Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
TAMAT . Dia Istriku, Dia Bukan Pembantuku.


__ADS_3

Lintang membuka tirai, pagi menyapa lewat hangatnya sinar mentari. Lintang menuju ke teras kamar. Ia menghirup udara pagi yang begitu sejuk. Pagi ini ia bangun lebih segar dari biasa.


Willy menghampirinya masih mengenakan jubah tidur, Ia memeluk Lintang dari belakang. Istri cantiknya semakin hari semakin menantang. Willy mencium leher Lintang, merengkuh pinggang ramping istrinya itu.


"Aku kira Kakak masih tidur." Desah Lintang, suaranya mengawali pagi membuat Willy jadi berenergi.


"Aneh rasanya, tidak merasakan keberadaan mu di atas ranjang kita." Sahut Willy mesra.


"Apa Al sudah bangun?" Tanya Lintang.


"Belum, putra kita sedang nyaman dalam mimpinya."


"Sayang, ada banyak sekali lamaran yang masuk untuk restoran kita." Kata Lintang. Semalam ia telah menerima bertumpuk amplop coklat yang berisi surat lamaran kerja.


"Aku akan membantumu memilih pegawai dan mana saja berkas yang akan dipanggil untuk interview."


"Terima kasih suamiku." Lintang berbalik dan mengecup bibir Willy lembut.


Keduanya larut dalam perasaan bahagia. Willy hari ini tidak masuk ke perusahaan karena akan membantu istrinya memilih berkas mana saja yang akan dipanggil untuk ikut wawancara kerja.


Lintang akan berusaha semaksimal mungkin untuk usaha barunya. Ia akan mengajarkan para koki di restoran mereka dengan resep-resep barunya. Semoga semua usahanya berjalan lancar. Ia juga tetap akan meneruskan kuliah yang tinggal beberapa semester lagi. Setelah lulus ia akan fokus pada restoran.


Lintang kuliah di jurusan bisnis, atas usul dari Kakek Franky dulunya. Ia kagum, Kakek Franky benar-benar telah dengan begitu matang mempersiapkan masa depan yang begitu sempurna untuknya. Alvaro akan banyak menghabiskan waktu di rumah induk. Lintang tidak akan melupakan perannya sebagai ibu meski ia akan sibuk sekali nantinya.


Lintang tidak bisa menahan airmata haru dan bahagia. Cairan bening itu menetes perlahan, mengiringi rasa syukur yang ia panjatkan berulang kali di dalam hati.


"Hey, kenapa menangis, istriku?" Willy memegang pundak Lintang.


"Aku benar - benar terharu, Kak." Lintang menyeka airmatanya itu. Ia tersenyum.


"Sayang, kau pantas mendapatkan semua ini."


"Kak Willy, kalau saja Ibuku masih hidup, tentu ia akan sangat bahagia sekali sekarang." Ujar Lintang lirih.

__ADS_1


"Ibu telah bahagia, sayang. Ia melihatmu tersenyum dari surga sana." Willy menunjuk ke langit luas.


"Iya, Kak. Semoga Ibu dan mereka yang telah pergi lebih dulu mendapatkan kebahagiaan juga di alam sana."


" Tentu saja sayangku." Willy mengecup kening Lintang dengan lembut dan mesra.


"Nanti kita ke makam Ibu dan Kakek ya Kak." Ujar Lintang yang segera di iyakan oleh suaminya.


"Kau rindu pada mereka?"


"Ya, aku sangat merindukan mereka."


"Kemari lah, biarkan aku memelukmu lama pagi ini." Willy merentangkan kedua tangannya lebar. Lintang masuk, memeluk tubuh atletis itu penuh cinta dan kasih sayang.


...****************...


Lintang menggendong Alvaro dan membawanya turun. Ia mengajak anaknya itu untuk menghampiri nenek yang sedang sibuk di dapur dengan para pelayan. Terdengar Mama sedang berkelakar dengan para pelayan, suasananya jadi ramai sekali.


Lintang senang melihat keakraban itu. Semua pelayan sangat setia dan sangat menyayangi Miranti, majikan mereka. Meski Miranti seorang Nyonya besar di rumah itu, ia tetap tidak sombong. Kepribadiannya yang hangat dan sederhana namun tegas itu disukai para pelayan yang bekerja di rumah induk.


"Baik bu, sebentar saya ambilkan." Asri bergerak menuju box khusus tepung lalu menyerahkan pada Nyonya besar.


"Eh cucu nenek sudah bangun. Sudah wangi." Ibu Mertua mencium cucu gantengnya itu gemas.


