Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Curhatan Yuna


__ADS_3

Dimohon sebelum membaca untuk memberikan dukungan untuk author ya... Jangan lupa untuk like, komen vote dan follow author ya agar tetap semangat dalam berkarya.


Happy reading......


" Kak Delanie"


Yuna tiba tiba saja datang ke kamar ku dengan wajah pucat dan juga Lesu. Sepertinya ia membutuhkan teman untuk berbicara dan mungkin ia memilihku sebagai seorang yang bisa diajak mengobrol.


" Ada apa Yun??" Kataku sambil memasukkan baju baju yang sudah aku rapikan


" Tidak kakak tidak adik sama saja" kata Yuna sambil menghempas pantatnya di ranjang ku


" Ada masalah apa Yun" kataku yang sudah siap mendengar curhatannya. Walaupun aku dan Zio sedang perang dingin tapi hubungan ku dengan Yuna tetap baik baik saja, ia sudah seperti adik dan juga sahabat bagiku.


" Kak.. " Rengek Yuna seperti anak kecil


" Kalian tidak akan bercerai kan??" kata Yuna


Sungguh aku terkejut mendengarnya, tidak menyangka Yuna juga berpikir seperti itu tentang hubungan ku dan Zio.


" Ke...kenapa kau mengatakan hal itu Yuna, apakah Zio mengatakan hal itu??" kataku


" Tidak hanya saja aku merasa ada yang salah tentang hubungan kalian kak, aku tidak ingin kalian berpisah"


Yuna tiba tiba saja memeluk ku dengan erat, aku bisa merasakan kegelisahan yang ia rasa kan.


" Ben belakangan ini berubah Kak"kata Yuna sambil melepaskan pelukannya, wajahnya tampak gelisah ketikan mengatakan hal tersebut


Jantung ku kembali bergerak lebih cepat karena selama beberapa hari belakangan ini kami sering melakukan chat yang cukup intens. Aku tidak menyangka jika itu sangat berpengaruh pada hubungan Ben dan Yuna.


Ben selalu mengatakan bahwa hubungan mereka baik baik saja dan masih sebatas teman dekat. Ben belum berencana untuk menetap kan hatinya pada Yuna kerena ia masih bimbang.


" Memangnya Ben kenapa??" tanyaku


" Beberapa hari ini dia selalu sibuk dan selalu terlambat membalas chatku, aku merasa ada hal yang terjadi belakangan ini"


Aku menelan ludahku kerena pertemuan kami beberapa hari yang lalu membuat Ben menjadi berubah.


" Apa kau mencintai Ben??" tanyaku lagi, walaupun aku tahu pasti Yuna menaruh harapan yang cukup besar untuk Ben

__ADS_1


" Ah....kak Delanie pasti sudah tahu, aku menyukai nya" kata Yuna malu malu, aku bisa merasakan bahwa perasaan yang dimiliki oleh Yuna adalah sebuah kejujuran


" Benarkah?? mengapa tidak mengatakan nya duluan" kata ku menggoda


" Ah....aku tidak akan bisa aku ingin Ben yang melakukan nya lagipula bukankah itu hal yang wajar di lakukan oleh seorang lelaki??"


" Bagiku sih tidak masalah, wanita ataupun pria sama saja" kataku dengan enteng nya


" Kalau begitu katakan pada kak Zio kalau kakak mencintai nya" kata Yuna yang malah melemparkan ide ku sendiri padaku.


" Ah....kau pandai sekali Yuna tapi aku yakin hubungan mu dan Ben akan baik baik saja. Kalian hanya butuh waktu saja" kata ku sambil meyakinkan Yuna


" Semoga saja ya..." kata Yuna penuh harap


Aku melihat sinar kata Yuna yang penuh dengan harapan, seperti nya aku harus berbicara dengan Ban mengenai masalah ini.


