Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Ketuk palu


__ADS_3

Akhirnya berakhir sudah.... Ketika hakim mengatakan bahwa aku sudah bukan istri Zio Zacheri lagi, airmata ku tiba tiba saja menetes.


Aku memandang Zio yang duduk di samping ku, rasanya baru saja kami menikah dan harus bercerai di saat hubungan ini seharusnya hangat.


Jika pasangan lain membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bercerai kami hanya membutuhkan waktu hampir sembilan bulan saja.


" Selamat Zio kamu menang" kataku sambil mengulurkan tanganku pada Zio


" Selamat untuk apa Delanie" kata Zio sambil membalas uluran tanganku


" Selamat kerena kau berhasil membuatku kacau balau dan aku tau sekarang kau akan lebih bebas memikirkan Zea"


Seketika Zio terpaku aku bisa melihat sorot matanya yang tajam.


" Ini bukan urusan mu lagi Delanie sekarang lakukan tugasmu sampai kau benar-benar bisa menguasai Perusahaan Okta" kata Zio


" Itu bukan urusan mu juga, aku bisa mengurus nya Sendiri"


Aku menatap Zio dengan tatapan sedih, aku benar benar menunggunya hingga menghilang dari hadapan ku. Zio akhirnya pergi melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan aku yang hanya bisa menatap Zio.


Saat itu aku merasa kan kepalaku yang terasa sangat pusing, selain cuaca yang begitu panas aku juga belum mengisi perut dari tadi malam.


" Brukkkkkk" .


Aku jatuh dan tidak merasakan apa apa lagi, aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku jatuh dan ambruk.


Aku terbangun dan mendapati tubuhku yang sudah terbaring disebuah ruangan yang serba putih.


" Aku dimana??" tanyaku dengan suara serak, tiba tiba saja aku terkejut dengan kehadiran Ricardo yang sudah ada disampingku.


Ia langsung berhenti memainkan ketika aku sudah bangun dan tersadar. Ricardo dengan sigap membantu ku untuk duduk walaupun aku menolak bantuan nya.


" Kenapa kau ada disini??" tanyaku dengan nada ketus, aku tidak mengharapkan kehadiran Ricardo di sana.


" Ya ampun aku sudah menolong mu seharusnya kau berterima kasih kalau tidak kau sudah jatuh dan pasti seluruh tubuhmu akan sakit" kata Ricardo


" Biar saja, aku tidak butuh pertolongan mu" kataku

__ADS_1


" Baiklah daripada bertengkar lebih baik kau makan" kata Ricardo sambil mengeluarkan sebuah box makanan yang berisi bubur ayam


" Kau suka ini kan??" kata Ricardo


Wangi khas dari bubur langganan ku seolah menyeruak dan membuatku ingin segera memakannya. Memang sejak tadi malam aku sama sekali tidak berselera makan, hal ini dikarenakan aku terlalu larut dalam memikirkan masalah perceraian dan status istri dari Ricardo.


Mengingat semua rentetan kejadian itu membuat ***** makan ku tiba tiba saja menghilang. aku tidak tahu bagaimana penilaian orang kepadaku karena menikah dua kali dalam tahun yang sama.


" Kenapa?? apa kau tidak


Aku bertanya seperti itu karena aku yakin Ricardo menganggap ku sebagai wanita yang mudah diatur.


" Apa?? sama sekali tidak" kata Ricardo mengelak


" Aku tidak percaya...kau pasti berbohong, aku sudah dipermainkan oleh kalian. Mengapa aku selalu menemui lelaki seperti kalian dalam hidupku" kataku dengan air mata yang sudah berderai


Akhirnya aku menangis lagi setelah selama persidangan aku mencoba dengan sangat kuat untuk menahan nya. Aku sangat sedih karena harus berpisah dengan Zio, aku teringat ucapan Dady agar selalu menjalankan tugas ku sebagai istri yang baik


" Tuhan apakah ini karma?? apakah ini karma mommy atau Dady??"


" sudahlah Delanie" kata Ricardo, ia pun tiba tiba saja memelukku.


" Jangan mendekat aku ini wanita suci bukan wanita murahan" kataku sambil memandang Ricardo dengan tatapan kemarahan


" Aku tidak menilai seperti itu Delanie, bagiku kau wanita yang terhormat" Kata Ricardo


" Mana mungkin?? kalian menganggap ku sebagai wanita hina hingga kalian menjadikan aku sebagai taruhan"


" Kau bukan taruhan Delanie kau...."


" Cukup Ricardo...aku tidak ingin mendengar kata kata Bual"


" Baiklah aku akan membuktikan nya" kata Ricardo


"Aku tidak perduli...."


Selama hampir 24 jam dirawat Ricardo benar benar berada di sampingku bahkan ia mengaku sebagai calon suamiku Kepada para perawat dan juga dokter disana.

__ADS_1


Setelah aku merasa cukup sehat dokter memperbolehkan aku untuk kembali dengan syarat harus tetap menjalani hidup sehat dan tidak stress.


Lagi lagi Ricardo mengambil alih atas semua administrasi pengobatan ku, dia dengan sigap memanggil Pak Markus untuk membawaku kembali ke rumah.


Ricardo sebenarnya menawarkan diri untuk mengantarkan ku pulang tapi aku bersikeras menolaknya.


" Hati hati nona Delanie" kata Ricardo sambil mendampingi ku hingga masuk kedalam mobil


" Aku bisa sendiri aku bukan anak kecil lagi" kataku


" Aku tahu tapi keadaan mu masih belum stabil, kau harus hati hati dan jangan lupa selalu menjaga pola makan" kata Ricardo sebelum akhirnya kamu benar benar menghilang dari hadapan nya


" Sepertinya dia lelaki yang baik Non" kata Pak Markus


" Entahlah..." kataku tidak perduli


" Apa Bi Jida sudah kembali??" Tanyaku


Beberapa hari ini memang Bi Jida minta ijin karena ia ada keperluan di kampung, Seperti nya saudara Bi Jida dalam keadaan yang kurang sehat.


" Belum Non Seperti nya siang ini" kata Pak Markus


" Kita langsung pulang ya non" kata Pak Markus


" Tentu saja aku merindu kan kamar ku walaupun hanya sehari meninggalkan nya"


Pak Markus mengendalikan mobil dalam kecepatan sedang berkali kali ia melihat spion hingga membuat ku bertanya tanya.


" Ada apa sih mang apa ada yang aneh??" tanyaku


" Iya non Seperti nya mobil tuan Ricardo mengikuti kita".


Akupun menoleh ke belakang dan benar saja sebuah mobil sedan Merah mengikuti Kami dari belakang.


" Itu Ricardo??" tanyaku


" Sepertinya sih iya non" kata pak Markus

__ADS_1


" Huhhhh... dasar lelaki aneh" kataku sambil mengomel, aku tidak perduli lagi dengan apa yang dilakukan oleh tuan muda itu.


__ADS_2