Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Pertengkaran di malam pertama


__ADS_3

Aku kembali ke kamar setelah hampir seluruh acara selesai, aku meninggalkan Zio yang sedang berbincang dengan para teman dan juga kolega kerjanya.


Begitu masuk ke dalam kamar yang sudah dipersiapkan aku sudah membayangkan kamar yang begitu indah. Aku memang tidak pernah melihat kamar pengantin secara langsung tapi jama sekarang hal sekecil apapun bisa kita ketahui.


Sungguh jauh di luar dugaan kamar itu terlihat seperti kamar pengantin pada umumnya, tidak ada yang istimewa, tidak ada bunga dan lain sebagainya.


Aku tidak mengambil pusing mengenai hal itu, yang terpenting saat ini aku bisa ganti baju untuk segera istirahat. Walaupun tidak banyak acara yang dilaksanakan tapi aku merasa tubuhku terasa pegal dan ingin segera mandi.


Aku berusaha membuka kancing kebaya yang aku pakai, Sayangnya aku tidak bisa membuka kancing belakang yang berada tepat di punggungku.


" Ya ampun bagaimana ini, mana tidak ada orang lagi" gerutuku


Untungnya saat aku berusaha membuka kebaya merah itu, Yuna tiba tiba datang menghampiri ku.


" Yuna syukurlah kamu datang" kataku sambil tersenyum lebar


" Memang nya ada apa kak??" tanya Yuna


" Aku butuh seseorang yang bisa membuka kebaya ku" kataku sambil menunjuk ke arah punggung ku


" Seharusnya bukan aku yang melakukan nya kak, tapi kak Zio" kata Yuna sambil tertawa


" Ya ampun Yun aku sudah tidak tahan memakai kebaya ini, rasanya begitu sesak aku ingin segera mandi"


" Lah sebaiknya kakak menunggu kak Zio untuk mandiri bersama"


Ya ampun wajahku memanas jika memikirkan hal itu, jika aku sampai melakukan nya aku pasti akan ketakutan dan juga kebingungan.


" Baiklah aku akan membukanya"

__ADS_1


Dengan perlahan Yuna membuka kancing itu dan akhirnya aku bisa mandi setelah Yuna mengucapkan selamat malam untukku.


Yuna memandang ke sekeliling iapun menyadari kalau kondisi kamar kami tidak berbeda dengan kamar pada umunya.


" Sabar ya kak Delanie, berjuang lah untuk menaklukkan hati kak Zio. Sebenarnya dia orang yang baik hanya saja..." Yuna tidak bisa meneruskan kata katanya


" Hanya saja apa??" tanyaku penasaran


" Kita bercerita lain kali saja, sekarang kakak segera mandi sebelum tengah malam" kata Yuna


Walau memiliki suami yang luar biasa dingin seperti Zio tapi setidaknya aku bersyukur memiliki adik ipar sebaik Yuna. Aku mempercepat mandiku karena jam sudah menunjukkan jam Sepuluh malam.


Aku menggunakan air hangat dengan aroma therapi, aku sengaja keramas karena ada banyak spray rambut yang menempel di rambut ku. Setelah berendam dan mencuci rambut ku beberapa kali barulah aku Keluar dengan menggunakan piyama yang sudah kubawa ke dalam kamar mandi.


Begitu keluar aku terkejut karena Zio ternyata sudah duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya. Ini kali pertama aku merasa takut dan juga tegang, aku bingung harus berkata apa pada laki laki yang sudah sah menjadi suamiku.


"Ma...aag tuan Zio apa anda mau mandi ??" kataku sambil berjalan dengan perlahan


" Mengapa kau meninggalkanku tanpa minta ijin, apa kau tidak bisa menemani ku sampai aku selesai berbicara" kata Zio


" A...aku minta maaf tuan, aku hanya ingin segera istirahat saja" Kataku membela diri


" Beraninya kau memberikan alasan" Bentak Zio dengan keras,


Zio bahkan lebih kasar dan lebih kejam dari biasanya, sekarang aku tidak bisa menatapnya.


" Maaf tuan" kataku sambil menundukkan kepala.


" Kau membuatku malu saja" celetuk Zio Sebelum ia pergi ke kamar mandi

__ADS_1


Aku sama sekali tidak terima karena hal itu, aku merasa tidak melakukan hal yang membatalkan Zio malu, bahkan selama acara berlangsung aku berusaha untuk tersenyum seperti orang yang kelihatan bahagia.


" Aku tidak membuat mu malu?? justru kau meninggalkanku di pelaminan sendiri an" Kataku membela diriku


" Kau.... benar benar tidak tahu diri" kata Zio semakin marah, aku bahkan bisa mendengar nafasnya yang memburu


" Berhentilah memakiku tuan Zio walaupun aku tidak tahu diri tapi aku memilih menikah ku" kataku lagi


" Kau tidak perlu tahu Delanie, kau tidak perlu tau" Kata Zio dengan nada yang cukup keras dan dalam.


" Lalu mengapa anda Menikahiku??" tanyaku dengan berani, aku sebenarnya bukan perempuan yang penakut hanya saja aku memikirkan Dadyku sehingga aku selalu mengalah dengan tuan muda ini.


Bagaimana juga Dady sekarang bergantung pada Zio, karena itu aku selalu mengalah tapi ketika Zio mengatakan aku membuat malu hatiku menolak nya.


" Apa jangan-jangan Anda menikahiku karena anda suka??"


" Berani nya kau" kata Zio, ia berbalik badan dan menyeretku hingga berakhir di dinding kamar.


Aku dan Zio saling menatap, rasa takut yang kurasakan perlahan aku hilangkan, aku tidak ingin kelihatan wanita yang lemah di hadapan Zio.


" Ka...u" kata Zio


" Kenapa Tuan? aku sudah cukup bersabar denganmu" kataku cukup berani


" Lihat saja kau akan menangis besok" kata Zio, ia kemudian pergi meninggalkan ku begitu saja.


Malam pertama yang menyedihkan,Zio pergi meninggalkan ku sendirian tapi aku tidak perduli justru setelah ia pergi aku bisa tidur dengan nyenyak.


Aku tidak perlu melakukan tugas ku sebagai istri, aku juga akan keberatan untuk melakukan itu dan pertengkaran ini membuat aku lolos dari tugas itu.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan follow author ya... dukungan kalian sangat berarti bagi author untuk tetap semangat ya..


Maaf jika banyak typo karena author tidak memiliki waktu untuk memeriksa nya..


__ADS_2