
"Tepati janjimu Delanie bukankah kau sudah berjanji untuk membuat keputusan yang terbaik"
Aku memandang Nur yang seperti nya di amuk amarah karena aku telah berjanji untuk membicarakan hal ini dengan Ricardo.
Hari ini aku bertemu dengan Nur di luar tanpa pendampingan dari Ricardo, aku beralasan ingin keluar sendiri walaupun Ricardo sebenarnya ingin ikuti. Hanya aku dan Nur saja yang sedang duduk untuk membicarakan hal ini secara pribadi.
" Sebenarnya apa maumu Nur, aku sebenarnya tidak ada urusan dengan masalah ini??" Kataku santai sambil meminum jus buah di hadapan ku
" Kau...kau penyebab hubungan aku dan mas Ricardo menjadi renggang, aku ingin Ricardo kembali ke padaku dan juga Ryana"
" Memangnya kalian pernah bersama?? Memang aku pernah berjanji padamu tapi bukan berarti aku berjanji untuk mengembalikan Ricardo padamu. Aku hanya berusaha menyelesaikan masalah ini"kataku lagi.
Kemarahan Nut seperti nya semakin memuncak dengan warna merah merona yang semakin jelas di kedua pipinya
" Ryana hadir kerena sebuah kesalahan kan?? Kau dan suamiku tidak pernah berhubungan spesial atau semacamnya"
" Kau?? Kau sungguh Egois Delanie aku butuh mas Ricardo dan Ryana juga!!"
"'Jadi aku tidak?? bagaimana dengan pernikahan kami Nur aku tidak bisa berpisah dari mas Ricardo" kataku
" Kenapa?? apa karena hartanya??" tantang Nur
"Kau salah tempat menyebutkan hal itu, aku terlahir dari keluarga terhormat Nur atau jangan jangan kau yang..."
Aku tahu Nur mengerti maksud ku, aku sekarang sedikit yakin bahwa penjelasan yang diberikan oleh Ricardo benar adanya.
" Diam kau Delanie, kau tidak berhak menilai ku seperti itu"kata Nur semakin marah dan aku semakin yakin kalau Nur memanfaatkan keadaan.
" Pantas saja dia mengintimidasi ku selama beberapa waktu belakangan ini"
" Tinggalkan mas Ricardo jika kau seorang wanita yang memiliki perasaan" kata Nur lagi tapi sekarang aku sudah tidak terpengaruh dengan omongan Nur atau bahkan airmata nya.
" Tidak tidak akan Nur lagipula Ricardo tidak ingin bersamamu, dia sudah bersumpah di hadapan ku"
" Ini semua salahmu seharusnya akulah yang jadi istri dari mas Ricardo"
__ADS_1
" Tapi takdir berkata lain Nur jika kau ingin melepaskan Ryana aku siap merawatnya sebagai ibu sambung tapi tidak dengan suamiku nur apalagi sekarang aku sedang mengandung anaknya"
Aku tau Nur cukup terkejut mendengar bahwa diriku sedang hamil, ia kemudian pergi dan meninggalkan ku begitu saja dengan mengucapkan sumpah serapah. Aku tidak perduli dengannya lagi, rasanya cukup aku mengalah dan memohon.
Selama beberapa hari setelah aku tau kehamilan ini, Bi Jida terus menerus menasehati aku agar tidak terlalu terburu buru dalam mengambil keputusan
" Percaya itu lebih baik daripada menyesal Delanie, coba bicara dengan Nur dan juga Ricardo pasti kau akan tahu kebenaran nya" kata Bi Jida.
Berdasarkan nasehat itu dan juga perhatian dan cinta Ricardo akhirnya aku memutuskan untuk mempertahankan hubungan ini sampai aku tau kebenaran yang sebenarnya.
Tut....Tut....
Tiba tiba saja ponsel ku berbunyi dan aku melihat nama Ricardo yang sedang memanggil diriku.
