
Lintang mematut penampilannya di cermin. Ia mengenakan dress yang waktu itu dibeli Willy untuk nya saat mereka berada di mall. Hari ini, Ibu dan Ayah mertua akan mengajak mereka keluar. Mereka tidak tahu kemana mereka akan pergi, Namun, mereka menurut saja. Usia Alvaro yang semakin bertambah dari hari ke hari juga tubuhnya yang semakin kuat untuk diajak berpergian membuat mereka sudah bisa mengajaknya untuk keluar.
Willy juga telah berpakaian rapi, dengan kaus santainya yang berwarna putih Willy nampak tampan sekali. Ia mendekati Lintang yang juga sudah berdiri cantik dengan dress putih simpel bermotif.
"Harum." Willy mencium puncak rambut istrinya.
Lintang berbalik, ia melingkarkan tangannya memeluk badan atletis Willy.
"Mama mau ajak kita kemana ya, Kak?" Tanya Lintang.
"Entahlah sayang, Mama gak ngasih tau. Kita disuruh ikut aja."
"Mama penuh misteri." Ujar Lintang sambil tertawa kecil.
"Mama tuh suka jahil." Timpal Willy terkekeh geli.
"Yuk, kita ke bawah, udah ditungguin deh kayaknya." Lintang melepaskan pelukannya lalu menggendong Alvaro yang juga sudah begitu lucu dengan baju bermotif warna biru muda.
Keduanya turun dari lantai atas menuju ke bawah. Di sana telah menunggu Mama dan juga Papa. Mereka juga telah rapi. Mereka masuk ke dalam mobil, Pak Tejo yang menyupir. Mama juga membawa Asri, salah satu asisten rumah tangga mereka untuk menjaga Alvaro nantinya.
"Kita mau kemana sih, Ma?" Willy bertanya di tengah perjalanan mereka.
"Ada acara pokoknya, ikut aja ya." Sahut Mama penuh teka teki.
Willy mengangkat bahunya, membiarkan Mama membawa mereka. Lintang yang duduk di samping Willy jadi bertanya-tanya sebenarnya kemana Mama akan mengajak mereka. Namun ia tidak mau banyak bertanya, lebih baik ikut saja lah.
Sampai akhirnya mobil memasuki sebuah tempat yang telah ramai oleh tamu. Ada sebuah restoran yang nampaknya baru, Lintang belum pernah ke sana. Dan tunggu dulu, kenapa ada banyak anggota keluarga besarnya di sana. Dan lagi mengapa ada banyak sekali ucapan selamat dalam karangan bunga di sekitar restoran. Ia menatap Willy yang juga menatapnya bingung. Dan mengapa namanya ada di atas restoran itu.
__ADS_1
"Ma...?" Lintang menatap mamanya. Mereka masih berada di dalam mobil yang akan segera parkir.
Miranti mengangguk sambil tersenyum manis.
"Ini restoran kamu, Lin." Ujar Miranti lagi. Lintang tercengang, sama sekali tidak menyangka. Ia menatap restoran dengan nama " Selera Lintang " itu terperangah. Willy yang berada di sampingnya juga tak kalah terkejut namun di detik berikutnya, ia tersenyum dan mencium pipi istrinya berulang kali.
Willy menatap Mama, mengucapkan terima kasih lewat sorot mata teduhnya. Ia berterima kasih atas kejutan istimewa ini.
"Mama dan Papa sudah lama sekali menyiapkan ini. Kakek sudah lama ingin memberikan Lintang sebuah usaha, dan sekarang kami lah yang mewujudkannya. Lintang suka memasak, ia pintar mengolah masakan, sepertinya usaha restoran dan kuliner seperti ini lah yang cocok untuknya." Ujar Papa menjelaskan.
"Ma, Pa, makasih banyak." Lintang terharu sekali, airmatanya tanpa terasa turun satu persatu.
Mama dan Papa mengangguk, Alvaro tenang saja dalam gendongan Asri. Kepalanya bergerak gerak lucu, ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan orang-orang dewasa ini.
"Ayo, kita sambut para tamu. Hari ini peresmian restoran baru kamu."