"Mbok, lanjutkan ya." Ia menyerahkan tepung dan beberapa bahan lain kepada Mbok Nah yang langsung sigap mengambil alih.


Miranti mencuci kedua tangannya, melepaskan celemek lalu mengambil Alvaro dari gendongan Lintang. Mereka berjalan meninggalkan dapur menuju ruang keluarga.


"Coba duduk, ya." Miranti meletakkan Al di atas karpet tebal dan berbulu lembut itu. Anak itu langsung tertawa seketika membuat Miranti senang bukan kepalang.


"Pinter cucu Nenek, udah bisa duduk." Ia tertawa dan menjawil hidung cucunya. Al lagi-lagi tertawa.


"Ma, Lintang ke atas ya sebentar."

__ADS_1


Miranti mengangguk dan kembali sibuk bermain dengan cucunya.


Lintang masuk ke dalam kamar, ia melihat Willy telah selesai mandi. Suaminya telah berpakaian rapi.


"Ikut aku ya." Ujarnya pada Lintang yang juga sudah cantik dengan rok jeans dan kaus santai berwarna merah mudanya.


"Kita kemana, Kak?" Tanya Lintang.


"Mengajakmu bersenang-senang." Kerling Willy nakal.


Lintang mencubit gemas perut suaminya itu. Willy menghampiri Lintang, memeluknya hangat dan erat. Memeluk Lintang baginya seperti obat. Kala banyak sekali pekerjaan dan pulang dalam keadaan lelah, ia akan mencari Lintang kemudian memeluk istrinya itu dan rasa lelahnya akan segera hilang.


Seperti saat ini, ia sangat menyukai tubuh Lintang yang berada di dalam pelukan hangatnya. Lintang bak candu. Willy tidak bisa menghindari itu. Ia selalu merasa rindu. Sangat sulit sekali jauh. Resah hati dan pikirannya jika tak bertemu. Oh sekuat itukah perasaan itu?


Willy bersyukur masih diberikan kesempatan untuk bisa meraih cinta Lintang. Ia bersyukur cepat sadar dari semua perbuatan jahatnya selama ini. Ia bersyukur Lintang mau memaafkannya. Segalanya hanya tentang Lintang. Ia juga menyesal dulu hanya menganggap Lintang angin lalu, berlaku kasar seenak hati dan menganggapnya hanya seorang pembantu.


Tapi kini, ia mengerti, setiap sesuatu yang akan berakhir bahagia pasti akan melewatkan banyak cobaan dan juga rintangan. Harus ada yang berkorban demi kebahagiaan itu dan Lintang, ia telah banyak berkorban.


Willy juga berterima kasih pada Zacky, yang secara tidak langsung telah menyadarkannya akan kehadiran Lintang yang ternyata amat berarti untuk hidupnya. Kepada Zacky yang telah dengan lapang menerima kekalahannya dalam meraih hati Lintang, ia sangat berterima kasih. Untuk semua kesalahpahaman diantara mereka berdua selama ini juga ia sangat menyesal.


"Lintang, Aku tidak terlambat bukan?" Tanya Willy. Ia melepaskan pelukannya, menatap Lintang yang juga sedang menatapnya.


" Terlambat apa, Kak?"


"Aku tidak terlambat untuk mencintaimu, bukan?" Ia ingin memastikan hati Lintang untuknya.


Lintang meraih satu telapak tangan Willy lalu meletakkannya di atas dadanya.


"Kau selalu ada disini, Kak. Bersemayam dengan gagah ditempat ini."


Willy tersenyum dan mengangguk. Ia percaya ia tidak terlambat. Lintang juga mencintai dirinya. Mereka benar saling mencintai. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi ketidakpastian. Hidupnya bahagia, hidupnya sempurna. Lintang selamanya akan menjadi miliknya, begitu pun Willy sebaliknya.


Mereka sadar biduk rumah tangga tidak akan selamanya lancar dan aman. Akan ada saja kerikil yang membuat mereka tersandung, kesalahpahaman dalam rumah tangga itu hal biasa. Mereka hanya perlu saling mendewasakan dalam setiap langkah. Saling mengingatkan ketika melakukan salah. sederhana itu.

__ADS_1


Willy melihat foto dirinya dan Lintang dalam balutan baju pengantin di dalam kamar, dibelakang Lintang yang tengah berada dalam pelukannya. Foto sakral yang tersenyum, foto besar itu jadi bukti cinta mereka yang telah bersemi hingga kini.


Kau istriku, kau bukan pembantuku. Batin Willy di dalam hati.


__ADS_2