" Kamu dimana sayang?? Aku jemput ya?? Apa kamu sudah selesai??"
Berbagai pertanyaan muncul bahkan sebelum aku mengatakan kaya Halo, tapi kali ini aku tersenyum dan berinisiatif untuk mengajak Ricardo untuk jalan jalan.
" Aku tunggu di O Cafe" kataku sambil menutup ponsel ku, aku tau Ricardo akan segera datang menjemput ku
Benar saja hanya dalam hitungan puluhan menit Ricardo sudah datang sambil membawa sebuah sweater pink untukku. Aku menatap Ricardo sambil tersenyum
" Kamu pasti kedinginan ya?? Kenapa kamu sampai lupa membawa sweater padahal cuaca sedang tidak baik" kata Ricardo sambil memasang kan sweater yang ia bawa.
" Aku lupa mas terimakasih ya" kataku sambil merangkul pinggang Ricardo.
" Aku ingin jalan jalan mas"Kataku ketika kami sudah berada di mobil.
" Wah ide bagus apalagi kamu sedang dalam keadaan mood yang bagus, kita kemana sayang terserah kamu saja" kata Ricardo
"Bagaimana kalau ke tempat yang paling kamu suka?!" kataku
" Benarkah?? " tanya Ricardo cukup antusias
" Tentu saja, it' s your day""
__ADS_1
Dengan semangat Ricardo membawaku ke salah satu tempat yang paling ia sukai dan itu adalah kota Tuan Jakarta. Tempat yang selalu ramai dikunjungi wisatawan itu ternyata saksi di balik kesuksesan seorang Ricardo.
Dulu Sewaktu Ricardo berkuliah ia sering menjadi tour guide bagi para wisatawan asing ataupun lokal dan itu cukup memberikan penghasilan yang bisa dibilang lumayan.
Sepanjang perjanjian mengelilingi kota tua tidak hentinya Ricardo berceloteh sambil memegangi tanganku. Ia begitu bersemangat hingga aku dan dia melupakan masalah yang begitu pelik.
" Mas aku ingin itu" kataku sambil menunjuk ke arah gerobak es krim
" Tunggu disini ya"
Aku melihat Ricardo yang begitu semangat, memang benar apa dikatakan nya bahwa aku adalah semangat hidup nya dan juga nada dalam setiap kehidupan nya.
" Aku tidak akan meninggalkan mu mas"
" Ini sayang" kata Ricardo sambil memberikan cup yang berisi ice cream coklat,
" Terimakasih mas" kataku sambil tersenyum,
Kami lalu duduk di sebuah kursi kayu sambil menghadap bangunan bangunan tua yang dipenuhi oleh banyak pengunjung. Ricardo segera merangkul pundak ku dan mencium rambutku.
" Mas ini tempat umum loh" kataku
" Memang nya kenapa?? Lihat saja mereka" kaga Ricardo sambil menunjuk sebuah pasangan yang berjalan dengan mesra.
" Jangan tinggalkan aku Delanie" kata Ricardo lagi membuat hatiku seketika renyuh, aku menatap nya dan melihat Sinar cinta yang begitu besar kepadaku.
" Jangan membahas nya lagi mas, lagipula aku ingin punya anak 4 atau 5 mungkin"kataku sambil mengedipkan mataku hingga membuat Ricardo langsung tersenyum dan melompat lompat.
" Mas jangan begitu ah.." kataku sambil tersenyum malu melihat kesekeliling yang memperhatikan kami.
" Terimakasih sayang" kata Ricardo sambil mengecup pipi ku.
" Tapi aku ingin ada syarat jika kita bersama lagi,"
" Apa sayang!! katakan saja"
__ADS_1
" Kau harus adil pada Ryana, kita harus sering menjenguknya dan juga memperhatikan kondisi kesehatan nya"
" Sial Bos" kata Ricardo dengan semangat yang berapi api