiku" kataku mengeluh
"Tidak baik berkata seperti itu kalian sekarang sudah menahan satu bukan lagi dua" kata Bi Jida
" Sampai saat ini saja aku masih perawan Bi, Zio tidak pernah melakukan apa yang menjadi kewajiban nya padaku. Bagaimana mungkin aku dan Zio menjadi satu"
Cukup terkejut Bi Jida mendengar hal itu, selama ini aku tidak pernah menceritakan kalau hubungan kami hanyalah sebuah status tanpa rasa dan ikatan.
" A...pa mungkin begitu??" kata Bi Jida tidak percaya
" Begitulah jadi untuk apa aku bersama nya" kataku
" Apa non mencintai tuan Zio??"tanya Bi Jida
Seketika aku terdiam mendengar pertanyaan Bi Jida, aku tidak bisa memungkiri aku sudah mulai tertarik pada Zio. Itu alasannya kenapa aku berusaha untuk menjadi istri yang baik.
Berawal dari nasehat Dady dan Bu Jida aku mencoba menjalankan peranku sebagai istri untuk Zio tapi sayangnya itu hanya bertepuk sebelah tangan.
" Sayangnya iya Bi" kataku sambil tertunduk, airmata mengalir deras di pipiku
" Sudah bibi duga, semua keputusan ada di tangan mu. Kau memilih bertahan atau berpisah" kata Bi Jida
__ADS_1
Setelah cukup lama berbincang dengan Bi Jida aku kemudian naik kelantai atas untuk menenangkan diriku. Aku sudah cukup lelah menangis ber jam jam hanya untuk menangisi orang yang merendahkan ku.
Aku mencoba untuk tertidur tapi mataku tidak bisa terpejam, malah aku merasa kan sakit kepala kerena menangis terlalu lama.
" Kenapa aku harus merasakan ras sakit ini dua kali?!"
Aku menatap langit langit kamar ku sambil membayangkan wajah Zio disana. Ya...kami pernah mengalami hal hal manis walaupun itu hanya sebentar dan hanya sandiwara Zio.
Aku terlanjur terbawa perasaan yang tidak bisa ku kendalikan.
" Dasar wanita bodoh" kataku pada diriku sendiri
Hingga malam tiba aku tidak bisa memejamkan mataku dan pada titik ini aku memilih untuk menikmati waktu sendiri di luar.
Walau Bi Jida sudah melarang ku tapi aku tetap pergi dengan menggunakan mobil Dady yang masih tersimpan rapi. Mesinnya masih bagus dan juga mulus, tentu saja Pak Markus pasti rajin mengurus dan merawatnya.
Aku memilih sebuah Club' yang berada cukup jauh, aku memilih duduk sendiri sambil menikmati beberapa gelas wine.
Ini untuk Pertama kalinya aku kembali minum setelah Dady meninggal. aku ingat saat pertama kali aku minum saat aku memergoki Dady sedang bercumbu dengan salah satu sahabat ku
" Heiii. nona Delanie"
Tiba tiba saja seseorang lelaki memanggil ku dan rasanya aku mengenal lelaki itu.Aku menoleh dan mulai mengingat siapa lelaki yang cukup tampan ini
" Kamu lagi" kataku yang sudah mulai tidak stabil, aku merasakan tubuhku terasa ringan
" Ya... seperti nya anda sudah terlalu banyak minum"
" Kau ...kau...."
" Aku Ricardo" kata lelaki itu barulah aku mengingat nya, dia lelaki yang berada di toilet itu.
"Ya...tuan Ricardo" kataku sambil tersenyum, aku mulai mengangkat gelas ku untuk minum lagi tapi Ricardo langsung menghentikan dengan mengambil gelas di tangan ku
__ADS_1
"Berikan jangan menggangguku" kata ku sambil berusaha mengambil gelas itu, sayang nya keseimbangan ku tidak bagus hingga aku jatuh di pelukan Ricardo untuk kedua kalinya.
"Lepaskan atau kau juga akan menganggap ku murahan " kataku sambil melepaskan pelukannya
"Hei... tidak mungkin aku tidak akan menilai wanita seburuk itu apalagi wanita seperti anda"
" Ha....tapi dia mengatakan hal itu ....dia jahat sekali menganggap ku seperti itu"
Aku menangis di hadapan Ricardo, sepertinya aku sudah mulai tidak sadar hingga aku mencurahkan semua isi hatiku pada Ricardo.
Setelah berhasil membujuk akhirnya aku bisa berhasil minum beberapa teguk lagi, tapi saat itu juga aku tidak bisa mengingat apa apa lagi.
Begitu membuka mataku terasa berat seluruh tubuh dan kepalaku, aku mencoba untuk bangun tapi tidak berhasil.
Dengan tenaga ekstra aku berhasil membuka mataku dan hal pertama yang aku lihat adalah langit langit kamar ku.
Aku terperanjat karena seingat ku aku masih berada di club itu bersama dengan lelaki asing yang aku temui di toilet.
" Ya ampun apa yang terjadi??" Tanyaku dengan suara serak
" Nona sudah bangun, ini ada air madu hangatnya. Segera lah. mandi dan juga sarapan" kata Bib Jida
" Bagaimana aku bisa disini??" tanyaku
" Ada seorang pria yang mengantarkan nona tadi malam, sebaiknya nona tidak pergi lagi, itu tidak baik Nona Delanie apalagi anda sudah berstatus istri dari tuan Zio"
Aku terdiam mendengar nasihat bi Jida lagi, tapi aku yakin Zio tidak perduli padaku, buktinya dia tidak pernah menghubungi ku selama aku ada di kediaman keluarga Okta.
" Apa Ricardo yang mengantarkan ku??" tanyaku
" Aku tidak tahu Non, aku tidak sempat menanyakan namanya"
Aku yakin dia adalah Ricardo aku kemudian menjambak rambut ku karena menyesali apa yang terjadi tadi malam.
__ADS_1
Aku tidak bisa membayangkan jika Ricardo mengantarkan ku ke kediaman Keluarga Zacheri, tidak hanya perang dunia pasti aku akan mendapatkan hal yang lebih buruk lagi.