Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Papa Kritis


__ADS_3

Sudah tiga hari papa terbaring di ruang ICU. Mama setia mendampingi papa melalui masa kritisnya. Lintang juga tampak siang ini menemani Mama di rumah sakit.


"Ma, mama istirahat ya. Mama udah seharian jagain papa." Ujar Lintang lembut, ia menyentuh pundak Mama. Mama tersenyum kecil. Ia mengusap punggung jemari Lintang.


"Gak papa Lin, mama gak mau jauh dari papa. Kamu nanti pulang ya. Kasian Al sendiri mainnya." Sahut mama, Lintang hanya mengangguk saja, ia tahu Mama belum bisa menghapus kesedihannya.


"Iya, nanti Lintang pulang. Sekarang, kita cari makan yuk, Ma." Ajak Lintang, Mama mengangguk, ia juga memikirkan Lintang yang tengah hamil dan harus makan tepat waktu.


"Ayo, kita ke kantin rumah sakit ini aja ya." Sahut Mama sambil merangkul Lintang.


Keduanya berjalan pelan menuju Lift yang akan mengantarkan mereka ke kantin rumah sakit.


Saat sedang makan, Lintang tak sengaja melihat Fiska. Ia melambai pada perempuan itu.


"Siang Tante, Lin." Sapa Fiska ramah. Mama tersenyum, ia tahu Fiska telah berubah.


"Kak Fiska kok ada di sini?" Tanya Lintang, ia mempersilahkan Fiska untuk duduk bersama mereka.


"Aku baru selesai periksa kandunganku, Lin." Sahut Fiska sambil tersenyum, Lintang ikut tersenyum juga.


"Waaah selamat ya, Kak. Aku juga udah hamil lagi Kak." Balas Lintang riang, Fiska menyambutnya gembira pula.


"Wah, tante bakal dapet cucu lagi nih."


"Iya, kamu juga nanti sering-sering hamil ya biar rumahnya rame." Goda Mama. Fiska tertawa mendengarnya.


"Oh iya, kenapa Tante sama Lintang di sini?" Tanya Fiska setelah ia memesan es jeruk pada pelayan kantin.


"Papa kecelakaan, Kak. Sekarang lagi di ruang ICU." Jawab Lintang lirih. Fiska ikut merasakan kesedihan itu juga.


"Semoga Oom cepat sadar ya Tan. Dan semoga semuanya kembali baik-baik saja." Sahut Fiska tulus. Mama mengangguk dan tersenyum kecil atas doa tulus yang baru ia dengar itu.


Fiska kemudian pamit pulang karena ia sudah ada janji dengan suaminya untuk makan siang bersama. Lintang dan Mama kembali meneruskan acara makan mereka.

__ADS_1


Mereka kembali lagi ke depan ruang ICU. Lintang harus kembali setelah sore di jemput oleh Willy yang kebetulan baru pulang dari perusahaannya.


...****************...


"Kamu udah makan?" Tanya Willy sambil menyetir


" Udah Kak. Tadi sama mama makan di kantin rumah sakit." Sahut Lintang, ia menguap. mengantuk matanya.


"Tidurlah, nanti kalau sampai aku bisa membangunkanmu." Ujar Willy setelah melihat Lintang sudah menguap untuk ketiga kalinya.


Dalam perjalanan, dengan Lintang yang sudah terpejam, Willy jadi memikirkan papa lagi. Ia yakin papa akan segera sadar dari masa kritisnya.


Saat sampai di rumah, Willy membangunkan Lintang dengan lembut. Lintang terbangun juga, ia nampak mengucek matanya.


"Nanti selesai mandi, langsung tidur saja, sayang. Al biar aku yang mengurus." Kata Willy sebelum mereka turun dari mobil.


"Tidak sayang, kaulah yang harus istirahat. Biar Al aku yang menjaganya, sekarang aku sudah tidak mengantuk lagi." Sahut Lintang. Willy akhirnya mengangguk saja.


"Nanti biarkan Al tidur bersama kita malam ini." Kata Willy lagi. Lintang langsung mengiyakan permintaan suaminya itu.


"Udah ngantuk anak Bunda, ayo tidur ya." Kata Lintang sambil menepuk pelan pantat anak gembulnya itu.