Sayang, acara itu tidak dihadiri oleh Zacky. Lelaki itu tidak bisa hadir karena sibuk sekali di perusahaan barunya.
"Lintang, selamat ya atas peresmian restorannya." Tante Monik mencium kedua pipi Lintang dan memeluknya.
"Terima kasih ya, Tante." Lintang membalas hangat.
Satu persatu para tamu mendatanginya, memberi ucapan selamat dan mendoakan kesuksesan untuk usaha barunya. Lintang terharu sekali, hidupnya benar-benar sempurna dan luar biasa.
"Lin, ayo kita gunting pita nya." Miranti menggandeng lengan Lintang menuju sebuag pita panjang yang membentang di depan pintu besar restoran itu.
Semua orang bersorak, dan pada hitungan ketiga pita itu terputus jadi dua menandakan restoran itu akan segera resmi dibuka.
__ADS_1
Para tamu bertepuk tangan. Lintang memeluk Ibu Mertuanya seraya mengucapkan terima kasih berulang kali. Kemudian ia menghampiri Willy dan memeluk suaminya itu erat. Willy membalas pelukan itu penuh cinta. Ia bahagia, kini Lintang bisa mewujudkan cita-citanya.
Ia juga menghampiri Alvaro, mencium putra gembul nya itu penuh rasa sayang. Kebahagiaan benar-benar sempurna ia dapatkan. Willy mengajak Lintang untuk bergabung dengan para tamu undangan.
Mereka berbaur, bercengkrama dengan hangat dalam obrolan yang akrab dan menyenangkan.
...****************...
Lintang menatap restoran bertema Nusantara itu penuh syukur. Tempat itu kini telah sepi dari tamu undangan. Ayah dan Ibu Mertua masih sibuk dengan Alvaro.
"Aku gak nyangka mama bisa berpikir jauh seperti ini. Sama sekali gak nyangka." Ujar Lintang sambil tersenyum.
"Ini semua adalah hadiah yang pantas kau dapatkan, sayang." Willy mendekat, meraih Lintang dalam rengkuhan.
"Kak aku bahagia." Ujar Lintang lirih, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Kita semua bahagia, Lin. Semangat ya sayang, semoga apa yang kita harapkan semua berjalan lancar." Sahut Willy mempererat rengkuhan hangatnya.
Ibu dan Ayah mertua menghampiri mereka. Alvaro kini telah berada di dalam gendongan Asri. Mereka berjalan menuju mobil untuk kembali ke rumah. Restoran itu akan buka satu minggu lagi, karena mereka harus mencari karyawan yang cukup banyak mengingat restoran itu lumayan besar dan luas.
Mobil melaju, menuju rumah induk. Tidak ada yang bisa diucapkan Lintang selain kata syukur berulang kali. Hidupnya sempurna kini. Ia mendapatan mertua dan suami yang sangat menyayanginya, ia memiliki anak yang lucu dan tampan seperti ayahnya. Ia mendapatkan lebih dari doa yang selama ia pinta.
Lintang memeluk Willy, bersandar di dada bidang suaminya yang kokoh, tempat ternyaman yang paling ia sukai. Ia dan Willy saling menatap penuh cinta. Lintang tidak ingin minta apa-apa lagi. Kebahagiaan dan keberkahan hidupnya melimpah. Tuhan maha baik.
Kemarin doa yang ia panjatkan setiap waktu adalah bisa meluluhkan hati William, saat pria itu masih membencinya. Dan kini yang ia dapatkan malah lebih dari itu. Benar pesan Kakeknya dulu, dalam perbincangan sederhana saat ia sedang membantu kakek di toko mereka.
"Lin, bersabarlah terhadap semua masalah yang menerpamu. Berusahalah bangkit dari semua keterpurukan. Berjalanlah walau tertatih. Kenangan buruk tinggalkan saja di belakang, masa depan tidak pula perlu dipusingkan. Tuhan akan memberi lebih dari yang kita minta. Berbuatlah kebaikan, berusaha tetap bersabar untuk menyempurnakan segalanya."
__ADS_1
Lintang telah menerapkan semua nasihat itu dengan sungguh-sungguh, dan kini ia telah mendapatkan kebahagiaannya, buah dari keikhlasan hatinya selama ini.