Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Perjanjian Zio....


__ADS_3

POV Zio


Aku sakit hati melihat Ricardo tertawa puas sambil menjabat tangan dari para pengusaha raksasa yang kini menjadi mitra kerja samanya.


Satu bulan lebih aku mempersiapkan segala sesuatu tentang proyek yang sangat besar ini. Aku mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran ku agar membuat presentasi yang cukup bagus..


Sebenarnya tender ini bukanlah hal yang cukup membuat perusahaan yang aku pimpin terpengaruh tapi perjanjian yang sudah ku buat membuat aku harus memenangkan nya.


Ricardo Carvalho adalah rival terberat ku dalam bisnis, aku telah membuat perjanjian dengan nya Kerena aku yakin akan memenangkan tender ini.


"Jika aku menang maka Nona Delanie akan menjadi milikku"


Itulah taruhan ku dengan Ricardo, saat itu aku tidak berpikir panjang kerena pada saat itu aku dan Delanie sedang dalam masalah yang cukup besar dan juga berat.


" Ambil saja jika kau berhasil " kataku dengan sombong nya, aku yakin akan memenangkan tender ini kerena aku sudah terbiasa menanganinya.


Sekarang aku harus menepati janjiku pada Ricardo, aku telah berjanji hitam di atas putih untuk menyerahkan Delanie selama satu tahun penuh. Setelah berjalan satu tahun Delanie berhak meminta cerai jika ia menginginkan nya tapi jika tidak maka Delanie bisa bersama dengan Ricardo jika ia menginginkan nya.


"Sayang sekali kau telah melepaskan berlian dalam hidupmu tuan Zio, kau benar benar bodoh" Kata Ricardo mengejekku

__ADS_1


" Kau menjadi kan istri mu sendiri sebagai taruhannya" kata Ricardo semakin membuat ku naik darah


" Kau Seperti nya menyukai barang bekas, aku dan dia hanyalah sebuah status. Aku tidak Sudi menyentuh nya kerena dia sudah barang bekas dari lelaki nya terdahulu"


Aku benar benar merendahkan Delanie agar Ricardo menarik perjanjian antara aku dan Dia. Sebenarnya aku tidak hak untuk menentukan jalan hidup Delanie tapi perjanjian ini membuat ku harus menepati nya.


Aku bukanlah lelaki yang suka mengingkar janji apalagi setelah Zea meninggalkan aku.


" Barang bekas mu itu sungguh berharga bung"kata Ricardo, ia lalu meninggalkan ku dengan senyum kemenangan


" Brukkkkkk"


Aku memukul meja kayu hingga beberapa kali, aku tidak lagi merasakan sakit dari tanganku yang bercucuran darah. Aku mulai memikirkan bagaimana caranya aku mengatakan pada Delanie jika dia harus menikah dengan Ricardo.


" Aku akan kehilangan Delanie lagi" kataku pada diri sendiri, aku sudah benar benar menyiksa kehidupan gadis malang itu.


Pertama aku akan menyiapkan pengacara dan kedua aku harus mencari cara agar dia mau menikah dengan Ricardo..


Dan benar saja setelah melakukan pertemuan dengan Delanie dia menolak untuk bercerai. Tapi aku memang lelaki yang cukup cuek, aku akan tetap melakukan keinginan ku untuk menceraikan nya.

__ADS_1


Jujur aku sebenarnya sudah mulai nyaman dengan keberadaan Delanie bukan hanya aku saja tapi Yuna juga. Aku mencoba untuk melakukan tugasku seperti yang ia harapkan tapi bayangan Zea selalu saja menghantuiku..


Kini sebelum aku menjadi suami sejati untuknya aku sudah harus menceraikan nya. Sebenarnya keputusan untuk membuat perjanjian itu adalah ide dari Ricardo dan bodohnya aku langsung saja menyetujui nya.


"Apa secepat ini?? apa tidak ada kesempatan lagi??" kata Delanie ketika aku mengutarakan niatku untuk berpisah dengannya.


Tatapan yang sangat sedih itu benar benar menghancurkan ku tapi kesalahan yang ia buat membuat aku kalap mata hingga melakukan perjanjian gila dengan Ricardo.


Untuk menghilangkan rasa bersalah ku, aku memilih berteman dengan minuman. Hanya itulah satu-satunya cara agar aku bisa tidur tanpa memikirkan perasaan Delanie


Aku gagal...aku Gagal untuk kedua kalinya, aku harus kehilangan Delanie di umur pernikahan yang masih seumur jagung.


"Berhenti lah Tuan anda sudah minum terlalu banyak" kata Parko sang supir pribadi ku


" Lepaskan aku Parko kau tidak akan hidup jika kau melarang ku" kataku sambil terus meneguk wine yang ada di gelasku


" Suami macam apa kau Zio, kau memberikan istrimu untuk orang lain. Tapi ini adalah balasan yang setimpal" kataku lagi


" Parko minumlah bersama ku" kataku sambil memberikan botol wine itu pada Parko.

__ADS_1


Aku tidak tahu apakah Parko meminum nya atau tidak, karena setelah itu aku tidak bisa mengingat apa apa lagi.


Aku tidak bisa lagi bangun lagi, aku merasa tubuhku tidak berdaya hingga aku meletakkan kepalaku yang terasa berat di atas meja.


__ADS_2