Delanie ( Bukan Istri Taruhan)

Delanie ( Bukan Istri Taruhan)
Hari buruk


__ADS_3

Aku meremas tanganku saat melihat dua orang yang begitu berarti dalam hidupku, rasanya dadaku ingin melambung tinggi antara senang atau cemas


Ben melambaikan tangannya padaku sementara 4 kursi ke arah kanan tampak Dady yang juga sedang memperhatikan ku..


" Apa yang akan terjadi setelah ini?? apakah Dady bisa menerima Ben sebagai kekasih ku??


Aku menarik nafas dan berdoa agar semuanya baik baik saja. Dady memang menepatinya janjinya untuk datang ke acara pentas tariku yang kedua, seperti yang ia bilang ia ingin menebus kesalahannya.


Pentas pun dimulai dan aku berusaha penuh untuk konsentrasi di setiap gerakan yang aku lakukan, aku tidak ingin membuat kesalahan untuk usaha keras yang sudah kami lakukan.


Menggandeng Mr Jose Hilter sebagai pemusik, pentas ini benar benar hidup, musisi yang terbaik se-kota ini mampu membius penonton dengan tabuhan dawai yang ia mainkan.


Sukses....pentas itu sukses dengan riuhan tepuk tangan dari penonton setelah aku dan Benardo Pit menyelesaikan tarian dengan sempurna.


Aku dan Bernardo pit saling membungkuk sambil mengucapkan terimakasih untuk performa yang kami lakukan.


Acara selesai dengan sempurna dan Seperti dugaan ku Dady dan Ben Langsung menghampiriku dan memberikan sebuket bunga untukku.


Jika Ben yang melakukan nya aku tidak heran tapi jika itu Dady aku sedikit ketakutan karena itu bukanlah kebiasaan nya.


Jangankan untuk pentas untuk hari ulang tahunku saja Dady tidak pernah melakukan hal seromantis itu.


" Apakah Dady sudah berubah??"


Dady terheran heran saat melihat Ben yang berada di samping nya, ia menyipitkan matanya sambil memandang Ben dari atas hingga ke bawah.


Ben tidak heran ia tersenyum karena aku sudah memberi tahukan nya lebih dulu.


" Hai...uncle saya Ben" kata Ben cukup ramah, ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Dady.


" Ben?? " Kening Dady berkerut

__ADS_1


Ternyata Dady masih ingat dengan nama yang aku sebutkan saat kami berbicara di ponsel.


" Ya Dad, ini Ben dia adalah...... Kekasihku" kataku


Dady terkejut namun ia tetap menjabat tangan Ben. walau itu hanya formalitas saja.Aku bisa melihat tatapan tidak suka Dady pada Ben dan aku tahu Dady memang kadang kadang bisa bersikap arogan


'' Dady bersikap lah baik, Ben orang yang baik" kataku sambil berbisik


" Kamu tidak pernah mengatakan bahwa Ben adalah pacarmu" kata Dady cukup jengkel


Ben dengan berani mengajak Dady ke salah satu restoran terbaik di kota itu, ia mencoba bersikap seramah mungkin untuk mendapatkan simpati Dari Dady.


Akhirnya kami bertiga duduk di satu meja dengan posisi saling berhadapan, saat itu Dady tetap memandang Ben dengan tatapan sinis.


" Sejak kapan kau dekat dengan putriku??" tanya Dady


" Sejak Delanie ada disini uncle, kurang lebih 8 bulan" kata Ben


" Kamu kerja atau kuliah atau pengangguran??'


" Orang tuamu kerja apa??" tanya Dady lagi


"Mama dan papa Bekerja di salah satu per' milik negara Uncle, papa saya berdarah Inggris dan mama saya orang Manado"


Ben menceritakan keluarga dan asal usul nya termasuk ia memiliki seorang saudara perempuan yang sedang kuliah di Jakarta.


Ben tidak pernah menceritakan hal sedetail itu padaku bahkan aku mengira ia adalah anak tunggal.


" Apa orang tua mu memiliki usaha atau bisnis atau semacamnya" tanya Dady lagi,


" Tidak Uncle" kata Ben

__ADS_1


Kulihat Dady menarik nafas panjangnya, aku tidak tahu bagaimana pemikiran Dady pada Ben


" Apa kau yakin bisa membahagiakan putriku, dia ini adalah keturunan dari Okta company. sedangkan kau berasal dari keluarga biasa dan hanya mengambil jurusan sains. Itu bertolak belakang dengan keluarga kami"


" Dady hentikan" kataku dengan marah, aku tidak menyangka Dady akan merendahkan Ben di hadapan ku


" Delanie Dady hanya berbicara fakta, Dady ingin kami bisa menikah dengan orang yang lihai di. bidang bisnis. Ini untuk kelangsungan perusahaan Okta karena Dady tau kau tidak akan bisa diandalkan"


" Tapi Dady aku mencintai Ben, lagi pulang kami punya kehidupan yang jauh lebih menarik daripada bisnis Dady"


" Jangan menggurui ku Delanie kami bisa berada disini karena usaha Dady, kamu tau berapa yang Dady keluarkan untuk biaya kamu dalam sebulan??"


" Tapi Dady,..."


" Sudahlah Delanie jangan melawan uncle lagi, Karena apa yang ia katakan memang benar" kata Ben


" Tapi Ben..." kataku sambil melihat Ben, aku bisa melihat sinar mata Ben yang sepertinya benar-benar terpukul


---------------------------------------------------------------------------------


Acara Dinner yang seharusnya Hangat berubah menjadi melapetaka, Ben memilih kembali ke London malam itu.


" Aku benci Dady" kataku ketika kami sudah berada di rumah, aku bahkan mencampakkan ransel ku begitu saja.


" Delanie dia tidak akan bisa membuat mu bahagia.Percayalah..."


" Jadi orang seperti apa yang bisa membuat ku bahagia?? seperti Dady?? aku tidak mungkin bisa bahagia dengan orang yang selalu melirik wanita yang seumuran dengan putrinya" kataku dengan marah


" Cukup Delanie kamu benar benar tidak punya sopan" kata Dady


" Aku muak Dady, aku sedang bahagia tapi Dady menghancurkan semua impian ku. Aku ingin bahagia Dady dan Ben adalah kebahagiaan ku"

__ADS_1


Dady memilih keluar dari pada Omelan ku, ia membiarkan aku terduduk dengan posisi bersimbah air mata.


"Aku membencinya....Aku membencimu Dady..."


__ADS_2