
" Jelas dia itu bukan lelaki yang bertanggung jawab,jika dia mencintai mu maka dia akan menyanggupi permintaan Dady"
" Berhentilah menilai Ben seperti itu Dady, aku menghormati keputusan Ben, lagi pulang Ben menjelaskan alasan yang masuk akal Dady. Aku mohon berikan waktu beberapa tahun lagi lagipula aku masih terlalu muda untuk menikah" Kataku
" Kau mengenalku dengan baik lebih dari siapapun. Ini permintaan pertama dan terakhir Dady selama ini kau tidak pernah menuruti apa yang Dady katakan"
Aku tahu aku memang anak yang keras kepala,apapun yang Dady minta tidak pernah aku kabulkan. Mulai dari kuliah ku yang terbengkalai karena aku lebih memilih Tari daripada kelas bisnis yang sengaja disiapkan oleh Dady
" Ini benar-benar keadaan yang menjengkelkan" Umpatku dalam hati.
" Dia adalah Zionis Zacheri"kata Dady dan nama itu tidak terdengar asing di telingaku, sepertinya aku pernah mendengar nama itu beberapa kali.
" Siapa Itu??" tanyaku polos, aku benar benar tidak mengerti Mengapa Dady menyebutkan nama itu.
" Dia lelaki pilihan Dady"
" Duggggggg" jantung ku seperti mendapat kan pukulan, rupanya Dady sudah menyiapkan segalanya.
Aku tahu Dady dia memang orang yang selalu berpikir rasional, bahkan dengan perjodohan ini ia tidak memikirkan perasaan ku.
" Kamu bisa melihat profil nya di google, dia bukan orang sembarangan dan Dady Pastikan Hidup mu akan terjamin bersama dengan nya"
" Aku tidak mau menikah karena perjodohan Dady, ini bukan jaman Siti Nurbaya. Aku berhak mencari jodoh yang aku inginkan dan aku tidak ingin menikah dengan seseorang yang yang bahkan tidak pernah aku jumpai" kataku bersikeras
" Hormati keputusan Dady Delanie, setidak nya lalukan ini untuk Dady"
" Lupakan Ben nak" kata Dady dan Kalimat ini membuat ku sesak.
" Bagaimana mungkin Dady, apakah Dady bisa melupakan mommy walaupun ia tidak ada??""kataku
__ADS_1
" Dady sudah memberikan mu kesempatan bersama Ben tapi lihatlah dia tidak bisa menjadikan mu istri nya dalam waktu 6 bulan"
Aku terdiam dan tidak bisa berkata apa apa
" Lupakan dia Delanie, Dady mohon jangan membuat Dady menjadi seseorang yang mengingkari janji. Kau tahu Dady bukan seorang pengecut yang lari dari janji ataupun tanggungjawab"
" Dady akan menjemput mu 1 Minggu lagi"
Aku tidak mampu berkata apa apa lagi, yang aku ingat Dady mengharuskan aku untuk melupakan seseorang yang pernah ada dalam hidupku.
Menikah dengan seorang yang tidak aku kenal adalah mimpi terburuk ku, aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa jatuh cinta setelah mimpi buruk ini.
" Aku pamit Mrs Winnie, aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu" kataku sambil membungkuk
" Apa kau serius Delanie?? apa kau akan menyia nyiakan kesempatan untuk berkarir, ini kesempatan langka" kata Mrs Wennie
Mrs Winnie memeluk dengan erat dan menepuk punggung ku beberapa kali dan pada saat itulah airmata ku tidak terbendung lagi.
Ya...aku menangis di pelukan Mrs Winnie, rasanya baru kemarin kami bertemu dan harus terpisah untuk waktu yang cukup lama atau mungkin untuk selamanya.
" Aku akan merindukan mu Mrs Winnie" kataku sambil sesenggukan,
" Tetaplah menjadi dirimu sendiri Delanie, kau balerina yang cukup berpotensi aku benar benar menyukaimu"
Aku memutuskan untuk lebih cepat mengakhiri kelas tariku, aku tidak ingin melihat gedung ini disaat saat terakhir ku berada si St lves.
Aku menatap gedung itu untuk terakhir kalinya, sebenarnya kakiku terlalu berat untuk melangkah tapi aku harus melakukan nya.
__ADS_1
Sekarang masalahnya bagaimana aku menjelaskan pada Ben bahwa aku akan benar benar pergi.
" Apakah Ben akan terpukul jika aku pergi atau dia akan bersikap biasa saja??"
Aku tidak bisa berpikir dengan jernih lagi, dalam hati aku berdoa semoga Dady bisa merubah keputusannya.
Aku ingin bertemu Ben untuk terakhir kalinya, aku langsung berinisiatif untuk langsung ke London dan bertemu dengan Ben
Menempuh jalur kereta api cepat, aku sampai di London di waktu yang sudah hampir malam.Aku langsung pergi ke Apartemen Ben tanpa memberi tahukan nya terlebih dahulu.
Begitu sampai aku langsung mengetuk pintu Apartemen Ben.
Bukannya bertemu dengan Ben tapi aku melihat Ruth yang berdiri di depan pintu, ia pun sama terkejut nya denganku.
Aku mencoba berpikir positif karena mungkin saja Ben sedang berkumpul dengan teman-teman nya di Apartemen itu.
Aku langsung masuk tanpa menoleh ke arah Ruth, aku membenci wanita itu. Aku semakin terkejut melihat Ben yang yang ternyata baru keluar dari kamar mandi
" Boo" kata Ben dengan mata membelalak
" Dasar bajingan" kataku sambil menampar pipi kanan Ben, aku tidak bisa lagi menguasai diriku
" Ternyata dugaan ku benar, kau punya hubungan dengan wanita menyebalkan itu" kataku
" Tidak begitu Boo, aku dan dia sedang menunggu teman teman yang lain nya kamu jangan salah paham" kata Ben mencoba menjelaskan
" Sudahlah Ben mungkin kita memang tidak berjodoh"
Aku keluar dari Apartemen itu dengan berurai air mata, aku berjalan dengan cepat agar tidak bisa menghentikan ku
__ADS_1
Tapi saat aku hendak keluar dari teras apartemen itu aku melihat beberapa teman Ben yang akan masuk ke Apartemen itu termasuk Barbara.
" Apa Ben tidak berbohong?? sudah lah percuma saja Ben menjelaskan nya aku dan Dia tidak akan pernah bersama"