Aku tidak ingin Yuna mengalami kekecewaan Seperti yang aku alami, aku ingin membantu Yuna agar Ben bisa menatap nya sebagai wanita yang mencintainya.


Aku mengatur kembali pertemuan Ku dengan Ben, tidak sulit untuk mengajak Ben untuk bertemu ia langsung setuju dengan permintaan ku.


Bertemu di tempat yang sama Ben ternyata sudah menunggu ku, Ben melambaikan tangannya ketika aku sudah berada di bibir pintu


" Ben.."kataku dengan suara tertahan


" Makan dulu yuk, aku sudah pesan Bakso dan juga iga sapi untukmu" kata Ben


" Eh.... seperti nya ini terlalu berat lagipula kau tidak terlalu menyukai makanan yang cukup berat ini"


" Aku juga memesan salad...Boo aku ingin belajar makan makanan yang kau sukai. Mulai hari ini aku akan belajar dan belajar lagi..." kata Ben dengan penuh semangat


Ben tampak sangat berselera untuk makan, aku sampai tidak tega membicarakan mengenai Yuna. Aku dan Ben menikmati sajian yang sudah ia pesan.


" Kenapa sedikit sekali makannya??" kata Ben


" Aku sudah kenyang Ben, dan ada hal yang ingin aku bicarakan" kata ku dengan serius


" Baiklah " kata Ben


" Katakan saja aku siap mendengar apa saja yang keluar dari giawai ibadahmu"

__ADS_1


"Ya ampun Ben berhentilah menggodaku" kataku


" Ini masalah Yuna" kataku dengan lebih serius


" Yuna?? adik ipar mu??" kata Ben dengan wajah yang tampak datar, ia sepertinya tidak berminat untuk membicarakan nya


" Iya....aku kasihan padanya Ben, sepertinya dia begitu mengharapakan mu" kata ku


" Lalu??" kata Ben sambil menyipitkan matanya padaku


" Aku ingin kau bersama dengan Dia, dia sangat mencintai dan mengharapkan mu Ben terlebih kalian sudah dekat" kataku


Kulihat Ben menarik nafas sambil melirik ke arahku


" Aku tidak bisa.. hatiku tidak bisa berbohong aku sudah mencoba Delanie tapi aku tidak bisa"


" Mengapa?? aku yakin kau bisa lagipula Yuna wanita yang sangat baik dan cerdas. Sungguh kau beruntung jika mendapatkan nya"


" Tidak....aku tidak bisa, aku juga tahu kalau Yuna memberi kan perhatian lebih tapi aku hanya menganggap nya sebagai teman tidak lebih"


Aku tahu Ben dia bukanlah Lelaki yang suka menggoda wanita, selama bersamanya perhatian Ben hanya padaku saja.


" Aku mohon" kataku sambil memohon kepada Ben


" Ben..." kataku dengan nada lirih


" Aku tau perasaan Yuna aku tidak ingin melihat nya terluka" bujuk ku lagi


" Dengan mengorbankan ku??" kata Ben dengan nada yang penuh dengan tekanan


Pembicaraan itu berakhir dengan ketidaksetujuan Ben dengan permintaan ku, dia tidak ingin terikat dengan Yuna.


Percuma saja aku berbicara panjang lebar, akhirnya aku kembali dengan hasil yang tidak sesuai dengan hatiku.


" Baiklah Ben aku pergi saja percuma aku bicara dengan mu" kataku sambil berdiri


Aku berbalik badan untuk menuju pintu luar tapi saat itu Ben tiba tiba saja memelukku dari belakang. Ben seolah ingin menjelaskan suara hatinya melalui pelukan itu.


Aku dan Ben terdiam sesaat tapi begitu melihat ke arah depan aku sangat terkejut melihat dua orang yang ada di hadapanku.

__ADS_1


Lidahku terasa kaku melihat mereka menatap ku, apalagi saat itu posisi Ben masih memeluk ku.


__ADS_2