Al memandang Lintang dengan mata yang sudah sayu. Ia sudah mengantuk. Dilihatnya Willy juga sudah tertidur. Suaminya itu tampak banyak pikiran belakangan ini.


Lintang mengelus pipi Willy. Ia juga menciumi keduanya bergantian. Al sudah sepenuhnya terpejam. Hanya Lintang yang masih terjaga.


"Kau belum tidur, sayang?" Tanya Willy, mengagetkan Lintang.


"Belum Kak, aku kepikiran mama." Kata Lintang lirih takut suara mereka akan membangunkan Al.


"Tak apa Lin, mama memang gak bisa jauh dari papa. Biarkan saja mama menemani papa seperti keinginannya." Willy meraih jemari Lintang.


"Iya Kak. Mama sangat setia pada papa."

__ADS_1


"Seperti kau yang setia padaku, bukan?" Tanya Willy sambil tersenyum.


"Ya, tentu saja sayang."


Tiba-tiba Al terbangun, sepertinya ia lapar. Lintang segera meraih botol susu lalu memberikannya pada Al. Al segera terdiam, bocah itu memang sering lapar di jam rawan seperti ini.


"Tidurlah Lin, biar aku yang menidurkan Al." Kata Willy mengambil alih pada pegangan botol susu itu.


Lintang akhirnya mengangguk, matanya sudah mulai mengantuk. Willy menemani Al yang masih terjaga setelah minum susu itu. Ia menggendong dan menimang Al sampai bocah itu tertidur lagi dengan pulas.


"Al, nanti kalau adik sudah lahir, jangan sering terbangun tengah malam ya, kasian bundamu." Willy membisikkan kata-kata lembut itu ditelinga anaknya yang sudah mulai terpejam perlahan. Ia pernah membaca sebuah artikel bahwa saat yang pas untuk membisikkan kata-kata positif pada anak adalah saat ia sudah memasuki tahap tidur yang sempurna.


"Al sudah tidur kak?" Lintang tiba-tiba terbangun lagi, melihat Willy yang masih berdiri menimang menidurkan anak mereka.


"Sudah, sayang. Baru saja." Sahut Willy lalu ia berjalan mendekati ranjang dan kembali meletakkan Al di tengah-tengah mereka.


Willy melihat Lintang hendak turun dan keluar.


"Mau kemana, Lin?" Tanya suaminya itu.


"Ambil air minum, Kak. Aku haus, tadi lupa menyiapkannya dahulu." Sahut Lintang, Willy menahannya.


"Tunggulah disini, biar aku yang turun mengambilkan." Ujar Willy lembut. Lintang tersenyum, ia mengangguk membiarkan Willy keluar dari kamar menuju dapur.


Perhatian kecil seperti itulah yang membuat Lintang semakin dalam mencintai Willy. Suaminya sekarang malah lebih perhatian dari pada dulu. Ia seolah tak pernah lelah untuk meringankan pekerjaan Lintang padahal ia sendiri sudah lelah berada di perusahaan hampir setiap hari.


Willy kembali datang dengan segelas air putih yang langsung diberikannya kepada Lintang.


"Terima kasih ya suamiku." Ujar Lintang sembari meletakkan gelas itu ke atas meja kecil tak jauh dari ranjang.


Willy tersenyum lalu mulai mematikan lampu menyisakan lampu tidur dengan cahaya temaram. Ia berbaring menyusul Lintang yang sudah lebih dulu merebahkan diri.


"Selamat tidur, Bun." Ucap Willy sambil mencium kening Lintang lembut.

__ADS_1


"Selamat tidur juga Yah, selamat bermimpi indah." Balas Lintang. Willy tersenyum menutup malam ini kemudian mulai memejamkan mata untuk ikut tidur pulas bersama istri juga anaknya.


Mereka tertidur dengan membawa harapan semoga esok ada kabar baik dari rumah sakit. Semoga papa cepat pulih dan sadar agar mama dan keluarga lainnya tak lagi bersedih terlalu lama. Mereka masih sangat membutuhkan sosok penyabar seperti papa, sosok yang hampir menyamakan karakter Kakek Franky dahulu. Al juga, si kecil itu pasti sudah sangat merindukan Kakeknya. Ia pasti mencari-cari dimana Kakek kesayangannya itu saat ini.


__ADS_2